Bayi & Menyusui

Telinga Anak Bau? Waspadai Infeksi Telinga pada Bayi

Infeksi telinga bisa terjadi pada siapa saja termasuk pada bayi. Jika muncul bau tidak sedap pada telinga si kecil, jangan diremehkan karena bisa jadi hal tersebut menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada si kecil. Bau tidak sedap yang berasal dari telinga bisa muncul akibat adanya infeksi telinga pada bayi. Menghadapi kondisi seperti Anda tidak perlu panik, karena pada beberapa kondisi kasus infeksi telinga dapat diobati sendiri di rumah. 

Pada anak- anak dibawah umur 2 tahun, pemberian antibiotik sangat dianjurkan untuk membantu mengatasi infeksi telinga. Namun, apabila setelah menjalani perawatan bayi Anda masih merasa kesakit dan tidak nyaman, segera konsultasikan kepada dokter untuk penanganan lebih lanjut. Infeksi telinga pada bayi biasanya disertai dengan demam, flu, kehilangan nafsu makan, dan sulit tidur. 

Kotoran pada telinga pada dasarnya berfungsi untuk melindungi telinga dari benda asing serta kotoran seperti debu, yang dapat menyebabkan infeksi pada gendang telinga. Apabila kotoran telinga bayi berbau dan disertai cairan putih atau kekuningan, kemungkinan besar anak Anda mengalami infeksi telinga. Kondisi ini dapat disebabkan karena adanya infeksi pada telinga bagian tengah karena bakteri streprtococcus. 

Bakteri streprtoccus ini menyebabkan radang pada tenggorokan dan infeksi pada saluran pernafasan. Bakteri ini masuk pada telinga bagian tengah melalui eustachius. Akibatnya fungsi saluran eustachius terganggu. Apabila saluran eustachius tersumbat makan cairan pada telinga tidak dapat mengalir.. Adanya gangguan pada saluran ini, akan menyebabkan cairan menumpuk di bagian tengah telinga bayi dan menjadi sarang berkembang biaknya kuman sehingga menimbulkan bau pada telinga bayi.

Infeksi telinga paling sering terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 bulan dan 3 tahun, dan umum terjadi sampai usia 8 tahun. Sekitar 25% dari semua anak akan mengalami infeksi telinga secara berulang. Sedangkan, orang dewasa juga bisa terkena infeksi telinga, tetapi tidak sesering pada anak-anak.

Faktor risiko infeksi telinga dapat meliputi:

  • Usia: Bayi dan anak kecil rentan usia 6 bulan dan 2 tahun memiliki risiko lebih besar terkena infeksi telinga.
  • Riwayat keluarga: Kecenderungan terkena infeksi telinga dapat diturunkan dalam keluarga.
  • Pilek: Pilek sering meningkatkan kemungkinan terkena infeksi telinga.
  • Alergi: Alergi dapat menyebabkan peradangan pada saluran hidung dan saluran pernapasan bagian atas, yang dapat memperbesar kelenjar gondok. Kelenjar gondok yang membesar dapat menyumbat tuba eustachius, mencegah cairan telinga mengalir. Hal ini menyebabkan penumpukan cairan di telinga tengah, menyebabkan tekanan, nyeri dan kemungkinan infeksi.
  • Penyakit kronis: Orang dengan penyakit kronis (jangka panjang) lebih mungkin mengembangkan infeksi telinga, terutama pasien dengan defisiensi imun dan penyakit pernapasan kronis, seperti cystic fibrosis dan asma.
  • Etnis: Penduduk asli Amerika dan anak-anak Hispanik memiliki lebih banyak infeksi telinga daripada kelompok etnis lainnya.

Pencegahan Infeksi Telinga Pada Bayi 

  • Sering-seringlah mencuci tangan. Mencuci tangan mencegah penyebaran kuman dan dapat membantu mencegah anak Anda terkena pilek atau flu.
  • Hindari memaparkan bayi Anda pada asap rokok. Penelitian telah menunjukkan bahwa bayi yang berada di sekitar perokok memiliki lebih banyak infeksi telinga.
  • Pastikan anak mendapat asupan ASI. Usahakan untuk memberi ASI pada bayi Anda selama 6 sampai 12 bulan pertama sejak dilahirkannya. Karena antibodi dalam ASI dapat mengurangi tingkat infeksi telinga.
  • Perhatikan posisi pemberian susu botol pada anak. Jika Anda sedang memberikan susu botol pada si kecil, usahakan pegang bayi Anda dalam posisi tegak yaitu kepala lebih tinggi dari perut. Pasalnya menyusui dalam posisi horizontal dapat menyebabkan susu formula dan cairan lain mengalir kembali ke saluran eustachius. Jika dibiarkan, cairan susu atau ASI dapat mengalir ke telinga tengah. 
  • Vaksinasi. Pastikan anak Anda mendapatkan vaksin secara rutin, termasuk vaksin influenza tahunan (suntikan flu) selama 6 bulan ke atas untuk mencegah infeksi virus dan infeksi lain membantu mencegah infeksi telinga.

Infeksi telinga pada bayi dapat menyebabkan timbulnya cairan yang berbau pada telinga Si kecil. Adanya sumbatan pada bagian tengah telinga akan menyebabkan penumpukkan kotoran yang kemudian menyebabkan infeksi pada telinga. Anda juga bisa mencegah terjadinya infeksi telinga pada anak seperti yang telah dijelaskan di atas. Segera bawa ke dokter apabila anak Anda mengalami gejala- gejala yang tidak wajar akibat infeksi telinga.

Mengenal Ragam Cara Memerah ASI dengan Tangan yang Baik dan Benar, Seperti Apa?
Bayi & Menyusui

Mengenal Ragam Cara Memerah ASI dengan Tangan yang Baik dan Benar, Seperti Apa?

Bagi ibu yang menyusui, penting untuk memastikan ASI bisa dikeluarkan dan tersalurkan dengan baik pada bayi. Terkadang, Anda perlu memompa payudara Anda agar ASI bisa dikeluarkan sepenuhnya. Tapi, supaya tidak menimbulkan efek negatif, Anda harus tahu cara memerah ASI dengan tangan yang benar.

Memerah ASI tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Apabila Anda tidak memperhatikan teknik yang digunakan, maka ASI bisa saja menjadi kurang sehat untuk bayi Anda. 

Bagaimana cara memerah ASI dengan tangan?

Memompa ASI dengan tangan adalah salah satu cara yang paling sering dilakukan. Anda bisa memerah ASI dengan tangan Anda melalui cara-cara berikut: 

  • Membersihkan tangan dan payudara

Pertama-tama, sebelum mulai memerah ASI, pastikan kondisi kulit tangan dan sekitar payudara Anda sudah bersih. Cuci tangan dan payudara dengan air bersih menggunakan sabun.

Hal ini dilakukan guna mengangkat kotoran, kuman, dan bakteri yang menempel di kulit Anda. Apabila tidak dibersihkan, bisa-bisa ASI terkontaminasi dengan kuman dan bakteri di kulit tangan atau payudara Anda.

Oleh sebab itu, langkah pertama dalam cara memerah ASI dengan tangan adalah memastikan tangan Anda dalam keadaan bersih. 

  • Pijat payudara

Sebelum memerah, cobalah untuk memijat payudara Anda terlebih dahulu. Gerakan pijat bisa dilakukan dengan gerakan memutar, seolah-olah sedang membentuk lingkarang di sekitar payudara Anda. 

Usap payudara dari tepi paling luar ke arah puting. Pastikan sentuhan ketika memijat cukup ringan agar tubuh Anda menjadi rileks. 

Sambil memijat, coba bayangkan susu yang  mengalir atau melihat foto bayi Anda. Ini bisa membantu menstimulasi keluarnya ASI ketika diperah. 

  • Memerah kedua payudara

Sebaiknya, jangan memerah hanya satu payudara saja. Cara memerah ASI dengan tangan yang baik adalah berfokus pada keseimbangan produksi ASI di kedua payudara. 

Pegang payudara dengan jari tangan yang membentuk huruf ‘C’. Jari-jari tangan harus dekat ke area puting, tapi jangan sampai menyentuh areola, yaitu lingkaran di sekitar puting. 

Condongkan posisi tubuh Anda ke depan, kemudian biarkan payudara menjuntai ke bawah. Di bawah posisi payudara, letakkan wadah yang akan digunakan untuk menampung ASI. 

  • Menyimpan ASI di wadah yang tepat

Setelah Anda memerah ASI, langsung tempatkan ASI pada wadah. Pastikan wadah yang digunakan tidak menimbulkan efek berbahaya bagi bayi.

Apabila Anda menggunakan wadah botol berbahan plastik, pastikan wadah tersebut memiliki label BPA free. Anda juga bisa menggunakan wadah berbahan kaca jika ingin lebih aman.

Pastikan tutup botol wadah ASI baik dan kencang. Ini penting untuk menjaga kualitas ASI saat disimpan. Jangan gunakan tutup berbentuk dot untuk menyimpan ASI. 

Mengapa perlu memerah ASI dengan tangan?

Terkadang, adanya ASI pada payudara bisa membuat payudara sang ibu membengkak. Oleh sebab itu, ASI perlu dikeluarkan dan disimpan ke wadah khusus untuk kemudian diberikan kepada bayi di lain waktu. 

Ini juga membantu Anda agar bisa memberikan ASI pada bayi dalam jangka waktu yang lebih lama. Karena, ASI tidak akan terus menerus diproduksi oleh tubuh Anda di masa menyusui.

Dalam beberapa kasus, ASI bisa saja berhenti diproduksi hanya dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah bayi dilahirkan. Padahal, semakin lama bayi mendapatkan asupan ASI, akan semakin baik.

Oleh sebab itu, di sinilah pentingnya mengetahui cara memerah ASI dengan tangan yang baik. ASI yang diperah bisa disimpan agar bertahan lebih lama.

Kapan Sebaiknya Harus Konsumsi Pil KB Laktasi?
Bayi & Menyusui

Kapan Sebaiknya Harus Konsumsi Pil KB Laktasi?

Mencegah kehamilan tidak perlu menunggu setelah masa menyusui dan anak mencapai usia yang cukup, namun bisa dilakukan beberapa minggu setelah Anda melahirkan. Anda bisa mengonsumsi pil KB laktasi atau metode lainnya.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya? Tergantung dari kondisi Anda dan usia bayi, ada beberapa metode yang tepat dilakukan di waktu-waktu tertentu.

Amankah menggunakan pil KB Laktasi?

Banyak pasangan yang bisa kembali melakukan hubungan seksual pada kurun waktu 6 minggu setelah melahirkan dan perempuan juga masih bisa hamil sewaktu menyusui. 

Oleh karena itu, jika memang Anda tidak berencana memiliki anak dalam jumlah banyak, dokter akan merekomendasikan penggunaan pil KB ataupun metode kontrasepsi lainnya pada waktu 6 minggu setelah melahirkan. 

Meskipun banyak yang meragukan keamanannya, namun mengonsumsi pil KB laktasi dan menggunakan metode kontrasepsi lainnya saat menyusui terbukti aman. Banyak pilihan yang bisa Anda pilih, termasuk jika Anda tidak ingin metode tersebut berpengaruh terhadap produksi ASI. 

Waktu terbaik menggunakan pil KB Laktasi

Hampir semua metode efektif dalam mencegah kehamilan bila digunakan dengan benar, mulai kontrasepsi implan, kontrasepsi suntik, pil KB mini (mini pill), kondom pria, cincin vagina, ataupun intrauterine device (IUD) yang dimasukkan dalam rentang 48 jam setelah melahirkan. 

Berikut waktu yang tepat untuk mengonsumsi pil KB laktasi ataupun menggunakan metode lainnya:

1. 3 Minggu setelah melahirkan

Pada saat tiga minggu setelah melahirkan Anda tidak menyusui karena berbagai faktor, dan Anda tidak memiliki faktor risiko medis mengalami penyumbatan darah, Anda bisa menggunakan metode berikut ini:

  • pil KB kombinasi
  • cincin vagina
  • patch atau kontrasepsi koyo

Akan tetapi jika Anda menyusui, memiliki risiko penyumbatan darah, ataupun kondisi medis lainnya, Anda umumnya akan disarankan menunda menggunakan metode-metode di atas setidaknya 6 minggu setelah melahirkan.

2. 4 Minggu setelah melahirkan

Pada waktu empat minggu setelah melahirkan Anda tidak menggunakan IUD maupun IUS yang perlu dimasukkan dalam waktu 48 jam usai persalinan, Anda bisa menggunakannya pada waktu ini.

3. 6 Minggu setelah melahirkan

Jika Anda menyusui atau mengalami kondisi medis selama hamil atau melahirkan, Anda harus menunggu setidaknya 6 minggu sebelum bisa menggunakan metode kontrasepsi maupun mengonsumsi pil KB laktasi.

Beberapa metode yang bisa Anda gunakan antara lain:

  • pil KB kombinasi
  • pil KB mini (mini pill)
  • cincin vagina
  • diafragma
  • patch atau kontrasepsi koyo

Hal yang perlu diperhatikan sebelum pakai pil KB laktasi

Tidak semua ibu menyusui bisa menggunakan kontrasepsi maupun mengonsumsi pil KB. Terutama jika Anda memiliki riwayat merokok dan berusia 35 tahun dan di atasnya, sebaiknya tidak mengonsumsi pil KB hormonal.

Sebab, rokok dan pil KB bisa menaikkan risiko penyumbatan darah dan tekanan darah tinggi serta menjadi faktor risiko stroke maupun serangan jantung.

Secara umum, semua metode dan pil KB untuk kontrasepsi aman dikonsumsi para ibu menyusui. Kini dengan kemajuan teknologi, pil KB memiliki dosis hormon progesteron dan estrogen yang lebih rendah sehingga menurunkan risiko efek samping dan masalah kesehatan serius. 

Bahkan, beberapa di antaranya juga memiliki manfaat kesehatan bagi para perempuan. Contohnya seperti menurunkan risiko beberapa jenis kanker.

Meskipun di sisi lain, pil KB dan alat kontrasepsi juga tetap dapat menimbulkan efek samping tertentu. Misalnya sakit kepala, bercak darah saat penggunaan, atau menstruasi terhenti untuk sementara.

Jika Anda ibu menyusui yang ingin mengonsumsi pil KB atau menggunakan alat kontrasepsi, sebaiknya pilih yang tidak mengandung hormon estrogen jika ingin menunda kehamilan. Sebab hormon ini bisa menurunkan produksi ASI.

Oleh sebab itu, sebaiknya konsultasikan kepada dokter terkait rencana kehamilan Anda dan juga jenis pil KB laktasi dan alat kontrasepsi mana yang cocok untuk kondisi tubuh, usia, dan faktor risiko Anda.

Sedot Ingus Bayi dengan Aman, Ini Caranya
Bayi & Menyusui

Sedot Ingus Bayi dengan Aman, Ini Caranya

Sebagai orang tua baru, mungkin Anda khawatir melihat si kecil sulit bernapas karena hidung tersumbat. Lendir dalam hidung kecilnya cukup banyak dan membuatnya sulit bernapas. Lalu, bagaimana cara sedot ingus bayi dengan aman?

Masalah hidung tersumbat memang cukup sering terjadi pada bayi, bahkan termasuk penyakit wajar. Anda tidak perlu khawatir, tidak semua kasus hidung tersumbat berbahaya. 

Terkadang hidung tersumbat dapat disembuhkan dengan mudah karena tidak ada komplikasi penyakit lain. Namun, pada beberapa kasus Anda mungkin membutuhkan bantuan dokter.

Nah jika si kecil hanya pilek ringan, Anda sebenarnya bisa membantunya dengan menyedot ingus secara mandiri. Lalu, bagaimana cara melakukannya dengan aman?

Kapan sebaiknya sedot ingus bayi?

Menyedot ingus bayi adalah cara terbaik untuk membantu si kecil mengatasi masalah hidung tersumbat. Lalu kapan sebaiknya menyedot ingus bayi?

  • Ketika si kecil merasa kesulitan bernapas atau napas yang berisik karena ingus berlebihan.
  • Sebelum menyusui. Si kecil dapat menerima ASI dengan lebih baik jika hidungnya bersih. Anda juga tidak boleh menyedot ingus terlalu cepat setelah makan.
  • Jika si kecil tampak sulit bernapas setelah muntah. Coba kurangi frekuensi sedot ingus.

Sebaiknya Anda menyedot ingus bayi hanya dua sampai tiga kali sehari. Jika terlalu sering, lubang hidung si kecil bisa terlalu kering, sakit, bahkan sampai berdarah.

Sedot ingus dengan aman

Ada banyak alat yang bisa digunakan untuk menyedot ingus bayi, tapi yang paling aman adalah dengan menggunakan Bulb Syringe atau alat sedot ingus.

Si kecil tidak dapat membuang ingusnya sendiri. Karena itu, Anda membutuhkan alat bantu seperti bulb syringe untuk menyedot ingusnya.

Bulb syringe atau alat sedot ingus sudah cukup lama dikenal. Cara kerjanya sama seperti sedot mulut yang tidak dianjurkan di atas.

Alat sedot ingus bayi ini pun terbilang aman, penggunaannya mudah. Anda hanya perlu memasukkan pipet ke hidung si kecil dengan kedalaman yang terukur.

Jika mulut dan hidung si kecil sama-sama perlu disedot, sebaiknya Anda menyedot mulut terlebih dahulu. Nah ketika menyedot dari dalam mulut, posisikan pipet bulb syringe ke bagian dalam pipi si kecil.

Berikut cara menggunakan bulb syringe atau alat sedot ingus:

  • Cuci tangan Anda dengan bersih sebelum memulai perawatan
  • Pencet bagian balon untuk mengeluarkan udara dari alat sedot ingus
  • Pertahankan pencetan tersebut, masukkan pipet ke lubang hidung bayi dengan perlahan
  • Saat pipet sudah berada di posisi yang Anda mau, lepaskan pencetan Anda agar lendir pilek bayi tersedot ke dalam pipet dan bagian dalam balon
  • Keluarkan pipet dari lubang hidung bayi
  • Buang ingus dari dalam pipet dan balon, lalu bersihkan
  • Ulangi prosesnya beberapa kali dengan alat penyedot yang sudah dibersihkan

Jika Anda merasa kesulitan menyedot ingus dengan alat bantu, ada kemungkinan lendir di dalam hidung si kecil terlalu kental. Pada kasus ini, Anda harus mencairkan ingus terlebih dahulu dengan cairan saline.

Cairan saline berfungsi untuk melunakkan lendir ingus yang terlalu kental sehingga lebih mudah disedot.

Anda bisa mendapatkan cairan saline di apotek terdekat atau membuatnya sendiri dengan cara-cara di bawah ini.

Cara membuat cairan saline sendiri

Lendir ingus bisa jadi tebal dan mengganggu si kecil. Anda bisa membuat cairan saline (garam dan air) sendiri. Berikut langkah-langkah membuat cairan saline sendiri:

  • Campurkan 1/4 sendok teh garam dengan 1 cangkir air panas matang
  • Aduk dan biarkan mendingin ke suhu ruangan
  • Simpan di wadah bersih, botol atau bekas wadah selai
  • Cairan maksimal digunakan sampai tiga hari, buang dan buat lagi jika Anda membutuhkannya
  • Cara injeksi cairan saline ke lubang hidup bayi

Setelah mendapatkan cairan saline, Anda bisa menggunakannya untuk melunakkan ingus si kecil. Caranya mudah, ikuti langkah-langkah di bawah ini:

  • Baringkan bayi Anda
  • Masukkan 1-2 tetes di setiap lubang hidung,
  • Tahan kepala si kecil ke arah belakang selama sekitar satu menit
  • Tunggu cairan saline melunakkan ingus
  • Setelah itu, sedot dengan bulb syringe sesuai langkah di atas

Anda bisa menyedot ingus bayi sesuai dengan kondisi-kondisi di atas. Namun, coba perhatikan reaksi si kecil. Jika hidung tersumbat disertai penyakit lain, segera bawa ke dokter.

Bayi & Menyusui

Kandungan Parfume Bayi yang Harus Diwaspadai

Bayi baru lahir biasanya memiliki aroma tubuh yang sangat khas. Menurut para ilmuwan, aroma tersebut berasal dari cairan amniotik atau ketuban. Namun, aroma tubuh bayi ini tidak akan bertahan lama karena dipengaruhi oleh proses metabolisme berdasarkan asupan makanannya. Oleh karena itu, agar aroma si kecil tetap harum biasanya ibu akan memberikan wewangian atau parfum bayi untuk menjaga kesegaran aroma tubuh si kecil. 

Bahan parfum bayi tidak sama seperti halnya minyak wangi orang dewasa

Parfum bayi adalah produk dengan kegunaan utama mengharumkan kulit bayi sepanjang hari. Parfum bayi biasanya memiliki persentase alkohol yang lebih rendah atau bahkan bebas alkohol. Namun, biasanya produk-produk tersebut masih mengandung minyak esensial, phthalates, dan gliserin, atau bahan yang diketahui menyebabkan reaksi alergi pada beberapa bayi.

Senyawa kimia yang kerap menjadi bahan parfum bayi adalah polysorbate 20, natrium benzoat, phenoxyethanol, asam sitrat, propylene glycol, dimethicone, dan tetrasodium EDTA. Sementara ekstrak bahan alami yang sering digunakan contohnya minyak jarak dan beberapa ekstrak bahan alami yang dipercaya bermanfaat bagi kulit bayi.

Parfum bayi mungkin bermanfaat untuk membuat tubuhnya tetap harum sepanjang hari. Namun perlu diingat tidak semua bahan dalam parfum bayi aman bagi kulit si kecil. Beberapa bahan justru bisa menimbulkan reaksi alergi, iritasi, hingga bersifat racun. Jangan lupa bahwa kondisi kulit bayi jauh lebih sensitif dan itu menjadikannya berbeda dari kulit orang dewasa.

Berikut beberapa bahan atau kandungan di parfum bayi yang perlu dihindari karena punya potensi menyebabkan masalah pada kulitnya:

  • Pengharum (fragrance)

Pengharum merupakan bahan yang amat sering ditemukan dalam produk bayi, termasuk parfum. Sayangnya, beberapa parfum bayi mengandung zat pengharum yang tidak aman. Zat ini biasanya merupakan produk turunan dari hasil pengolahan minyak bumi.

Zat pengharum dapat menimbulkan reaksi alergi, baik pada kulit, pernapasan, hingga mata. Efeknya pun bisa bertahan selama berjam-jam pada tubuh bayi. Segera hentikan pemakaian produk bila bayi menunjukkan tanda-tanda alergi zat pengharum.

  • Propylene glycol

Sebagian besar parfum bayi mengandung propylene glycol. Bahan ini sebenarnya tidak menimbulkan bahaya langsung, tapi paparan jangka panjang dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kanker.

Propylene glycol cepat menyerap ke dalam kulit yang mana berfungsi membuka pori-pori kulit sehingga senyawa kimia lain bisa masuk dengan lebih mudah. Selain parfum bayi, senyawa ini juga banyak terdapat pada tisu basah.

  • Ftalat

Ftalat terdapat dalam berbagai macam produk, mulai dari sabun; sampo; deterjen; pembersih kuku; losion cukur; hingga parfum bayi. Senyawa ini dinilai berbahaya karena sangat mudah terlepas ke udara dan terhirup ke dalam saluran pernapasan bayi.

Ftalat juga bisa memasuki tubuh bayi melalui produk-produk yang bersentuhan dengan kulit. Paparan jangka panjang dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusakan pada hati, paru-paru, ginjal, dan sistem reproduksi.

Masalahnya, komposisi atau bahan parfum bayi ini jumlahnya seringkali tidak dituliskan pada kemasan. Tentu kita jadi sulit memperhitungkan dampak atau efeknya bagi kondisi bayi, baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. 

Sebagai orang tua, baiknya kita selalu jeli dan cermat sebelum membeli produk parfum bayi agar kondisi-kondisi di bawah ini bisa dihindari:

  • Menyebabkan alergi

Sama seperti kandungan yang terdapat dalam sebotol parfum orang dewasa, pewangi dalam produk bayi juga memiliki kandungan yang bisa membuat bayi mengalami alergi. Gejala alergi yang dikeluarkan bisa bervariasi dari yang ringan hingga berat seperti pusing, bersin, dan asma.

Namun, bukan tidak mungkin juga bayi mengalami gejala yang parah berupa batuk, muntah, hingga iritasi kulit. Pusing dan batuk merupakan tanda bahwa saraf dalam tubuh si kecil tidak bisa menerima keberadaan senyawa kimia di sekitarnya.

  • Merusak sistem saraf

Bayi memiliki saraf yang cenderung sensitif. Bila kamu terus melanjutkan penggunaan produk bayi berpewangi yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut, maka lama kelamaan bisa menyebabkan sistem saraf bayi menjadi rusak. Segera hentikan pemakaian produk bila bayi menunjukkan gejala seperti depresi, hiperaktif, mudah mengalami iritasi kulit, mudah sakit, dan kondisi fisik dan perilakunya berubah.

  • Menyebabkan masalah pernapasan

Produk bayi dengan parfum biasanya memberikan wangi yang tahan lama pada kulit dan bisa bertahan sampai berjam-jam. Hal inilah yang bisa menyebabkan masalah pernapasan pada bayi, seperti asma.

Sebenarnya, parfum bayi merupakan produk perawatan bayi yang cukup bermanfaat. Produk ini juga terbilang aman selama menggunakan bahan-bahan yang ramah terhadap bayi. Kita hanya perlu lebih selektif dalam memilih produk, sebab tidak semua bahan dalam parfum bayi aman bagi kesehatannya secara keseluruhan.

Bayi & Menyusui

4 Tipe Baby Car Seat untuk Anak Anda

Baby car seat adalah salah satu perlengkapan penting bagi Anda dan si kecil. Namun, karena terlalu banyak jenis yang ditawarkan, mungkin Anda bingung memilih baby car seat yang tepat.

Secara umum, baby car seat digolongkan berdasarkan usia. Ada baby car seat yang menghadap ke belakang, lalu menghadap ke depan, dan terus beranjak sampai booster seat. 

Terdapat beragam merek baby car seat yang dapat dicoba oleh Ayah dan Bunda.

Selain itu, ada pula penggolongan baby car seat berdasarkan fungsi dan fleksibilitasnya. Ada baby car seat yang bisa digunakan sampai si kecil sudah cukup dewasa.

Lalu apa saja tipe baby car seat? Yuk scroll ke bawah!

1. Infant car seat

Infant car seat didesain untuk bayi Anda, umumnya dalam rentang newborn sampai usia 2 tahun dan telah mencapai batas berat badan untuk kursi tersebut.

Tipe kursi ini dirancang untuk digunakan menghadap ke belakang dengan pertimbangan keamanan untuk si kecil. Sebagian besar infant car seat bisa dilepas dan dibawa-bawa untuk menggendong si kecil.

Selain itu, sebagian besar infant car seat didesain untuk langsung dipasangkan ke mobil atau dipasang ke base yang tetap terpasang di kursi belakang mobil.

Secara umum, infant car seat dapat digunakan selama 6-24 bulan, tergantung pada proses pertumbuhan bayi dan ukuran car seat tersebut.

Tentu ada beberapa kasus bayi tumbuh lebih cepat dan infant car seat sudah harus diganti sebelum mencapai 2 tahun.

Lalu, jika sudah waktunya upgrade, Anda tidak perlu buru-buru memilih kursi yang menghadap ke depan.

Bayi sebaiknya tetap menggunakan kursi yang menghadap ke belakang sampai berusia 3 tahun atau telah mencapai batas tinggi badan dan berat badan.

2. Convertible Car Seat

Convertible car seat bisa jadi pilihan aman karena fiturnya yang serba bisa. Tipe kursi ini bisa digunakan mulai newborn sampai anak Anda tidak lagi membutuhkan car seat.

Artinya, tipe kursi ini bisa dianggap sebagai investasi jangka panjang, khususnya jika Anda berencana menggunakannya kembali untuk anak berikutnya.

Tergantung pada berat badan si kecil, biasanya Anda perlu mendudukkan bayi menghadap ke belakang sampai berusia 3 tahun, lalu setelahnya menghadapkan dia ke depan.

Kekurangan convertible car seat adalah ukurannya yang besar, tidak portable, dan tidak bisa digunakan untuk menggendong bayi.

Convertible car seat tidak memiliki base dan biasanya tidak mudah dipindahkan dari satu mobil ke mobil lainnya.

3. 3-in-1 Seat

Kursi tipe ini juga disebut all-in-one seats. Fungsinya hampir sama dengan convertible car seats, tapi 3-in-1 bisa digunakan sebagai booster seat ketika si kecil sudah lebih dewasa nanti.

Keuntungan dari tipe kursi ini adalah Anda hanya perlu membeli satu kursi yang bisa digunakan terus sampai si kecil bisa duduk sendiri di kursi dewasa dengan sabuk pengaman dewasa.

4. Booster Seat

Pada dasarnya booster seat adalah dudukan tambahan untuk si kecil supaya bisa menggunakan sabuk pengaman dewasa yang tersedia dalam mobil.

Tergantung pada model yang Anda beli, seharusnya booster car seat bisa digunakan sampai tinggi badan dan berat badan tertentu untuk anak Anda.

Ada beberapa panduan penggunaan car seat yang perlu Anda perhatikan. Secara umum, anak seharusnya masih menggunakan car seat (booster seat) sampai usia 12 tahun.

Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam memilih baby car seat

  • Menaruh car seat di posisi yang salah – Sebaiknya car seat ditaruh di kursi belakang, di lorong tengah antara kursi kanan dan kiri mobil.
  • Kesalahan memosisikan car seat – Untuk usia awal, car seat seharusnya menghadap ke belakang sampai si kecil sudah cukup dewasa untuk menggunakan car seat yang menghadap ke depan.
  • Gunakan pakaian yang nyaman – Baby car seat umumnya dilengkapi sabuk pengaman sendiri. Jika bayi Anda mengenakan jaket atau pakaian terlalu tebal, sabuk pengaman tersebut mungkin tidak bisa terpasang secara efektif.
  • Kesalahan menggunakan booster seat – Booster seat harus digunakan dengan sabuk pengaman (bahu dan pinggang). Pastikan posisi sabuk melindungi si kecil dengan tepat.

Catatan

Demikian tipe-tipe baby car seat yang bisa Anda pilih untuk si kecil. Perlu diperhatikan, baby car seat sebaiknya digunakan sesuai dengan rentang usia. 

Anda juga sebaiknya memperhatikan kenyamanan si kecil saat menggunakan baby car seat.

Folikulitis: Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi
Bayi & Menyusui

Folikulitis: Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi

Bintik merah pada kulit bayi merupakan masalah yang kerap terjadi. Pada umumnya, bintik merah pada kulit bayi sebetulnya tidak berbahaya. Tetapi ada beberapa kasus bintik merah pada kulit bayi dapat menjadi penanda terjadinya penyakit serius seperti campak dan meningitis. Ada banyak penyebab bintik merah pada kulit bayi, salah satunya adalah folikulitis.

Pengertian Folikulitis

Folikulitis adalah suatu kondisi kulit di mana folikel rambut (kantong kecil yang merupakan tempat tumbuhnya rambut) meradang. Folikulitis dapat menimbulkan gatal atau nyeri dan bisa disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. 

Folikulitis paling sering terjadi pada bagian tubuh yang mengalami gesekan, seperti kulit wajah, kulit kepala, punggung, dan paha. Gesekan pada kulit bayi yang disebabkan oleh pakaian, pencukuran, dan zat seperti keringat, minyak, dan kosmetik dapat menghalangi dan mengiritasi folikel, sehingga bakteri yang biasanya berada di kulit, seperti Staphylococcus, dapat masuk ke dalam folikel rambut dan menyebabkan infeksi. Setelah terinfeksi, folikel tampak seperti jerawat merah dengan rambut di tengahnya.

Risiko Terkena Folikulitis

Bayi bisa terkena risiko folikulitis jika:

  • Mengenakan pakaian yang ketat atau terlalu ketat
  • Sedang mengonsumsi atau menggunakan antibiotik atau obat steroid untuk jangka waktu yang lama
  • Memiliki ketahanan tubuh atau sistem imunitas yang lemah karena penyakit seperti AIDS, leukimia, diabetes atau kondisi kesehatan lainnya
  • Memiliki luka yang sudah terinfeksi atau mengalami sayatan karena tindakan pembedahan.
  • Memiliki kondisi kulit tertentu seperti eksim atau jerawat.

Tanda dan Gejala Folikulitis

Folikulitis yang menyebabkan bintik merah pada kulit bayi biasanya terjadi pada kepala, wajah, pantat, tangan dan kaki.

Folikulitis berbentuk benjolan berisi nanah (pustula) yang berpusat pada folikel rambut. Pustula ini bisa ditembus oleh rambut yang tumbuh, dan seringkali dikelilingi oleh kulit yang meradang berwarna merah jambu hingga merah. 

Folikulitis yang ringan dan sedang biasanya nyeri saat ditekan atau terasa gatal. Sedangkan folikulitis yang parah dapat memengaruhi seluruh folikel rambut sehingga efeknya lebih menyakitkan.

Folikulitis ringan dan sedang bisa hilang secara cepat dengan pengobatan dan tidak meninggalkan bekas luka. Tapi, folikulitis yang parah akan menyebabkan komplikasi yang lebih seriys seperti infeksi pada jaringan kulit yang lebih dalam (selulitis), jaringan parut dan rambut menjadi rontok permanen.

Cara Mencegah dan Mengobati Folikulitis Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi

Untuk mencegah folikulitis pada kulit bayi, Anda bisa membantu anak dengan melakukan hal berikut ini:

  • Menghindari pakaian ketat, terutama ketika sedang berolahraga.
  • Segera mencuci pakaian yang digunakan setelah berolahraga.

Untuk mencoba menghilangkan folikulitis ringan, Anda bisa melakukan hal sebagai berikut:

  • Menggunakan sabun antibakteri.
  • Mengoleskan kompres panas dan lembap ke area yang terkena.
  • Cobalah untuk menggunakan losion kortikosteroid (kortison) yang dijual bebas untuk membantu menenangkan kulit yang teriritasi atau gatal.
  • Segera cuci handuk, waslap, dan seprai dan sesering mungkin.
  • Biasakan untuk mengenakan pakaian yang longgar kepada bayi.

Kapan Mencari Perawatan Medis

Anda harus segera berkonsultasi kepada dokter ketika anak Anda tidak segera sembuh dari gejala bintik merah pada kulit bayi dalam waktu 2-3 hari. Jika gejala terus kembali atau jika infeksi menyebar ke area yang lebih luas di tempat lain di tubuh bayi, Anda juga harus melaporkan ke dokter agar bayi Anda segera mendapatkan pengobatan dan penanganan yang cepat dan tepat.

Bayi & Menyusui

Sibuk Cari Baju Menyusui? Coba Merek-merek Ini

Menyusui menjadi salah satu “medang perang” ibu baru yang mesti didukung oleh senjata sempurna. Salah satu senjata untuk nyaman menyusui sang buah hati adalah baju menyusui yang enak dikenakan serta muda untuk segera memberikan susu tiap kali si kecil meminta. 

Baju menyusui dapat memudahkan proses menyusui

Dengan memakai baju menyusui, tidak ada alasan lagi Anda kesulitan melakukan direct breastfeeding di mana saja berada. Pasalnya, baju menyusui membuat Anda bisa dengan mudah menyusui si kecil, tanpa harus repot membuka sebagian pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh Anda ataupun risih memakai apron. 

Cuma masalahnya, baju menyusui apa yang tergolong bagus dan nyaman guna digunakan oleh ibu yang baru melahirkan? Berikut ini adalah beberapa merek-merek baju menyusui yang layak Anda miliki sebagai persiapan menyusui yang nyaman dan mudah. 

  1. Chantilly 

Semua baju yang Anda cari dari semasa hamil hingga menyusui ada di Chantilly. Banyak pilihan baju menyusui yang bisa Anda dapatkan dengan merek ini, mulai dari baju tanpa lengan, baju untuk hangout, bahkan baju muslim dan kaftan yang bersifat baju menyusui pun bisa Anda temukan di Chantilly. Salah satu ciri khas dari baju-baju Chantilly adalah adanya detail unik di tiap jenis baju menyusuinya sehingga modelnya tidak terlihat terlalu sederhana. 

  1. Mooimom 

Merek Mooimom sebagai salah satu brand baju menyusui sudah punya nama harum. Beragam model bisa Anda temukan di baju menyusui Mooimom. Rata-rata baju menyusui Mooimom bermodel bukaan samping sehingga memudahkan Anda untuk menyusui langsung atau melakukan pumping di perjalanan. Namun, ada pula model baju menyusui Mooimom yang memakai resleting di bagian samping yang disamarkan dengan aksen ruffle. Jadinya, jika dilihat sekilas, tidak ada yang akan menyangka Anda sedang memakai baju menyusui!

  1. Mamigaya 

Baju berbahan kaos tidak ada matinya! Ibu yang baru melahirkan dan menyusui pun sebenarnya sangat membutuhkan baju-baju berbahan kaos yang nyaman. Namun masalahnya, tidak semua baju kaos tergolong bersahabat dengan ibu menyusui. Berbeda jika Anda memilih baju menyusui dari Mamigaya. Rata-rata baju menyusui Mamigaya berbahan kaos yang nyaman dipakai. Tidak perlu bingung ukuran ketika memilih baju menyusui Mamigaya sebab merek ini menyajikan beragam baju menyusui all size yang bisa dipakai sampai ukuran L. 

  1. Just Mom 

Badan menggemuk selama hamil dan sulit mengurus kembali setelah melahirkan? Anda pun menjadi kurang percaya diri untuk mencari baju menyusui? Jangan berpikiran seperti itu! Saat ini Anda baju menyusui merek Just Mom yang menyediakan baju-baju ukuran big size sampai dengan XXXL. Model baju-baju Justmom cenderung kasual sehingga pas untuk dipakai santai di rumah sampai untuk acara bepergian. 

  1. Bajuboo 

Salah satu kemalasan ibu baru mencari baju menyusui biasanya karena sudah banyak membeli baju hamil selama mengandung. Hal ini tidak akan Anda alami jika mencari baju menyusui dari Bajuboo. Keunggulan baju menyusui merek ini adalah bahan-bahannya yang super melar. Jadi, baju menyusui Bajuboo sekaligus bisa dijadikan sebagai baju hamil. Model baju menyusui Bajuboo rata-rata berkonsep bukaan samping yang cukup lebar, yang akan membuat Anda akan sangat mudah tiap kali hendak menyusui si kecil. 

  1. Mamaway 

Terbayang tidak mempunyai baju menyusui yang sekaligus bisa berfungsi sebagai korset? Ini pastinya dambaan baju menyusui bagi para ibu yang baru melahirkan dan masih bermasalah dengan target pengempisan perut. Pasalnya, salah satu model baju menyusui dari produsen ini memiliki model ketat di bagian perut, namun sangat elastis dan lembut di bagian dada. Hadir dengan bahan spandek, baju menyusui ini tidak hanya memudahkan Anda dalam memberikan ASI kepada si kecil di manapun, melainkan juga membantu mengecilkan perut Anda pasca persalinan. 

Tiap merek baju menyusui memiliki keunggulannya masing-masing. Anda hanya perlu menyesuaikannya dengan kebutuhan Anda. Jadi, jangan pusing lagi karena ibu menyusui harus bahagia supaya produksi ASI-nya lancar!

Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?
Bayi & Menyusui

Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?

Sebagian besar bayi sudah menumbuhkan gigi pertama mereka di usia 4 bulan. Namun, bagaimana jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi?

Perkembangan setiap bayi berbeda-beda. Bayi dalam perkembangan lambat mungkin baru menumbuhkan gigi pertama di usia 7 bulan.

Bahkan ada beberapa kasus bayi belum tumbuh gigi hingga usia 8 bulan, padahal perkembangan lainnya tampak signifikan.

Wajar jika Anda merasa khawatir sebagai orang tua, tapi sebenarnya kondisi bayi 8 bulan belum tumbuh gigi ini tidak terlalu serius.

Tidak ada gigi di usia 8 bulan, haruskah khawatir?

Singkatnya, Anda tidak perlu khawatir. Usia bayi menumbuhkan gigi pertamanya begitu beragam, setiap kasus berbeda-beda.

Seperti yang disebutkan di atas, mayoritas bayi menumbuhkan gigi pertamanya di rentang usia 4-7 bulan. Namun, tetap ada kondisi ekstrem yang harus Anda perhatikan.

Contohnya, ada bayi yang langsung memiliki gigi ketika terlahir. Ada pula yang belum juga menumbuhkan gigi sampai ulang tahun pertama.

Jika bayi Anda belum tumbuh gigi di usia 8 bulan, kemungkinan besar pertumbuhan mereka sedikit terlambat.

Meski begitu, pada akhirnya gigi tersebut akan tumbuh. Jadi Anda tidak perlu khawatir.

Kapan harus mulai khawatir?

Anda tidak perlu khawatir jika gigi si kecil belum juga tumbuh di usia 8 bulan. Namun, ada batasan tertentu yang harus Anda perhatikan.

Segera temui dokter jika gigi si kecil belum tumbuh hingga usia 18 bulan. Memang setiap bayi berbeda-beda, bahkan ada yang baru menumbuhkan gigi pertama di usia 15 bulan. 

Namun, lebih dari itu bisa dianggap abnormal. Sebagian besar bayi sudah memiliki minimal 4 gigi di usia 11 bulan dan mencapai 12 gigi di usia 19 bulan.

Tanda-tanda dan gejala tumbuh gigi

Tanda-tanda yang ditunjukkan setiap bayi berbeda-beda. Namun, secara umum ada beberapa gejala dan pertanda tumbuh gigi seperti:

  • Gusi bengkak dan melunak
  • Rewel dan menangis
  • Suhu badan sedikit meningkat
  • Ingin mengunyah benda-benda alot
  • Air liur melimpah
  • Batu-batuk
  • Menggosok pipi dan menarik telinga
  • Mendekatkan tangan ke mulut
  • Perubahan pola makan atau tidur

Tumbuh gigi bisa menyakitkan, tapi umumnya si bayi tidak sampai sakit parah. Segera hubungi dokter jika muncul penyakit lain seperti diare, muntah-muntah, ruam, demam tinggi, atau batuk.

Anda juga harus segera menemui dokter jika melihat gusi bayi berdarah atau ada pembengkakan wajah berlebihan.

Urutan tumbuh gigi

Urutan dan waktu tumbuh gigi setiap bayi berbeda dan mungkin dipengaruhi oleh riwayat keluarga. Namun, pada umumnya dua gigi seri bagian bawah tumbuh terlebih dahulu, diikuti oleh dua gigi seri bagian atas.

Setelahnya diikuti oleh gigi seri lainnya, gigi taring, baru gigi geraham depan. Geraham belakang adalah gigi yang terakhir tumbuh.

Pada akhirnya, bayi akan memiliki 20 gigi susu, biasanya di usia 3 tahun.

Catatan

Demikian informasi mengenai proses pertumbuhan gigi bayi delapan bulan. Perlu diingat, kecepatan perkembangan setiap bayi berbeda-beda.

Anda tidak perlu khawatir jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi. Tentu, ada beberapa batasan yang juga perlu Anda perhatikan.

Bayi & Menyusui

Bosan Dengan Milna Goodmil Hypoallergenic? Ganti Dengan Cemilan Ini!

Milna Goodmil Hypoallergenic bubur untuk bayi berumur lebih dari enam bulan yang bisa menjadi makanan pendamping selain ASI. Milna goodmil hypoallergenic ini diperkaya Protein, Lemak (termasuk Omega 3 dan 6), Karbohidrat (termasuk Prebiotik FOS), dan 25 Vitamin dan Mineral agar tumbuh kembang bayi menjadi lebih baik. Tersedia dalam kemasan box dengan berat 160 gram.

Milna Goodmil Bubur Khusus Beras Merah Pisang 6+ - 120 g harga terbaik

Meski begitu, jika si kecil bosan dengan tekstur dari Milna goodmil hypoallergenic, Anda bisa menggantikan dengan membuatkan cemilan sehat untuk si kecil. Akan tetapi Anda harus memperhatikan hal ini ketika ingin membuat cemilan.

  1. Tanpa pengawet

Makanan kemasan memerlukan daya simpan yang lebih lama agar tidak cepat rusak. Untuk itu, produsen pun menambahkan pengawet. Namun, pengawet pada makanan dapat berdampak negatif bagi kesehatan bayi. Studi yang diterbitkan pada jurnal Allergy menyebutkan, pengawet mampu memunculkan gejala alergi, seperti eksim, asma, dan rhinitis.

  1. Rendah lemak dan gula

Asupan gula dan lemak memang diperlukan untuk tubuh bayi. Namun, jika Anda memberikan cemilan bayi yang tinggi gula dan lemak jenuh, seperti biskuit kemasan, ini justru tidak sehat. Menurut riset terbitan Nutrients, makanan yang diberi tambahan gula dan mengandung lemak jenuh dapat meningkatkan risiko obesitas pada bayi sampai beranjak dewasa nanti. Selain itu, penelitian berbeda dari terbitan jurnal yang sama juga menemukan adanya kandungan garam tinggi pada cemilan bayi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan hipertensi saat dewasa.

  1. Tekstur sesuai dengan usianya

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagi ragam tekstur makanan berdasarkan usianya. Ada tiga pembagian rentang usia, yaitu:

  • Usia 6-9 bulan, tekstur yang diberikan sebaiknya berupa bubur kental yang disaring (puree) atau dilumat (mashed).
  • Usia 9 bulan-1 tahun, berikan cemilan bayi yang sehat dengan tekstur cincang halus, kasar, ataupun makanan yang bisa digenggam oleh tangan (finger food).
  • Usia 1-2 tahun, tekstur MPASI cemilan yang diberikan sebaiknya dicincang atau dihaluskan seperlunya.

Jadi, dengan memperhatikan hal tersebut Anda bisa membuat finger food sebagai alternatif makanan utama maupun cemilan untuk bayi, berikut beberapa pilihan yang bisa dicoba.

  1. Sayuran rebus

Sayur bisa menjadi finger food untuk bayi yang sangat direkomendasikan. Pasalnya, sayuran mengandung banyak nutrisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Anda bisa memilih sayuran untuk bayi seperti wortel, kentang, ubi, atau brokoli. Potong ukuran sayuran menjadi lebih kecil sehingga mudah digenggam oleh bayi Anda. Kemudian, rebus sayuran hingga teksturnya lunak sehingga mudah dikunyah.

  1. Buah yang teksturnya halus

Buah yang sudah matang memiliki daging buah yang lunak. Ini merupakan makanan yang sangat cocok dimakan bayi dengan tangannya sendiri. Anda bisa menyiapkan buah pisang, semangka, pepaya, mangga, atau alpukat. Buah-buahan tersebut bukan hanya mengenalkan beragam rasa makanan pada anak, tapi juga memenuhi kebutuhan gizinya. Sebelumnya, cuci buah dengan air bersih mengalir dan kupas bagian kulitnya. Kemudian, buang biji dan potong menjadi ukuran yang mudah digenggam anak.

  1. Telur orak-arik

Telur bisa jadi sumber protein yang baik sekaligus finger food yang direkomendasikan untuk bayi. Anda bisa menggoreng telur dengan sedikit minyak kemudian memotongnya kecil-kecil. Atau, Anda juga bisa mengaduknya langsung ketika telur dimasak. Sajikan di atas piring tanpa ditambahkan garam. Meskipun banyak nutrisi, Anda harus memastikan bahwa anak bebas dari alergi telur. Jika anak menunjukkan reaksi alergi, seperti ruam pada kulit setelah makan telur, segera periksa ke dokter.

  1. Pasta

Tidak hanya untuk bayi yang usianya sudah lebih besar, pasta juga cocok untuk anak yang belum memiliki gigi. Pasalnya, tekstur pasta kenyal dan lembut sehingga cocok dijadikan finger food untuk bayi. Namun, khusus untuk bayi yang belum memiliki gigi, pasta fusilli atau makaroni lebih direkomendasikan. Anda bisa menyajikan pasta rebus tanpa tambahan bumbu apa pun. Jika anak sudah mulai diperkenalkan lebih banyak rasa, Anda bisa menambahkan sedikit minyak zaitun dan saus tomat rendah garam.

  1. Tahu

Selain telur, tahu bisa jadi sumber protein yang baik untuk bayi. Finger food untuk bayi yang satu ini memiliki tekstur yang lembut sehingga mudah dimakan. Namun, pastikan jangan memilih tahu yang mudah rapuh karena akan hancur ketika digenggam anak. Ini bisa menyulitkan anak untuk makan.