Apa Penyebab Encopresis, Sebab Si Kecil Sering BAB di Celana?

Beberapa orang tua mungkin menganggap penyebab si kecil sering buang air besar atau BAB di celana karena memang belum bisa menahan untuk ke toilet atau memang belum terbiasa dengan toilet karena sebelumnya masih menggunakan diapers.

Mungkin memang awalnya seperti itu, namun bagaimana setelah anak melewati masa toilet training tetapi masih BAB di celana? Bila hal tersebut terjadi terlalu sering, mungkin saja si kecil mengalami encopresis atau enkopresisi, apakah itu dan penyebabnya?

Apa itu encopresis?

Enkopresis adalah saat anak-anak yang telah dilatih menggunakan toilet atau toilet training untuk buang air kecil ataupun BAB, namun malah mengelurkannya di celana mereka. Enkopresis bukanlah suatu penyakit, karena kemungkinan penyebabnya termasuk konstipasi kronis atau jangka panjang dan stres emosional.

Feses biasanya tidak sengaja dikeluarkan oleh anak ini dapat menyebabkan perasaan cemas, malu, dan bersalah pada anak. Umumnya, enkopresis ini terjadi pada anak usia di atas 4 tahun, di mana si kecil telah mendapatkan pelatihan toilet untuk kebutuhan BAB dan BAK. 

Penyebab encopresis

Enkopresis dapat disebabkan oleh faktor biologis, perkembangan, psikologis, dan lingkungan. Dan, berikut beberapa penyebab potensialnya meliputi:

  1. Sembelit

Dokter paling sering mendiagnosis enkopresis dengan sembelit kronis dan menahan buang air besar. Menurut penelitian, 90-95% dari anak anak dengan kondisi juga pengalaman sembelit dan retensi tinja. Tinja yang keras dan sulit dikeluarkan dapat berdampak pada rektum dan usus besar. Ini dikenal sebagai impaksi feses. Akhirnya, tinja cair mulai bocor di sekitar tinja yang keras.

Umumnya anak-anak akan menghindari mencoba BAB saat mereka mengalami sembelit karena rasa sakit yang ditimbulkan. Dan, hal ini dapat dapat memperburuk sembelit dan enkopresis.

  • Penyebab fisik lainnya

Penyebab fisik lain dari sembelit kronis dan encopresis meliputi:

  • Hipotiroidisme
  • Penyakit radang usus
  • Kerusakan saraf, sehingga sfingter anus tidak dapat menutup dengan benar, dan terjadi kebocoran
  • Infeksi rektal
  • Air mata dubur
  • Penyebab emosional dan psikososial

Ha lain yang menjadi pemicu enkopresis adalah masalah emosional. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak yang merasa stres atau masalah lainnya, meliputi:

  • Pelatihan toilet awal yang sulit 
  • Mulai sekolah baru
  • Pindah ke rumah baru
  • Kelahiran saudara kandung
  • Perceraian orang tua

Anak-anak dengan kondisi kesehatan mental atau lingkungan keluarga yang menantang mungkin lebih berisiko mengalami enkopresis. Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak dengan encopresis lebih mungkin memiliki:

  • Gejala kecemasan dan depresi
  • Perilaku yang lebih mengganggu
  • Kinerja sekolah yang buruk
  • Masalah sosial
  • Penyebab dan faktor risiko lainnya

Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko anak terkena encopresis dan sembelit, termasuk:

  • Menjadi laki-laki. Enkopresis kira-kira dua kali lebih umum di antara anak laki-laki daripada perempuan.
  • Mengalami gangguan perkembangan saraf. Memiliki Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Autism Spectrum Disorder (ASD) meningkatkan risiko enkopresis.
  • Minum obat tertentu. Beberapa obat yang sedang dikonsumsi, terutama yang menyebabkan sembelit, dapat meningkatkan risiko enkopresis.
  • Kebiasaan makan. Makan makanan tinggi lemak atau tinggi gula meningkatkan risiko sembelit kronis. Kekurangan asupan cairan juga meningkatkan risiko.
  • Menjadi tidak aktif. Anak-anak yang tidak cukup melakukan aktivitas fisik dapat mengalami sembelit.
  • Mencegah buang air besar. Anak-anak yang menghindari buang air besar karena terlalu sibuk bermain atau takut ke toilet umum, misalnya berisiko lebih besar mengalami sembelit.

Gejala Encopresis apda anak

Tanda dan gejala yang biasanya muncul pada si kecil dengan enkopresis, meliputi:

  • Perlu buang air besar tiba-tiba, dengan sedikit peringatan
  • Menghindari buang air besar
  • Tinja encer, hingga menyerupai diare
  • Sembelit
  • Sakit perut
  • Mengeluarkan kotoran yang sangat besar, keras dan kering
  • Menggosok daerah anus, karena nyeri
  • Menyembunyikan pakaian dalam yang terkena feses
  • Kehilangan selera makan
  • Perasaan stres, kecemasan, atau rasa bersalah

Pencegahan

Berikut beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk dapat membantu mencegah encopresis dan komplikasinya.

  • Hindari sembelit. Bantu anak untuk menghindari sembelit dengan memberikan pola makan seimbang yang tinggi serat serta mendorong anak untuk minum cukup air.
  • Pelajari pelatihan toilet yang efektif. Hindari mengajari pelatihan toilet terlalu dini atau terlalu memaksakan metode Anda. Tunggu sampai anak siap dan lakukan secara perlahan.
  • Lakukan pengobatan dini untuk encopresis. Perawatan dini, termasuk bimbingan dari dokter anak atau profesional kesehatan mental yang akan membantu mencegah dampak sosial dan emosional.

Dukungan dari orang tua atau pengasuh lainnya dapat memainkan peran penting dalam membantu anak mengatasi encopresis. Sangat penting juga untuk tidak mempermalukan, menyalahkan, atau menghukum anak-anak dengan enkopresis. Sebaliknya, lebih bersabar, pengungkapkan hal-hal positif pada anak, dan dukungan dapat memabntu si kecil belajar mengatasi tekanan emosional dan mengembangkan kebiasaan buang air besar di celana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *