Cara Kerja Antigen Rapid Test untuk Mendeteksi Virus

Antigen rapid test menjadi salh satu metode pmeriksaan yang bertujuan mendeteksi adanya virus korona secara cepat. Metode tersebut sering digunakan pada kelompok orang yang bergejala.”

Antigen rapid test menjadi salah satu metode pemeriksaan yang digunakan dalam diagnosis patogen pernapasan, termasuk virus influenza dan virus syncytial pernapasan. Di masa pandemic Covid-19, Food and Drug Administration (FDA) AS telah memberikan otorisasi penggunaan darurat (EUA) untuk tes antigen yang dapat mengidentifikasi SARS-CoV-2.  

Bagaimana Pengujian Antigen untuk Covid-19?

Antigen rapid test merupa metode pemeriksaan Covid-19 yang bisa mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu. Metode pemeriksaan tersebut kini diizinkan untuk dilakukan pada spesimen usap nasofaring atau hidung yang ditempatkan langsung ke dalam buffer atau reagen ekstraksi uji.  

Antigen rapid test resmi saat ini sudah terdedia di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan termasuk di tempat perawatan, berbasis laboratorium, dan tes mandiri, yang bisa digunakan pada orang-orang dari segala usia.

Sebagian besar tes resmi saat ini mengembalikan hasil dalam waktu sekitar 15–30 menit.  Antigen rapid test untuk SARS-CoV-2 umumnya dinilai kurang sensitif jika dibandingkan dengan reaksi rantai PCR tes serta NAAT dalam mendeteksi untuk mendeteksi keberadaan asam nukleat virus.  

Hasil antigen rapid test penting untuk manajemen klinis yang akurat dari pasien atau orang yang diduga Covid-19. Selain itu, berguna untuk identifikasi orang yang terinfeksi saat skrining. 

Karena antigen rapid test bekerja paling baik pada orang yang bergejala dan dalam beberapa hari tertentu sejak timbulnya gejala, antigen rapid test sering digunakan pada orang yang bergejala. Metode pemeriksaan tersebut juga informatif dalam situasi pengujian diagnostik di mana orang tersebut diketahui telah terpapar dengan seseorang dengan Covid-19. 

Akumulasi data tentang kinerja tes antigen dalam situasi yang berbeda telah membantu memandu penggunaan tes ini sebagai tes skrining pada orang tanpa gejala untuk mendeteksi atau mengecualikan infeksi SARS-CoV-2.

Cara kerja antigen rapid test

Alat uji antigen rapid test ditujukan untuk deteksi kualitatif antigen nukleokapsid dari SARS-CoV-2 pada usap hidung manusia atau usap tenggorokan. Hal itu dilakukan pada individu yang diduga terjangkit atau terapar Covid-19 oleh penyedia layanan kesehatan mereka dalam lima hari pertama sejak  timbulnya gejala. 

Pengambilan sampel untuk deteksi SARS-CoV-2 dengan antigen rapid test sebagian besar bergantung pada spesimen nasofaring. Yakni, sampel yang diambil dari bagian atas faring. Hal itu tentu sulit untuk diakses. Apabila tanpa instruksi yang tepat, individu mungkin tidak mengumpulkan sampel yang memadai untuk pengujian. 

Selain itu, sampel test yang tidak didapatkan dengan benar kemungkinan juga tidak mengandung jumlah virus yang cukup untuk dideteksi. Tanpa pengumpulan sampel yang tepat, tes tersebut dapat memberikan hasil negatif palsu dan menunjukkan bahwa individu tersebut tidak terinfeksi. 

Meski begitu, terdapat beberapa keuntungan dari antigen rapid test. Salah satunya, kecepatan tes yang dapat memberikan hasil dalam hitungan menit sekitar 15 hingga 30 menit. 

Namun, antigen rapid test mungkin tidak mendeteksi semua infeksi aktif. Sebab, mereka tidak bekerja dengan cara yang sama seperti tes PCR.  Tes antigen sangat spesifik untuk virus, tetapi tidak sesensitif tes PCR molekuler.  

Artinya, hasil positif dari antigen rapid test sangat akurat, tetapi ada kemungkinan negatif palsu yang lebih tinggi, sehingga hasil negatif tidak mengesampingkan infeksi. Agar lebih akurat, hasil negatif dari antigen rapid test perlu dikonfirmasi dengan tes PCR sebelum membuat keputusan pengobatan atau guna mencegah kemungkinan penyebaran virus karena negatif palsu tersebut. 

Kenapa antigen rapid test perlu dilakukan? 

Sebagai skrining awal infeksi virus corona pada orang yang berisiko tinggi mengalaminya, antigen rapid test menjadi metode pemeriksaan yang tepat. Sebagaimana pasien dalam pengawasan (PDP) dengan hasil antigen rapid test positif yang perlu dianjurkan ke rumah sakit rujukan Covid-19 guna menjalani pemeriksaan PCR. 

Karena itulah, antigen rapid test menjadi tes skrining awal, sedangkan pemeriksaan PCR tetap menjadi tes konfirmasi dalam mendeteksi virus korona. 

Siapa saja yang membutuhkan antigen rapid test? 

  • Orang tanpa gejala atau (OTG). Terutama OTG pernah melakukan kontak minimal 7 hari dengan pasien positif Covid-19 atau memiliki risiko tertular dari penderita. Misalnya, petugas kesehatan dan sebagainya.
  • Orang dalam pemantauan (ODP) 
  • Pasien dalam pengawasan (PDP) 
  • Kelompok orang dengan profesi yang mengharuskannya melakukan kontak dengan banyak orang. Di antaranya, pengemudi ojek online, petugas bandara, kurir, pejabat publik, polisi, tentara, dan sopir kendaraan umum.

Kapan waktu yang tepat untuk menjalani antigen rapid test? 

Antigen rapid test lebih efektif jika dijalani pada 7 hari setelah Anda terpapar virus korona. Batas waktu tersebut diperlukan agar pemeriksaan yang dilakukan lebih efektif sehingga antibodi yang terbentuk dalam tubuh pasien akibat infeksi, yakni IgG dan IgM bisa terdeteksi.

Dua immunoglobulin tersebut merupakan jenis antibodi yang akan terdeteksi melalui antigen rapid test. Namun apabila Anda mengalami gejala yang mencurigakan yang berat, segeralah periksakan diri Anda ke dokter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *