Anak dan Perilaku Body Shaming

tips parenting dalam menghadapi perilaku body shaming di lingkungan anak-anak

Dunia anak-anak memang beragam dan penuh warna. Hubungan sosial pada usia anak-anak pun menarik, lantaran kerap diisi dengan tangis sekaligus tawa. Tak jarang hari-hari mereka diisi oleh ejekan atau sederet perilaku tak mengenakan verbal lain, termasuk perilaku body shaming.

Mungkin ada sebagian orang yang asing dengan istilah body shaming. Namun, tentu kita tak aneh lagi mendengar ejekan tentang bentuk tubuh di antara anak-anak. Ya, itu sama saja. Perilaku body shaming adalah melontarkan komentar negatif terhadap bentuk fisik seseorang dengan tujuan mempermalukan orang tersebut.

Perilaku body shaming masuk ke dalam jenis verbal bullying. Perilaku tersebut pada titik tertentu bisa berujung serius lantaran dampak kepada korban amat dalam, mulai rasa marah hingga korban kehilangan rasa percaya dirinya.

Anak Anda mungkin pernah menjadi pelaku atau bahkan korban dari body shaming di lingkungan sosialnya. Lantas, sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan soal perilaku body shaming pada usia anak-anak ini?

  • Jika Anak Menjadi Korban

Kenyataan bahwa bentuk tubuh manusia yang unik dan merupakan pemberian terbaik Tuhan, kadang, tak cukup dapat membendung perilaku body shaming. Ada saja celah bagi para pelaku untuk mencari cela dengan tujuan mengejek korban. 

Beberapa tindakan di bawah perlu Anda lakukan jika mengetahui anak menjadi korban perilaku body shaming di lingkungan sosialnya:

  • Dengarkan keluhannya

Sebisa mungkin cobalah menahan diri dan tetap bersikap tenang, meskipun kondisi anak kita cukup mengkhawatirkan. Biarkan mereka meluapkan emosinya terlebih dahulu, beri pelukan atau usapan di punggung bila memungkinkan. 

Setelah kita dan anak sama-sama sudah dapat menguasai diri, tanyakan pada mereka bagaimana perilaku body shaming tersebut diterima dan dengarkan cerita mereka dengan seksama.

  • Berilah dukungan

Saat menjadi korban perilaku body shaming, keadaan mental mereka mungkin terpuruk. Kalimat dukungan atau yang bernada membangun dibutuhkan agar dirinya tetap merasa berharga. 

Berilah pengertian bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda dan setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, sehingga dia tidak perlu merasa bersedih karena memiliki rambut, kulit, ukuran tubuh tertentu. 

Tanamkan kepada anak Anda bahwa apa yang kita lakukan jauh lebih penting dari penampilan kita. Yang paling penting, ungkapkan bahwa kita menyayanginya apa adanya.

  • Beri pengertian untuk menghadapi pelaku

Mengabaikan ejekan teman alih-alih balas mengejek mungkin bisa menjadi langkah pertama. Namun, jika dia masih menerima body shaming dari temannya, ajarkan anak untuk tegas mengatakan bahwa perilaku itu mengganggu.

Andai pelaku tak juga berhenti, katakan dengan tegas kepada anak Anda bahwa itu berarti dia harus mencari teman yang lebih baik lagi dan meninggalkan teman yang membawa pengaruh buruk tersebut.

  • Intervensi jika meresahkan

Bila cara halusnya tidak membuat perilaku body shaming mereda, kita bisa membantunya melapor kepada sekolah, orang tua pelaku, atau bahkan menemui pelaku secara langsung, tergantung di mana hal tersebut terjadi.

  • Lalu, Bagaimana Jika Anak Anda Pelakunya?

Di sini peran Anda sebagai orang tua amat dibutuhkan agar anak bisa menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Namun, perlu diingat bahwa memberikan pengertian kepada anak sebaiknya tidak diiringi dengan rasa marah.Pasalnya, marah justru dapat membuat anak Anda menjadi pribadi yang jauh lebih keras. Alih-alih tidak lagi melakukan perilaku body shaming, bisa saja dia tumbuh sebagai pembangkang dan terus melestarikan tindak bullying tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *