Kesehatan Pria

Seperti Apa Hipospadia, Alasan dari Ketidaksuburan Pria Sebenarnya?

Jika Anda mengetahui seorang pria yang membuang air kecil dengan cara duduk atau bahkan diri Anda sendiri melakukan itu, alasan utamanya adalah hipospadia. Hipospadia merupakan kelainan atau cacat yang dibawa sejak lahir. Kondisi ini hanya dapat dialami oleh kaum pria. Pasalnya, kelainan ini berkaitan dengan uretra atau saluran buang air kecil yang juga menjadi saluran tempat dikeluarkannya air mani pria.

Pada kondisi normal, uretra pria berada di bagian ujung alat kemanin. Namun, bagi penderita hipospadia, lokasi uretra ini berada di bagian bawah kelamin atau bahkan pada bagian buah pelir. Jika kondisi ini tidak diatasi dengan tepat, maka ia akan berdampak pada kebiasaan buang air kecil pria, yang umumnya dilakukan secara berdiri, diharuskan untuk dilakukan dengan duduk. Dampak lain dari hipospadia dengan tingkat keparahan yang serius adalah risiko yang berujung pada ketidaksuburan pria. Walaupun begitu, kondisi ini ternyata umum dialami oleh kaum pria.

Bagaimana menangani hipospadia pada anak?

Beberapa kasus hipospadia tidak memerlukan cara penanganan atau prosedur medis tertentu. Namun, kasus lainnya perlu ditangani dengan melakukan tindakan operasi.

Kelainan ini dapat dideteksi seketika setelah bayi dilahirkan. Jika berdasar pada berbagai pertimbangan, umumnya dokter akan melakukan proses koreksi untuk mengatasi kondisi ini ketika bayi telah berusia 6-12 bulan, yang mana usia tersebut dapat dikatakan aman bagi bayi untuk mendapatkan tindakan operasi.

Sebagai catatan, jika anak Anda mengalami kondisi hipospadia, maka sebaiknya jangan melakukan sunat. Alasannya karena tidak akan ada lagi kulit tambahan yang dapat mereparasi uretra saat tindakan operasi dilakukan.

Setelah melakukan tindakan operasi, proses pemulihan umumnya dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Selama masa pemulihan, Anda perlu menjaga anak Anda dari berbagai aktivitas yang memerlukan kegiatan menunggangi sesuatu, seperti menggunakan walkers.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat terjadi setelah prosedur operasi, antara lain:

  • demam tinggi
  • mengalami kesulitan buang air kecil
  • adanya tanda kebiruan atau keunguan pada bagian ujung alat kelamin
  • perdarahan pasca operasi.

Jika hal yang disebutkan di atas terjadi pada anak Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.