Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?
Bayi & Menyusui

Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?

Sebagian besar bayi sudah menumbuhkan gigi pertama mereka di usia 4 bulan. Namun, bagaimana jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi?

Perkembangan setiap bayi berbeda-beda. Bayi dalam perkembangan lambat mungkin baru menumbuhkan gigi pertama di usia 7 bulan.

Bahkan ada beberapa kasus bayi belum tumbuh gigi hingga usia 8 bulan, padahal perkembangan lainnya tampak signifikan.

Wajar jika Anda merasa khawatir sebagai orang tua, tapi sebenarnya kondisi bayi 8 bulan belum tumbuh gigi ini tidak terlalu serius.

Tidak ada gigi di usia 8 bulan, haruskah khawatir?

Singkatnya, Anda tidak perlu khawatir. Usia bayi menumbuhkan gigi pertamanya begitu beragam, setiap kasus berbeda-beda.

Seperti yang disebutkan di atas, mayoritas bayi menumbuhkan gigi pertamanya di rentang usia 4-7 bulan. Namun, tetap ada kondisi ekstrem yang harus Anda perhatikan.

Contohnya, ada bayi yang langsung memiliki gigi ketika terlahir. Ada pula yang belum juga menumbuhkan gigi sampai ulang tahun pertama.

Jika bayi Anda belum tumbuh gigi di usia 8 bulan, kemungkinan besar pertumbuhan mereka sedikit terlambat.

Meski begitu, pada akhirnya gigi tersebut akan tumbuh. Jadi Anda tidak perlu khawatir.

Kapan harus mulai khawatir?

Anda tidak perlu khawatir jika gigi si kecil belum juga tumbuh di usia 8 bulan. Namun, ada batasan tertentu yang harus Anda perhatikan.

Segera temui dokter jika gigi si kecil belum tumbuh hingga usia 18 bulan. Memang setiap bayi berbeda-beda, bahkan ada yang baru menumbuhkan gigi pertama di usia 15 bulan. 

Namun, lebih dari itu bisa dianggap abnormal. Sebagian besar bayi sudah memiliki minimal 4 gigi di usia 11 bulan dan mencapai 12 gigi di usia 19 bulan.

Tanda-tanda dan gejala tumbuh gigi

Tanda-tanda yang ditunjukkan setiap bayi berbeda-beda. Namun, secara umum ada beberapa gejala dan pertanda tumbuh gigi seperti:

  • Gusi bengkak dan melunak
  • Rewel dan menangis
  • Suhu badan sedikit meningkat
  • Ingin mengunyah benda-benda alot
  • Air liur melimpah
  • Batu-batuk
  • Menggosok pipi dan menarik telinga
  • Mendekatkan tangan ke mulut
  • Perubahan pola makan atau tidur

Tumbuh gigi bisa menyakitkan, tapi umumnya si bayi tidak sampai sakit parah. Segera hubungi dokter jika muncul penyakit lain seperti diare, muntah-muntah, ruam, demam tinggi, atau batuk.

Anda juga harus segera menemui dokter jika melihat gusi bayi berdarah atau ada pembengkakan wajah berlebihan.

Urutan tumbuh gigi

Urutan dan waktu tumbuh gigi setiap bayi berbeda dan mungkin dipengaruhi oleh riwayat keluarga. Namun, pada umumnya dua gigi seri bagian bawah tumbuh terlebih dahulu, diikuti oleh dua gigi seri bagian atas.

Setelahnya diikuti oleh gigi seri lainnya, gigi taring, baru gigi geraham depan. Geraham belakang adalah gigi yang terakhir tumbuh.

Pada akhirnya, bayi akan memiliki 20 gigi susu, biasanya di usia 3 tahun.

Catatan

Demikian informasi mengenai proses pertumbuhan gigi bayi delapan bulan. Perlu diingat, kecepatan perkembangan setiap bayi berbeda-beda.

Anda tidak perlu khawatir jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi. Tentu, ada beberapa batasan yang juga perlu Anda perhatikan.

Bayi & Menyusui

Bosan Dengan Milna Goodmil Hypoallergenic? Ganti Dengan Cemilan Ini!

Milna Goodmil Hypoallergenic bubur untuk bayi berumur lebih dari enam bulan yang bisa menjadi makanan pendamping selain ASI. Milna goodmil hypoallergenic ini diperkaya Protein, Lemak (termasuk Omega 3 dan 6), Karbohidrat (termasuk Prebiotik FOS), dan 25 Vitamin dan Mineral agar tumbuh kembang bayi menjadi lebih baik. Tersedia dalam kemasan box dengan berat 160 gram.

Milna Goodmil Bubur Khusus Beras Merah Pisang 6+ - 120 g harga terbaik

Meski begitu, jika si kecil bosan dengan tekstur dari Milna goodmil hypoallergenic, Anda bisa menggantikan dengan membuatkan cemilan sehat untuk si kecil. Akan tetapi Anda harus memperhatikan hal ini ketika ingin membuat cemilan.

  1. Tanpa pengawet

Makanan kemasan memerlukan daya simpan yang lebih lama agar tidak cepat rusak. Untuk itu, produsen pun menambahkan pengawet. Namun, pengawet pada makanan dapat berdampak negatif bagi kesehatan bayi. Studi yang diterbitkan pada jurnal Allergy menyebutkan, pengawet mampu memunculkan gejala alergi, seperti eksim, asma, dan rhinitis.

  1. Rendah lemak dan gula

Asupan gula dan lemak memang diperlukan untuk tubuh bayi. Namun, jika Anda memberikan cemilan bayi yang tinggi gula dan lemak jenuh, seperti biskuit kemasan, ini justru tidak sehat. Menurut riset terbitan Nutrients, makanan yang diberi tambahan gula dan mengandung lemak jenuh dapat meningkatkan risiko obesitas pada bayi sampai beranjak dewasa nanti. Selain itu, penelitian berbeda dari terbitan jurnal yang sama juga menemukan adanya kandungan garam tinggi pada cemilan bayi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan hipertensi saat dewasa.

  1. Tekstur sesuai dengan usianya

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagi ragam tekstur makanan berdasarkan usianya. Ada tiga pembagian rentang usia, yaitu:

  • Usia 6-9 bulan, tekstur yang diberikan sebaiknya berupa bubur kental yang disaring (puree) atau dilumat (mashed).
  • Usia 9 bulan-1 tahun, berikan cemilan bayi yang sehat dengan tekstur cincang halus, kasar, ataupun makanan yang bisa digenggam oleh tangan (finger food).
  • Usia 1-2 tahun, tekstur MPASI cemilan yang diberikan sebaiknya dicincang atau dihaluskan seperlunya.

Jadi, dengan memperhatikan hal tersebut Anda bisa membuat finger food sebagai alternatif makanan utama maupun cemilan untuk bayi, berikut beberapa pilihan yang bisa dicoba.

  1. Sayuran rebus

Sayur bisa menjadi finger food untuk bayi yang sangat direkomendasikan. Pasalnya, sayuran mengandung banyak nutrisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Anda bisa memilih sayuran untuk bayi seperti wortel, kentang, ubi, atau brokoli. Potong ukuran sayuran menjadi lebih kecil sehingga mudah digenggam oleh bayi Anda. Kemudian, rebus sayuran hingga teksturnya lunak sehingga mudah dikunyah.

  1. Buah yang teksturnya halus

Buah yang sudah matang memiliki daging buah yang lunak. Ini merupakan makanan yang sangat cocok dimakan bayi dengan tangannya sendiri. Anda bisa menyiapkan buah pisang, semangka, pepaya, mangga, atau alpukat. Buah-buahan tersebut bukan hanya mengenalkan beragam rasa makanan pada anak, tapi juga memenuhi kebutuhan gizinya. Sebelumnya, cuci buah dengan air bersih mengalir dan kupas bagian kulitnya. Kemudian, buang biji dan potong menjadi ukuran yang mudah digenggam anak.

  1. Telur orak-arik

Telur bisa jadi sumber protein yang baik sekaligus finger food yang direkomendasikan untuk bayi. Anda bisa menggoreng telur dengan sedikit minyak kemudian memotongnya kecil-kecil. Atau, Anda juga bisa mengaduknya langsung ketika telur dimasak. Sajikan di atas piring tanpa ditambahkan garam. Meskipun banyak nutrisi, Anda harus memastikan bahwa anak bebas dari alergi telur. Jika anak menunjukkan reaksi alergi, seperti ruam pada kulit setelah makan telur, segera periksa ke dokter.

  1. Pasta

Tidak hanya untuk bayi yang usianya sudah lebih besar, pasta juga cocok untuk anak yang belum memiliki gigi. Pasalnya, tekstur pasta kenyal dan lembut sehingga cocok dijadikan finger food untuk bayi. Namun, khusus untuk bayi yang belum memiliki gigi, pasta fusilli atau makaroni lebih direkomendasikan. Anda bisa menyajikan pasta rebus tanpa tambahan bumbu apa pun. Jika anak sudah mulai diperkenalkan lebih banyak rasa, Anda bisa menambahkan sedikit minyak zaitun dan saus tomat rendah garam.

  1. Tahu

Selain telur, tahu bisa jadi sumber protein yang baik untuk bayi. Finger food untuk bayi yang satu ini memiliki tekstur yang lembut sehingga mudah dimakan. Namun, pastikan jangan memilih tahu yang mudah rapuh karena akan hancur ketika digenggam anak. Ini bisa menyulitkan anak untuk makan.

Bayi & Menyusui

Tips Membersihkan Perlengkapan Bayi Termasuk Cooler Bag ASI

Pemberian ASI eksklusif sebaiknya dilakukan selama 6 bulan pertama hingga bayi berusia 2 tahun. Akan tetapi, kesibukan bekerja dan hal lainnya, kerap membuat Anda tidak dapat memberikan ASI secara langsung, sehingga memerlukan pompa ASI, botol, hingga cooler bag ASI untuk tempat penyimpanan saat berada di luar rumah. 

Memilih cooler bag ASI harus tepat untuk menjaga kesegaran ASI perah

Akan tetapi, semua alat atau perlengkapan bayi tersebut harus Anda bersihkan secara rutin setiap harinya. Apabila proses pembersihannya salah atau malah mencucinya, maka hal ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan dan tumbuh kembang si kecil. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk membersihkan perlengkapan bayi.

1. Pompa ASI manual

Semua bagian pompa ASI manual yang bersentuhan dengan ASI, seperti botol, katup, dan pelindung payudara, harus dibersihkan setelah digunakan. Bagian pompa ASI dapat dibersihkan dengan cara membasuh kuman dan bakteri secara menyeluruh dengan sabun pencuci piring cair khusus botol bayi dan air hangat.

Tidak perlu membersihkan selang pompa ASI kecuali jika terkena ASI. Jika Anda mencuci tubing, pastikan menggantungnya hingga kering dengan sendirinya sebelum memasangnya ke pompa ASI. Jika tetesan air kecil (kondensasi) muncul di selang setelah Anda memompa, hidupkan pompa selama beberapa menit hingga selang mengering.

Alat sterilisasi tersedia untuk bagian pompa ASI, tetapi alat sterilisasi ini tidak memenuhi definisi sterilisasi FDA. Namun, alat ini dapat membersihkan bagian-bagian luar, yang cukup untuk membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam pompa ASI manual.

2. Pompa ASI elektrik

Pompa ASI elektrik yang memiliki listrik dan baterai, harus dibersihkan dengan handuk kertas atau kain lembut setelah digunakan. Pompa listrik tidak boleh dimasukkan ke dalam air atau cairan lain untuk dibersihkan. Anda hanya bisa membersihkan botol dan selang saja. Gunakan mesin sterilisasi botol untuk membersihkannya. 

Anda juga harus menyimpan pompa ASI elektrik pada tempat yang kering dan aman. Pastikan kabel sudah dilepas atau dimatikan sebelum meninggalkannya. Hal ini mencegah terjadinya konsleting listrik dan menjaga pompa ASI elektrik tetap bersih.

3. Botol ASI

Botol ASI menjadi komponen yang sangat penting. Anda harus membersihkannya setiap hari. Setelah penggunaan, Anda dapat mencuci botol menggunakan air bersih dan sabun cuci khusus bayi. Jika sudah, Anda dapat langsung mengeringkannya dengan cara mengelap menggunakan tisu kertas dan menyimpannya di dalam lemari.

Selain itu, Anda juga membersihkan botol susu di dalam sterilizer, supaya semua kuman dan bakteri yang menempel benar-benar mati. Jika tidak memiliki sterilizer, cobalah untuk merebus botol ke dalam air panas. Pastikan semua botol sudah tidak ada kerak susu yang menempel, supaya tidak membuat sakit perut atau masalah kesehatan lainnya pada bayi.

4. Cooler Bag ASI

Selain botol dan pompa ASI hal yang tidak kalah untuk Anda bersihkan adalah cooler bag ASI. Tempat penyimpanan ini kerap digunakan pada saat Anda bepergian. Usai menggunakannya, pastikan Anda meletakkan semua yang ada di dalam pada tempatnya, termasuk ice gel. Selanjutnya, lap dan bersihkan permukaan bagian dalam cooler bag menggunakan tisu basah dan tisu kertas. Tutup kembali cooler bag supaya tidak ada kuman dan bakteri yang masuk ke dalamnya.

5. Dot susu

Pembersihan dot susu sebenarnya mirip dengan botol. Akan tetapi, membersihkan dot susu harus lebih berhati-hati. Dot yang digunakan dan didiamkan dalam waktu lama (tidak langsung dicuci) biasanya akan muncul kerak. Kerak ini kerap tidak disadari dan menempel pada permukaan dot. 

Apabila Anda tidak membersihkannya, maka dot bisa menjadi sarang bakteri untuk bayi. Anda dapat membersihkannya dengan cara merebus menggunakan air panas atau melakukan sterilisasi pada mesin.
Semua cara di atas wajib dilakukan untuk membersihkan semua perlengkapan bayi, mulai dari botol, pompa ASI hingga cooler bag ASI.

Bayi & Menyusui

Hal-hal yang Perlu Diketahui Terkait Bekas Suntik BCG

Ada beberapa jenis imunisasi kategori dasar yang wajib bagi anak-anak di Indonesia, salah satunya adalah imunisasi BCG atau Bacillus Calmette-Guerin. Namun, hal yang paling sering terjadi adalah bekas suntik BCG yang kerap menimbulkan luka hingga terjadi bisul di kulit. 

Imunisasi BCG ini tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran penyakit tuberkulosis atau dikenal dengan istilah TB. Ini merupakan penyakit serius yang bisa menyerang sendi, ginjal, tulang, dan tentu saja menyerang paru-paru. Bahkan pada kondisi yang parah, TB ini bisa menyebabkan meningitis. 

Prosedur Penyuntikan Imunisasi BCG yang Benar pada Bayi

Vaksin BCG ini bisa saja langsung diberikan pada bayi yang masih di rumah sakit setelah dilahirkan, asal dilakukan oleh dokter atau petugas medis. Akan tetapi, di Indonesia biasanya bayi baru lahir hanya mendapat vaksin hepatitis B saja. 

Pemerintah menjadwalkan imunisasi saat bayi berusia 1 bulan atau bersamaan dengan pemberian imunisasi Polio 1. 

Berikut cara dilakukan penyuntikan imunisasi BCG pada bayi yang benar, yaitu:

  • Vaksin akan disuntikkan di lengan atas bayi sebelah kanan, dengan satu dosis 0,05 ml
  • Kemudian, dokter akan membersihkan area penyuntikan dengan cairan antiseptik sebelum disuntik. Ini tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya infeksi
  • Baru setelah itu dokter menyuntikkan vaksin di kulit yang sudah dibersihkan sebelumnya
  • Setelahnya, dokter kembali membersihkan area yang disuntik, lalu menutup bekas suntik BCG dengan plester

Penting juga untuk memperhatikan tempat dimana suntik BCG bayi dilakukan. Sebab, sesuai rekomendasi WHO, vaksin BCG harusnya di daerah lengan atas atau deltoid.

Efek Imunisasi BCG Bisa Menyebabkan Bisul

Vaksin BCG sebenarnya aman dan jarang menyebabkan efek samping. meski begitu, tetap saja berisiko. Umumnya efek samping yang ditemui setelah melakukan suntik BCG adalah munculnya bisul atau luka bernanah di tempat dilakukan penyuntikan.

Bekas suntik BCG yang bernanah atau berupa bisul ini tentu saja membuat orang tua merasa khawatir. Sebab takut sang anak terkena infeksi.

Agar tidak panik saat melihat luka atau bisul di tempat suntikan vaksin BCG, maka Anda perlu mengetahui berbagai fakta berikut ini.

  • Bisul yang muncul di bekas suntik BCG merupakan respons normal yang ditunjukkan sistem imun terhadap penyuntikan vaksin BCG yang di dalamnya berisi bakteri. Wajar jika bekasnya berbentuk seperti infeksi.
  • Jika bisul yang muncul ternyata kurang dari 1 minggu setelah dilakukan imunisasi BCG, maka kemungkinan besar bayi sudah terpapar kuman TB sehingga perlu dibawa ke dokter agar mendapat perawatan
  • Reaksi normal munculnya bisul ini terjadi dalam waktu 2-12 minggu pascaimunisasi, akan tetapi sering juga terjadi antara 4-6 minggu.
  • Kondisi awalnya setelah dilakukan suntik BCG adalah akan muncul kemerahan yang disertai dengan bisul berisi nanah
  • Tidak ada tindakan yang bisa dilakukan orang tua terhadap kemunculan bisul ini, karena akan sembuh sendiri setidaknya dalam waktu 3 bulan
  • Bisul yang sudah sembuh akan meninggalkan bekas datar dengan diameter 2-6 mm
  • Namun, jika bisul tidak muncul, bukan berarti imunisasi yang sudah dilakukan gagal. Bukan juga berarti si kecil tidak terlindungi dari bakteri TB, atau menyebut vaksin yang diberikan palsu. Tidak perlu melakukan vaksin ulang.

Jika terjadi komplikasi pada bisul bekas suntik BCG, maka perlu dibawa ke dokter. Komplikasi tersebut seperti bisul membengkak hebat, mengeluarkan banyak nanah, yang disertai dengan demam tinggi pada anak.

Selesai Menyapih, Ini Cara Menghentikan ASI yang benar
Bayi & Menyusui

Selesai Menyapih, Ini Cara Menghentikan ASI yang benar

Masa menyapih menjadi masa paling sulit dalam proses menyusui. Tak hanya menghadapi tangisan si kecil, saat menyapih ibu juga harus berjuang untuk menghentikan suplai ASI yang terus mengalir. 

Sebab, setelah ibu berhasil menyapih si Kecil, bukan berarti lantas produksi ASI langsung akan berhenti begitu saja.

Malah jika tidak dihentikan, yang terjadi justru suplai ASI membludak dan membuat payudara ibu rentan mengalami peradangan yang dikenal sebagai mastitis. 

Akibat radang, payudara ibu pun bisa menjadi bengkak, nyeri, dan bahkan juga bisa sampai demam dan meriang gara-gara mastitis tersebut.

Untuk itu, ibu pun mencari dan mencoba banyak cara menghentikan ASI. Semua harus dilakukan secara sabar dan bertahap, ya! 

Berikut ini cara menghentikan ASI yang masih keluar setelah anak disapih. 

1. Mengurangi frekuensi menyusu

Sebenarnya ASI secara alami bisa berkurang sendiri produksinya saat sang ibu tidak lagi menyusui atau merangsang payudara. Namun pengurangan produksi ini tidak berlangsung secara instan. Semua akan sangat bergantung pada berapa lama ibu menyusui.

Ketika ibu hendak mengurangi frekuensi menyusu, pastikan mengenakan bra yang ukurannya pas (supportive bra) sehingga tidak menekan payudara. 

Selain itu, apabila terjadi nyeri, Ibu bisa mengompres payudara dengan es untuk mengurangi peradangan. Bisa juga meminum obat penahan rasa nyeri untuk mengatasi rasa sakit dan peradangan pada payudara selama tidak menyusui 

Ketika mulai terasa sakit dan bengkak, Anda bisa memerahnya sedikit demi sedikit ASI menggunakan tangan. Hal ini dapat membuat payudara tidak akan terangsang untuk kembali memproduksi ASI dalam jumlah banyak.

2. Pengobatan herbal

Cara menghentikan ASI berikutnya dengan pengobatan herbal. Nah, salah satu obat herbal yang bisa dimanfaatkan untuk membantu menghentikan produksi ASI adalah daun sage.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal PubMed Central, daun sage dapat membantu para ibu yang sedang dalam masa menyapih.

Untuk mendapatkan manfaat maksimalnya dari daun sage sebagai cara menghentikan ASI secara alami, ikuti petunjuknya berikut ini: 

  • Daun sage yang dipakai adalah yang sudah dibentuk menjadi bubuk. 
  • Gunakan satu sendok makan bubuk daun sage sebagai teh, kemudian diminum setidaknya 1-2 kali sehari.

Namun, Anda hanya bisa meminum ramuan daun sage ini jika sudah benar-benar tidak menyusui si kecil.  Sebab, senyawa ramuan herbal bisa mengundang efek samping negatif pada ibu dan bayinya. 

Ibu juga harus menghentikan mengonsumsi ini jika merasa detak jantung meningkat, ya. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter laktasi sebelum mengonsumsi herbal ini.

3. Menggunakan kubis 

Tahukah Anda jika kubis atau kol juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi payudara bengkak? Menurut sebuah penelitian, daun kubis dapat menekan laktasi saat digunakan dalam jangka panjang.

Selain mengurangi payudara bengkak, kol dingin juga dapat membuat payudara terasa nyaman.

Adapun cara menghentikan ASI dengan bantuan kubis atau kol yaitu sebagai berikut:

  • Cuci daun kol dan keringkan.
  • Lalu masukkan ke dalam wadah bersih dan masukkan ke dalam lemari es untuk didinginkan. 
  • Letakkan satu daun kol menutupi payudara sebelum menggunakan bra.
  • Ganti daun kol setiap 2 jam sekali atau ketika terasa sudah layu. 

4. Minum teh peppermint

Selain ekstrak daun sage, tanaman herbal lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk membantu menghentikan produksi ASI saat menyapih adalah daun peppermint.

Peppermint menghasilkan kadar estrogen yang tinggi, yang pada sebagian besar perempuan dapat membantu mengurangi suplai ASI. Bukan cuma dari teh, namun semua jenis makanan yang mengandung peppermint pun diyakini memiliki manfaat ini.

5. Minum pil kontrasepsi

Hormon estrogen yang dikandung oleh pil KB kombinasi bisa digunakan sebagai cara menghentikan ASI berikutnya. Namun, cara ini harus dilakukan dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Apalagi, tidak semua perempuan cocok mengonsumsi pil KB. Hal ini karena adanya risiko pembekuan darah.

6. Konsumsi obat lain sesuai resep dokter

Selain pil KB, ada beberapa jenis obat oral lain yang diketahui turut memengaruhi produksi ASI. Salah satunya yakni cabergoline atau cabergolin.

Obat ini bekerja dengan menghentikan produksi prolaktin tubuh. Prolaktin sendiri sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk memproduksi ASI.

Namun sebelum mengkonsumsinya, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu untuk mengetahui manfaat dan efek sampingnya dari dokter laktasi.

Bayi & Menyusui

Bagaimana Cara Memilih Popok Bayi yang Bagus?

Banyak hal yang harus dipersiapkan dalam menyambut kehadiran si kecil. Salah satunya adalah popok. Hal ini menjadi penting karena popok merupakan kebutuhan utama untuk bayi yang baru lahir. Memilih popok bayi yang bagus pun harus diperhatikan dan tidak boleh asal pilih. Pemilihan popok ini akan mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan kulit bayi yang masih sangat sensitif.

Pemilihan popok bayi yang bagus ini memerlukan beberapa hal agar popok yang dipakai justru tidak menimbulkan masalah baru untuk si kecil. Pemilihan popok bayi juga harus memperhatikan kebutuhannya sehingga dapat dilihat popok jenis apa yang harus dipilih dan dipakai.

Popok bayi adalah salah satu barang krusial yang wajib dibeli oleh para orang tua

Jenis – jenis popok bayi

Ada dua jenis popok bayi yang umumnya beredar di masyarakat. Kedua jenis ini adalah jenis yang paling dicari oleh para ibu – ibu. 

  1. Popok kain

Popok jenis kain ini lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan dengan popok biasa sekali pakai. Jenis popok kain ini tersedia beberapa variasi berdasarkan dari usia bayi. Jenis popok kain ini ada beberapa macam, tetapi umumnya jenis popok kain tersebut adalah popok kain rata, popok kain prefold, popok kain all in one, dan popok kain berenang.

  1. Popok sekali pakai

Kelebihan popok sekali pakai adalah praktis. Jika kotor, Anda tinggal melepas dan menggantinya dengan popok yang baru. Selain itu, tipe popok ini memiliki daya serap yang tinggi dan tidak mudah bocor. Namun yang tidak menyenangkan dari jenis popok ini adalah harganya yang umumnya lebih mahal dari popok kain. Pasalnya, Anda mesti membelinya berulang kali. Popok sekali pakai juga tidak ramah lingkungan.

Tips memilih popok bayi

Sebelum memilih ingin menggunakan popok kain atau popok sekali pakai, Anda juga harus memperhatikan beberapa hal ini. Jangan sampai kesalahan dalam memilih popok justru akan merugikan bayi Anda.

  1. Ukuran popok

Saat memilih popok bayi, penting bagi Anda untuk membeli yang pas untuk si kecil. Perhatikan usia dan berat badan buah hati agar mudah saat membeli popok. Pilih popok kain atau popok sekali pakai dengan hari-hati terutama untuk newborn. Popok yang tidak pas membuat bayi tidak nyaman. Kulit bayi juga rawan terkena ruam jika popok terlalu besar atau kecil. 

  1. Jenis kulit bayi

Kenali dulu kondisi kulit bayi Anda. Jangan sampai Anda salah membeli popok dan menyebabkan alergi pada kulit bayi.  Pastikan bahan popok tidak mengandung zat kimia berbahaya. Jika bayi memiliki kulit sensitif, belilah popok khusus untuk kulit sensitif.

  1. Jenis popok

Jika Anda cukup sibuk, popok sekali pakai ini akan sangat membantu. Popok ini sangat mudah dan cepat dikenakan pada bayi. Popok kain untuk bayi memiliki beragam manfaat. Selain bisa menekan alergi pada bayi, popok kain juga terjangkau. Meski begitu, sebelum memilih, pertimbangkan sesuai dengan kebutuhan Anda.

  1. Kenyamanan

Kenyamanan menjadi hal penting untuk si kecil dan orang tua. Bentuk kenyamanan ini bisa didapatkan dari tekstur popok maupun fitur pendukung seperti daya serap. Pilih popok yang memiliki indikator basah. Popok jenis ini memudahkan ibu kapan harus mengganti popok.

  1. Anggaran

Sesuaikan anggaran yang Anda miliki dengan kebutuhan popok yang dibutuhkan. Meski begitu, Anda harus ingat jika terlalu terpaku dengan harga. Harga yang mahal belum tentu cocok dan memberikan kenyamanan untuk bayi Anda.

Jadi untuk memilih popok bayi yang bagus, Anda harus memperhatikan beberapa pertimbangan. Anda harus mengenai kondisi kulit bayi dan sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai salah memilih popok, ya!

Bayi & Menyusui

Daftar Rekomendasi Makanan Untuk Ibu Menyusui

Makanan ibu menyusui harus diperhatikan dan tidak kalah pentingnya dengan makanan ibu hamil. Air Susu Ibu (ASI) yang dikonsumsi bayi nantinya akan mempengaruhi perkembangannya. Untuk itulah perlunya membuat daftar makanan untuk ibu menyusui sehingga kebutuhan nutrisi tetap terjaga. Beberapa jenis makanan terbukti lebih ideal dikonsumsi selama masa setelah melahirkan dan sedang menyusui. Apa saja daftar makanan untuk ibu menyusui tersebut?

Makanan untuk ibu menyusui agar bayi cerdas adalah brokoli, telur, alpukat dan bayam

Tingkat kecukupan nutrisi yang perlu dipenuhi ibu menyusui 

Ibu menyusui membutuhkan nutrisi dan gizi dengan hitungan yang berbeda dibandingkan ketika tidak sedang menyusui. Beberapa nutrisi yang dibutuhkan ibu menyusui dan bisa didapatkan dari mengonsumsi makanan yaitu vitamin, mineral, kalori, serta, protein, karbohidrat, dan lain sebagainya. Konsumsi berbagai makanan dengan nutrisi seimbang harus dilakukan terus menerus selama ibu masih menyusui.

Rekomendasi makanan untuk ibu menyusui

Makanan sehat yang dikonsumsi ibu menyusui akan membantu memperlancar ASI serta membuat perkembangan bayi meningkat. Berikut ini merupakan rekomendasi makanan untuk ibu menyusui yang bernutrisi. 

  • Buah-buahan dengan kandungan kalium dapat membantu memberi tenaga tambahan pada ibu menyusui seperti pisang dan alpukat. Buah berry juga baik dikonsumsi ibu menyusui sebab membantu mencerdaskan bayi. 
  • Sayur-sayuran membantu tubuh memenuhi kebutuhan serat sehingga ibu menyusui tidak perlu berurusan dengan masalah pencernaan. Selain itu, beberapa jenis sayur tertentu diyakini dapat meningkatkan produksi ASI seperti brokoli, bayam, dan daun katuk. 
  • Umbi berwarna orange seperti wortel memiliki sifat laktogenik. Adanya fitoestrogen pada umbi orange memiliki kepadatan hara yang tinggi sehingga berperan dalam peningkatan ASI.
  • Jamur terutama jenis reishi, shitake, shimeji, tiram, dan maitake memiliki kandungan beta-glukan tinggi yang bersifat laktogenik prinsipal sehingga mampu meningkatkan produksi ASI. 
  • Beras merah dan gandum utuh kaya akan kandungan serat dan asam folat sehingga direkomendasikan untuk dikonsumsi ibu menyusui. 
  • Produk susu rendah lemak memiliki kandungan vitamin D, vitamin B, dan protein yang memperkuat tulang bayi. Berbagai produk susu rendah lemak ini termasuk keju dan yogurt. 
  • Daging sapi tanpa lemak mengandung zat besi untuk menambah tenaga ketika menyusui. 
  • Telur dan ikan terutama salmon memiliki kandungan DHA yang baik bagi perkembangan sistem saraf bayi. Selain itu, DHA bermanfaat untuk ibu untuk mengurangi stres pasca melahirkan. 
  • Kacang-kacangan memiliki kandungan nutrisi berupa berbagai mineral terdapat dalam kacang-kacangan seperti vitamin B, vitamin K, seng, kalsium,dan zat besi sehingga mampu meningkatkan produksi ASI.

Makanan yang perlu dihindari ibu menyusui

Beberapa jenis makanan juga perlu dihindari selama menyusui sebab dapat menyebabkan masalah bagi ibu maupun bayi. Sebaiknya ibu hanya makan makanan untuk ibu menyusui yang telah direkomendasikan sebelumnya saja dan menghindari beberapa jenis makanan berikut seperti:

  • Kafein hanya boleh dikonsumsi maksimal 3 cangkir sehari bagi ibu menyusui. Bahkan jika mampu, sebaiknya ibu menyusui tidak mengonsumsi kafein sama sekali. Kafein tidak hanya ditemukan pada kopi saja namun juga teh dan cokelat. 
  • Ikan yang terpapar merkuri perlu dihindari oleh ibu menyusui. Beberapa jenis ikan yang terpapar merkuri yaitu kakap, makarel, todak, dan hiu.
  • Minuman beralkohol perlu dihindari ibu menyusui. Zat pada minuman alkohol dapat bertahan di tubuh selama 3 jam. 

Agar perkembangan bayi maksimal maka selalu perhatikan makanan yang dikonsumsi selama menyusui. Selain itu, hindari kebiasaan merokok sebab dapat menyebabkan bayi lebih berisiko terkena asma, pneumonia, infeksi telinga, dan bronkitis. Selain itu, merokok pun dapat mengurangi kuantitas ASI yang diproduksi. Apabila Anda ingin berkonsultasi lebih lanjut tentang makanan untuk ibu menyusui dan hal terkait, tanyakan langsung pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasi SehatQ sekarang juga di App Store atau Google Play.