Rendahnya Kadar Testosteron Adalah Tanda Bahaya, Ini Gejalanya
Kesehatan Pria

Rendahnya Kadar Testosteron Adalah Bahaya, Ini Gejalanya

Testosteron adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama oleh testis. Hormon testosteron dapat memengaruhi penampilan dan perkembangan seksual pria. Tak hanya itu, hormon testosteron juga merangsang produksi sperma serta dorongan seks pada pria serta membantu membangun massa otot dan tulang.

Produksi testosteron biasanya menurun seiring bertambahnya usia. Menurut American Urological Association, sekitar 2 dari 10 pria yang lebih tua dari 60 tahun memiliki kadar hormon testosteron yang rendah. Itu sedikit meningkat menjadi 3 dari 10 pria berusia 70-an dan 80-an.

Gejala Kadar Testosteron Rendah

Berbagai gejala dapat terjadi jika produksi testosteron turun drastis di bawah normal. Tanda-tanda testosteron rendah seringkali tidak kentara. Berikut adalah tanda-tanda bahwa testosteron Anda rendah.

1. Gairah Seks Rendah

Testosteron adalah hormon yang memainkan peran kunci dalam libido (dorongan seks) pada pria. Beberapa pria mungkin mengalami penurunan gairah seks seiring bertambahnya usia. Namun, seseorang dengan testosteron yang rendah akan mengalami penurunan keinginan berhubungan seks yang lebih drastis.

2. Kesulitan Ereksi

Testosteron juga membantu dalam mencapai dan mempertahankan ereksi. Testosteron saja tidak menyebabkan ereksi, tetapi merangsang reseptor di otak untuk menghasilkan oksida nitrat.

Oksida nitrat adalah molekul yang membantu memicu serangkaian reaksi kimia yang diperlukan untuk membuat ereksi terjadi. Ketika kadar testosteron terlalu rendah, seorang pria mungkin mengalami kesulitan mencapai ereksi sebelum berhubungan seks atau mengalami ereksi spontan (misalnya, saat tidur).

3. Volume Air Mani yang Rendah

Testosteron berperan dalam produksi air mani, yang merupakan cairan dengan warna seperti susu yang membantu motilitas sperma. Pria dengan testosteron rendah akan sering melihat penurunan volume air mani mereka saat ejakulasi.

4. Rambut Rontok

Testosteron berperan dalam beberapa fungsi tubuh, termasuk produksi rambut. Rendahnya testosteron adalah pemicu kebotakan pada banyak pria. Meskipun ada komponen yang diturunkan dari kebotakan, pria dengan testosteron rendah juga dapat mengalami kerontokan pada tubuh dan rambut wajah.

5. Kelelahan

Pria dengan testosteron rendah telah melaporkan kelelahan yang ekstrim dan penurunan tingkat energi. Anda mungkin memiliki testosteron yang rendah jika Anda merasa lelah sepanjang waktu meskipun sudah cukup tidur atau jika Anda merasa lebih sulit untuk termotivasi untuk berolahraga.

6. Kehilangan Massa Otot

Karena testosteron berperan dalam membangun otot, pria dengan testosteron rendah mungkin mengalami penurunan massa otot. Hal ini karena testosteron dapat memengaruhi massa otot.

7. Peningkatan Lemak Tubuh

Pria dengan T rendah juga dapat mengalami peningkatan lemak tubuh. Secara khusus, mereka terkadang mengembangkan ginekomastia atau jaringan payudara yang menjadi membesar. Efek ini diyakini terjadi karena ketidakseimbangan antara testosteron dan estrogen pada pria.

8. Massa Tulang Berkurang

Osteoporosis atau penipisan massa tulang, adalah kondisi yang sering dikaitkan dengan wanita. Namun, pria dengan testosteron rendah juga bisa mengalami pengeroposan tulang. Hal ini karena testosteron membantu memproduksi dan memperkuat tulang.

9. Perubahan Suasana Hati

Pria dengan testosteron rendah bisa mengalami perubahan mood, karena testosteron memengaruhi banyak proses fisik dalam tubuh, testosteron juga dapat memengaruhi suasana hati dan kapasitas mental. Pria dengan testosteron rendah lebih mungkin menghadapi depresi, lekas marah, atau kurang fokus.

10. Menurunnya Kemampuan Memori

Baik kadar testosteron dan fungsi kognitif terutama memori, akan menurun seiring bertambahnya usia. Akibatnya, dokter berteori bahwa kadar testosteron yang lebih rendah dapat berkontribusi pada memori yang terpengaruh.

11. Ukuran Testis Lebih Kecil

Kadar testosteron yang rendah dalam tubuh dapat menyebabkan testis menjadi berukuran lebih kecil dari rata-rata. Karena tubuh membutuhkan testosteron untuk mengembangkan penis dan testis, kadar yang rendah dapat menyebabkan penis atau testis yang lebih kecil secara tidak proporsional dibandingkan dengan pria dengan kadar testosteron normal.

12. Terkena Anemia

Rendahnya testosteron adalah salah satu pemicu peningkatan risiko anemia. Beberapa gejala anemia juga dapat menyebabkan gangguan termasuk masalah berkonsentrasi, pusing, kram kaki, masalah tidur, dan detak jantung yang tidak normal.

Fimosis, Masalah Kulup Penis yang Tak Bisa Dianggap Sepele
Kesehatan Pria

Fimosis, Masalah Kulup Penis yang Tak Bisa Dianggap Sepele

Fimosis adalah kondisi dimana kulup penis menempel dan tidak dapat ditarik kebelakang dari daerah ujung kepala penis. Saat fimosis terjadi pada anak-anak, keluhan ini sebenarnya tak memerlukan perhatian serta pengobatan khusus apapun. Sebab, keadaan dan kondisi kulup akan terus berubah dan berkembang hingga anak laki-laki memasuki usia pubertas. Namun, ketika gejala fimosis mampu menyebabkan beberapa keluhan seperti rasa sakit, perasaan nyeri saat ereksi, hingga munculnya jaringan parut yang tampak seperti cincin pada daerah ujung penis, hal inilah yang harus diwaspadai serta mendapat perhatian khusus untuk segera diatasi. 

Apa sebenarnya yang dapat jadi penyebab fimosis terjadi?

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan fimosis terjadi pada orang dewasa. Peradangan pada kepala penis adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan hal ini bisa terjadi. peradangan dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu:

  • Belum sunat

Membiarkan kulup tetap ada dengan tidak melakukan sunat atau khitan dipercaya dapat meningkatkan resiko peradangan yang terjadi. banyak yang menyebut bahwa kelenjar minyak yang terdapat pada kulup penis yang tidak disunat mampu meningkatkan resiko peradangan yang lebih tinggi saat kelenjar tersebut bertemu dengan air seni serta bakteri.

  • Tidak menjaga kebersihan kulup

Tidak menjaga kebersihkan kulup dengan baik jelas akan mudah menyebabkan datangnya masalah-masalah yang tidak diinginkan pada organ intim, salah satunya peradangan.

  • Balanitis

Balanitis bisa terjadi akibat menumpuknya kelenjar pada kulup yang akhirnya dapat menyebabkan peradangan hebat. Balanitis bisa ditandai dengan rasa nyeri yang parah, gatal, timbulnya rasa dan  sensasi terbakar, hingga keluarnya cairan kental dari daerah sekitar kulup.

  • Suka menarik paksa kulit penis

Jangan sepelekan hal satu ini, suka menarik paksa kulit penis juga bisa menyebabkan kulit penis mudah meradang dan akan semakin susah untuk ditarik.

  • Penggunaan kateter urine berulang

Orang yang sering menggunakan kateter urine secara berulang, dipercaya akan lebih mudah terkena resiko fimosis. Infeksi yang mungkin terjadi akibat penggunaan kateter mampu meningkatkan resiko peradangan yang dapat memicu fimosis terjadi.

Apa saja gejala fimosis yang dapat terjadi? 

Pada kondisi umum, orang yang mengidap fimosis mengalami kondisi kulup yang lebih ketat dan susah untuk ditarik ke bagian belakang penis. beberapa gejala lain fimosis yang mungkin dapat terjadi adalah timbulnya perasaan nyeri hebat saat ereksi, kemerahan dan rasa gatal, muncul rasa nyeri saat buang air kecil, hingga bengkak.

Lalu saat seseorang mengalami fimosis pada penis, langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi serta mengobati fimosis. Nantinya, pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan penyakit. 

  1. Sunat

Fimosis yang disebabkan oleh menumpuknya kelenjar pada kulup akibat peradangan dinilai bisa diatasi dengan metode pembedahan melalui sunat. Sunat dinilai akan membuat kulup terhindar dari penumpukan kelenjar yang dapat beresiko mengakibatkan peradangan.

  1. Obat serta antibiotik

Infeksi parah yang terjadi pada kulup seperti balanitis dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan serta antibiotik yang sesuai. Ini dilakukan untuk mengurangi radang dan infeksi yang bisa memperparah kondisi fimosis.

  1. Salep

Peradangan yang terjadi pada daerah sekitar kulup bisa diobati dengan rutin mengoleskan krim dokter pada area sekitar kulup. Penggunaan krim kortikosteroid dipercaya dapat membantu mengurangi masalah fimosis yang terjadi.

Itulah beberapa hal mengenai fimosis serta cara mengatasi fimosis yang dapat Anda lakukan. Saat penyakit ini menyebabkan beberapa keluhan yang cukup mengganggu sebaiknya segera konsultasikan pada dokter agar bisa dengan cepat diatasi.

Kesehatan Pria

Seperti Apa Hipospadia, Alasan dari Ketidaksuburan Pria Sebenarnya?

Jika Anda mengetahui seorang pria yang membuang air kecil dengan cara duduk atau bahkan diri Anda sendiri melakukan itu, alasan utamanya adalah hipospadia. Hipospadia merupakan kelainan atau cacat yang dibawa sejak lahir. Kondisi ini hanya dapat dialami oleh kaum pria. Pasalnya, kelainan ini berkaitan dengan uretra atau saluran buang air kecil yang juga menjadi saluran tempat dikeluarkannya air mani pria.

Pada kondisi normal, uretra pria berada di bagian ujung alat kemanin. Namun, bagi penderita hipospadia, lokasi uretra ini berada di bagian bawah kelamin atau bahkan pada bagian buah pelir. Jika kondisi ini tidak diatasi dengan tepat, maka ia akan berdampak pada kebiasaan buang air kecil pria, yang umumnya dilakukan secara berdiri, diharuskan untuk dilakukan dengan duduk. Dampak lain dari hipospadia dengan tingkat keparahan yang serius adalah risiko yang berujung pada ketidaksuburan pria. Walaupun begitu, kondisi ini ternyata umum dialami oleh kaum pria.

Bagaimana menangani hipospadia pada anak?

Beberapa kasus hipospadia tidak memerlukan cara penanganan atau prosedur medis tertentu. Namun, kasus lainnya perlu ditangani dengan melakukan tindakan operasi.

Kelainan ini dapat dideteksi seketika setelah bayi dilahirkan. Jika berdasar pada berbagai pertimbangan, umumnya dokter akan melakukan proses koreksi untuk mengatasi kondisi ini ketika bayi telah berusia 6-12 bulan, yang mana usia tersebut dapat dikatakan aman bagi bayi untuk mendapatkan tindakan operasi.

Sebagai catatan, jika anak Anda mengalami kondisi hipospadia, maka sebaiknya jangan melakukan sunat. Alasannya karena tidak akan ada lagi kulit tambahan yang dapat mereparasi uretra saat tindakan operasi dilakukan.

Setelah melakukan tindakan operasi, proses pemulihan umumnya dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Selama masa pemulihan, Anda perlu menjaga anak Anda dari berbagai aktivitas yang memerlukan kegiatan menunggangi sesuatu, seperti menggunakan walkers.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat terjadi setelah prosedur operasi, antara lain:

  • demam tinggi
  • mengalami kesulitan buang air kecil
  • adanya tanda kebiruan atau keunguan pada bagian ujung alat kelamin
  • perdarahan pasca operasi.

Jika hal yang disebutkan di atas terjadi pada anak Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.