pyrophobia takut api
kesehatan mental

Takut Api atau Pyrophobia, Begini Penyebab dan Gejalanya

Apa Anda pernah melihat orang yang sangat takut dengan kucing? Jangankan untuk mencoba mendekati, melihat kucing dari jarak dua meter saja ia sudah ketakutan. Bisa jadi ia mengalami fobia terhadap kucing karena dulu pernah dicakar sampai menimbulkan luka. Atau Anda sendiri yang memiliki ketakutan terhadap gelap dan ruangan sempit karena pernah terjebak dalam lift yang mati selama berjam-jam. Fobia adalah gangguan kecemasan yang menyebabkan seseorang memiliki ketakutan terhadap hal atau objek tertentu, termasuk pyrophobia atau ketakutan luar biasa terhadap api.

Pyrophobia adalah salah satu dari sekian banyak fobia spesifik. Fobia spesifik adalah ketakutan berlebih terhadap objek, hewan, situasi, atau aktivitas tertentu. biasanya, jenis fobia spesifik muncul ketika anak-anak dan gejalanya berkurang seiring bertambahnya usia. Seseorang yang mengalami pyrophobia akan merasakan kecemasan atau panik yang intens ketika memikirkan, berbicara, atau berada di sekitar api. Penyebab pyrophobia bisa karena berbagai hal,di antaranya:

Pengalaman Buruk

Sebagian besar penyebab phobia yaitu pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan sebelumnya dan masih teringat sampai saat ini, termasuk dengan phobia pada api atau pyrophobia. Contohnya seperti pernah terjebak dalam kebakaran hebat, mengalami luka bakar yang serius, atau kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga akibat kebakaran sehingga menimbulkan sedih berkepanjangan.

Faktor Genetik

Anak yang memiliki orang tua dengan gangguan kecemasan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami hal yang sama. Hasilnya terlihat ketika dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak memiliki gangguan psikologis apapun. Faktor kebiasaan juga berpengaruh menjadi penyebab seseorang mengalami pyrophobia. Misalnya, anak yang sejak kecil melihat anggota keluarganya takut terhadap api lama kelamaan juga menganggap ketakutan tersebut sebagai hal yang biasa.

Fungsi Otak

Pyrophobia bisa terjadi karena perubahan fungsi otak yang memproses rasa takut secara berbeda. Penderita merasa lebih cemas dan khawatir dibandingkan orang lain terhadap suatu objek.

Gejala yang dialami penderita pyrophobia mirip dengan respon untuk melawan atau lari dari situasi yang dianggap mengancam atau membuat tertekan.

Gejala Fisik

Karena berhubungan dengan gangguan kecemasan, maka gejala fisik pyrophobia yang kerap muncul yaitu detak jantung lebih cepat, nafas tersengal-sengal, dada terasa sesak, keringat dingin berlebihan, gemetar, sakit kepala, peningkatan ketegangan otot, mengganggu sistem pencernaan seperti sakit perut dan diare, hingga mual dan muntah. Jika gejala timbul pada anak maka mereka akan menunjukkan sikap menangis, rewel, tantrum, dan tidak mau berbicara.

Gejala Kognitif

Sedangkan gejala psikologis atau perubahan perilaku pada penderita pyrophobia yaitu:

  • Perasaan takut yang muncul secara tiba-tiba dan intens, serta merasakan ketakutan yang tidak masuk akal saat memikirkan, berbicara, atau berada di sekitar sumber api
  • Tidak mampu mengendalikan perasaan takut tersebut meski sudah tahu itu tidak masuk akal, tidak rasional, dan tak ada alasan
  • Menghindari situasi di mana ada api atau melakukan kegiatan yang berhubungan atau membutuhkan api
  • Kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari karena selalu takut kehadiran api dan kemungkinan terjadi kebakaran

Kapan harus periksa ke dokter?Jika Anda merasa kondisi pyrophobia sudah mengganggu pekerjaan, aktivitas sehari-hari, dan hubungan sosial, segera konsultasikan dengan dokter atau psikoterapis. Selain itu cara tubuh dan otak memproses phobia dan gejala phobia yang muncul antara satu orang dengan yang lainnya akan berbeda. Oleh karena itu harus diketahui diagnosis dari dokter ahli agar bisa memberikan penanganan yang sesuai.

kesehatan mental

Tidak Ada Sisi Positif dari Percaya Diri Berlebihan

Ada pepatah mengatakan lakukanlah segalanya sesuai dengan porsinya, jangan kurang dan jangan pula lebih. Aturan ini perlu juga diterapkan pada rasa percaya diri. Kurang pede tentu tidak baik, sebagaimana percaya diri berlebihan akan menimbulkan masalah yang beragam.

Percaya diri berlebihan ini sungguh problematis. Bahkan, ada sederet tragedi atau peristiwa nahas terjadi karena sikap ini menguasai daya nalar seseorang, organisasi, lembaga, atau entitas-entitas lain. Katakanlah tenggelamnya kapal Titanic, meledaknya reaktor nuklir di Chernobyl, dan sebagainya.

Tragedi itu berskala besar dan rasanya menjadi kurang relevan jika digunakan sebagai bahan refleksi diri, kendati memang pada dasarnya sama saja. Namun, di artikel ini akan coba dibahas mengenai sisi negatif percaya diri berlebihan yang skalanya lebih kecil dan berkaitan dengan kemungkinan apa yang bakal terjadi untuk diri kita, di antaranya:

  • Membuat seseorang merasa paling benar

Rasa percaya diri berlebihan pada gilirannya akan membuat seseorang menjadi anti terhadap kritik. Yang ada di dalam pikirannya, semua yang dilakukan hanyalah benar belaka. Kesalahan selalu hadir dari apa-apa yang berada di luar dirinya.

Menurut mereka, saran, masukan, atau kritik yang datang tidak akan mereka gubris, alih-alih menjadikan itu semua sebagai bahan untuk berubah menjadi lebih baik.

Jika kondisi ini terus berlangsung, pada akhirnya orang ini akan mendapat masalah dalam kehidupan sosialnya. Mungkin perlahan teman atau relasi mereka akan pergi menjauh. Sebab tidak ada yang betah berurusan dengan orang model seperti ini.

  • Instrospeksi diri bakal hilang dari kamus mereka

Masih berkaitan dengan sebelumnya, seseorang yang memiliki rasa percaya diri berlebihan cenderung tidak pernah menengok ke dalam untuk melakukan instrospeksi. 

Di mana kondisi ini akan membawa seseorang menjadi arogan merasa benar sendiri. Tentu saja ketika seseorang tak lagi dapat berintrospeksi, mereka akan kesulitan dalam bersosialisasi. Sebab orang-orang seperti ini cenderung menyalahgunakan kekuatan mereka untuk bertindak abusive.

  • Mudah melakukan kesalahan

Menyedihkannya, justru orang-orang dengan rasa percaya diri berlebihan paling sering berbuat kesalahan. Pasalnya rasa percaya diri yang membuncah membuat mereka menjadi kurang waspada dan berhati-hati. Dia pikir semuanya sudah berada di dalam jangkauannya. Dia pikir semua mampu diatasinya. Padahal dia lupa bahwa manusia tak pernah bisa terhindar dari luput dan salah.

  • Mereka tidak akan ke mana-mana

Rasa percaya diri berlebihan berpotensi besar membuat seseorang stuck di satu titik sampai mereka menyadarinya. Mereka tidak bisa berkembang, sebab rasa percaya diri berlebihan membuat mereka merasa puas dengan apa yang dimiliki sekarang.

Mereka jadi tidak mau belajar dalam segi apa pun. Belum lagi dengan kenyataan bahwa mereka cenderung denial terhadap kenyataan, termasuk saran, masukan, atau kritik yang datang kepadanya. 

Padahal, sepintar dan seahli apa pun seseorang dalam melakukan sesuatu, pasti akan ada kurang atau salah. Seseorang butuh perbaikan untuk maju dan berkembang. Jika tidak berubah, mereka tidak akan ke mana-mana.

  • Tentu saja mereka menjadi orang yang sombong

Terlampau percaya diri akan membuat seseorang mengalami fenomena narsistik yang salah satu tandanya adalah sikap sombong. Kondisi ini bukan hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi juga orang di sekitar. Jangan heran kalau banyak orang memilih menjauh darinya karena sifat dan kebiasaan buruk ini.

Tidak ada yang bisa dibenarkan dari sifat rasa percaya diri berlebih. Seseorang harus dapat mengenali batasnya. Pertanyannya adalah, apa yang dapat dijadikan sebagai batasan rasa percaya diri yang dimiliki berlebihan atau tidak? Untuk menjawabnya, tentu seseorang membutuhkan bantuan orang lain. Coba buka diri Anda dan tanyakan soal itu kepada orang yang dipercaya atau jika perlu menghubungi tenaga profesional.