Benarkah Hukuman Fisik Memberik Manfaat Disiplin pada Anak?

Disiplin menjadi kunci penting bagi seseorang untuk meraih keberhasilan. Karena manfaat disiplin sangatlah besar, orang tua diharapkan mampu mengajarkan disiplin pada anak sejak belia. 

Lalu sebenarnya bagaimana cara yang baik dan benar dalam mengajari anak agar bisa disiplin?

Manfaat disiplin pada anak

Disiplin adalah kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dengan aturan yang ditetapkan, memahami jenis perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, dan bagaimana nantinya bisa menjadi seseorang yang bertanggung jawab.

Ada beragam metode atau pendekatan pengasuhan disiplin untuk anak. Tapi terlepas dari jenis disiplin yang digunakan orang tua, ada banyak manfaat disiplin yang bisa dirasakan oleh anak.

Dalam jangka panjang, berikut manfaat disiplin pada anak:

  1. Mengajarkan anak cara mengelola emosi

Saat seorang anak menerima hukuman karena memukul saudara laki-lakinya, dia mempelajari keterampilan mengelola amarah yang lebih baik di masa mendatang. 

Hukuman seperti waktu istirahat untuk intropeksi mengajarkan anak untuk menjauh dari situasi yang membuat marah sebelum dia bertindak lebih jauh dan mendapat masalah.

Strategi disiplin seperti memuji anak setelah melakukan hal yang baik juga membuat anak memahami kerja keras. 

  1. Membantu anak mengelola kecemasan

Anak-anak membutuhkan dukungan ketika mereka melakukan suatu hal. Terkadang orang tua menjadi terlalu cemas dan pesimis, padahal hal ini berdampak besar pada kepercayaan diri anak.

Dengan mengajarkan disiplin seperti konsekuensi positif dan negatif atas hal yang dilakukan, anak akan tumbuh dan belajar memahami. Anak akan lebih berani dalam bertindak tanpa harus merasa cemas. 

  1. Disiplin membuat anak merasa aman

Karena anak sudah mengetahui konsekuensi dari perilaku, anak jadi lebih bisa menjaga dirinya sendiri. Misalnya, melihat ke kiri dan kanan sebelum menyebrang jalan, atau membatasi makanan cepat saji agar tidak mengalami risiko kesehatan yang serius.

  1. Membantu anak membuat pilihan yang baik

Disiplin yang sehat membuat anak belajar keterampilan kontrol diri, pemecahan masalah, dan alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Misalnya, anak tidak ragu membantu lansia untuk menyebrang jalan. 

Bolehkah mendisiplinkan anak dengan memberi hukuman fisik?

Salah satu pertanyaan mendasar yang paling banyak ditanyakan adalah bolehkah memberi hukuman fisik ketika mengajarkan disiplin pada anak. 

Hukuman dan hadiah memang menjadi komponen penting agar anak disiplin. Orang tua yang menerapkan metode ini beralasan hal tersebut lebih efektif bagi anak untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau sebagai pencegah. Maka tak jarang cara ini menimbulkan pro dan kontra. 

Namun apakah klaim di atas terbukti benar? Berikut ini beberapa efek samping menerapkan hukuman fisik pada anak:

  • Anak cenderung tidak mengembangkan perilaku positif yang diinginkan orang tua

Ketika anak mendapatkan hukuman fisik atau menegurnya dengan cara kasar, anak mungkin akan segera melakukan perintah Anda. Namun hal itu dikarenakan anak tidak ingin menerima perlakuan tersebut. Sayangnya anak tidak akan menampilkan perubahan positif tapi justru terus melakukan hal yang sama.

  • Anak tidak akan belajar menangani kemarahan

Orang tua adalah contoh bagi anak-anaknya. Ketika Anda marah atau menghukum Anak, misalnya memukul, maka anak akan belajar untuk melepaskan kemarahan dengan hal yang sama. 

  • Hukuman fisik mempengaruhi harga diri anak

Hukuman fisik membuat anak sulit untuk belajar menjaga diri sendiri, serta menjadi tidak peduli terhadap hal yang baik untuknya. Anak juga berisiko mengembangkan kecemasan yang tinggi.

Pada kenyataannya, hukuman fisik lebih sebagai sarana menyalurkan ego dan kemarahan orang tua terhadap anak, dibandingkan mengajari anak cara untuk berperilaku dengan baik. 

Cara melatih disiplin pada anak

Tanggung jawab sebagai orang tua adalah membantu anak menjadi pribadi yang mandiri, menghargai, dan mampu mengendalikan diri sendiri. 

Untuk mengajari anak disiplin, American Academy of Pediatrics, American Association of Child and Adolescent Psychiatry, dan National Mental Health Association merekomendasikan cara berikut:

  • Hadiahi perilaku yang baik. Tak selalu dalam bentuk benda, pujian juga mampu menguatkan respon positif anak.
  • Biarkan konsekuensi alami. Anak akan jera jika mengalami sendiri konsekuensi dari perilakunya, misalnya terjatuh setelah melompat-lompat di atas kursi. Anda tak perlu lagi menasihatinya. Namun pastikan konsekuensi yang mungkin mereka alami tidak berbahaya.
  • Memberikan konsekuensi logis. Untuk hal yang berbahaya, Anda bisa memberi tahu dampak perilaku secara logis. Misalnya, saat tidak berhati-hati dalam menyebrang jalan. Anda juga bisa mengombinasikan cara ini dengan memberi konsekuensi alami seperti memberi tahu anak untuk segera membereskan mainannya jika tidak anak tak boleh memainkannya selama seminggu. 
  • Mengambil hak istimewa anak. Cara ini digunakan sebagai alternatif konsekuensi logis atau alami. Misalnya jika anak tidak mau menyelesaikan pe er tepat waktu, maka anak tidak boleh menonton tv malam itu. 
  • Berikan waktu menyendiri. Waktu menyendiri umumnya digunakan sebagai waktu intropeksi anak atas kesalahannya. Anda bisa menetapkan lokasi khusus yang tenang dan membosankan (bukan kamar tidur atau kamar mandi), dan menetapkan durasinya. 

Catatan

Menjadi orang tua memang tanggung jawab yang berat. Anda harus berhati-hati dalam memberikan hukuman pada anak. 

Hukuman fisik tidak menghasilkan manfaat disiplin yang bertahan lama pada anak. Jika Anda bingung menentukan gaya pengasuhan yang cocok untuk anak Anda, disarankan untuk meminta bantuan psikolog anak atau konselor. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *