Kulit dan Kecantikan

Penyakit yang Mesti Diwaspadai ketika Ketiak Terasa Nyeri

Pernahkah Anda merasa ketiak terasa nyeri secara tiba-tiba? Rasa nyeri yang terasa di ketiak sebenarnya cukup wajar dirasakan mengingat lokasi tersebut merupakan area sensitif yang mudah terdampak jika bagian tubuh lain mengalami suatu gejala sakit. Pada umumnya, ketiak terasa nyeri karena Anda sedang mengalami peradangan, infeksi, ataupun iritasi kulit.

Ketiak rasa nyeri terasa di bagian tubuh yang satu ini, orang pun cenderung meremehkan. Padahal mesti diingat, ketiak merupakan area sensitif yang terbangun atas saraf, pembuluh darah, hingga kelenjar getah benih. Rasa nyeri di ketiak memang cukup umum dirasakan seseorang. Namun, rasa nyeri tersebut juga dapat mejadi penanda adanya komplikasi yang cukup serius pada tubuh Anda. Nyatanya ketiak terasa nyeri memang menjadi gejala beberapa penyakit serius, seperti di bawah ini.  

  1. Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular, khususnya penyakit jantung koroner, umumnya ditandai dengan rasa tidak nyaman di bagian dada sebelah kiri. Namun ternyata, rasa nyeri akibat masalah kardiovaskular juga dapat terasa di bagian tubuh lain, seperti leher, rahang, punggung, dan tidak terkecuali ketiak.

Ketiak terasa nyeri yang menjadi penanda penyakit kardiovaskular umumnya dialami oleh perempuan. Ketika Anda merasa nyeri di ketiak terasa seperti hantaman benda tumpul, bisa jadi itu penanda adanya masalah jantung.

  • Kanker

Ketiak terasa nyeri yang terus-menerus dialami bisa jadi merupakan gejala kanker. Beberapa jenis kanker yang berkaitan erat dengan nyeri ketiak adalah kanker payidara, limfoma, ataupun leukemia, serta kanker sistem limfatik.

Nyeri di ketiak mudah terasa oleh penderita kanker karena terdapat kelenjar getah bening di ketiak. Di mana getah bening merupakan kelenjar yang terpaksa bekerja sangat keras ketika menghadapi sel kanker yang bersarang di tubuh bagian atas.

  • Kista

Kista merupakan benjolan yang tumbuh di bawah kulit. Benjolan ini dapat berisi udara, cairan, bahkan benda padat. Kista dapat tumbuh di mana saja.

Jika ia tumbuh di sekitar payudara ataupun bagian bawah lengan, salah satu gejalanya ada terasa nyeri di ketiak. Rasa nyeri terasa karena kista meninbulkan pembengkakan dan peradangan yang membuat nyeri.

  • Diabetes

Ketiak terasa nyeri juga dapat disebabkan oleh tingginya kadar gular darah. Penderita diabetes yang kerap merasa nyeri di bagian ketiak adalah penderita yang sudah lama mengalami penyakit kronis ini.

Rasa nyeri di ketiak akibat diabetes disebabkan bagian tubuh ini mengandung banyak saraf. Diabetes sendiri kerap memicu kerusakan saraf, tidak terkecuali di bagian di ketiak. Kerusakan inilah yang menyebabkan ketiak sering terasa terbakar akibat diabetes.

  • Herpes Zoster

Herpes zoster kerap dikenal dengan istilah cacar api. Penamaan cacar disematkan karena penyakit ini disebabkan oleh virus yang sama dengan penyebab cacar air, yaitu Varicella zoster. Perbedannya ketika Anda mengalami herpes zodter, bintil kulit berisi air yang timbul hanya tumbuh di salah satu sisi tubuh, tidak seperti cacar air yang lebih menyebar.

Salah satu gejala yang sering dialami penderita herpes zoster adalah ketiak terasa nyeri. Rasa nyeri yang ditimbulkan infeksi penyakit ini menimbulkan efek terbakar dan kesemutan di daerah yang terserang.

  • Penyakit Autoimun

Beberapa jenis masalah autoimun dapat berpengaruh pada tingkat kenyamanan di bagian ketiak. Khususnya ketika Anda mengalami masalah autoimun berjenis lupus, ketiak akan mudah terasa nyeri.

Paslanya, penyakit autoimun khususnya lupus cenderung memiliki kondisi jangka panjang yang membuat peradangan di seluruh tubuh. Peradangan tersebut juga akan mudah terjadi di kawasan kelenjar getah benih, salah satunya di bagian ketiak.

***

Karena itu, cobalah berkonsultasi ke dokter apabila Anda kerap mengalami ketiak terasa nyeri tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi, rasa nyeri tersebut merupakan gejala dari penyakit lain yang harus segera ditangani.

Kulit dan Kecantikan

Kulit Kaki Kering? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kulit kaki kering, terlebih jika kekeringan sudah menyebabkan kulit pecah-pecah dan terasa gatal. Meski umum terjadi, kondisi ini sebaiknya tidak dianggap sepele.

Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan kulit kaki Anda terasa kering. Beberapa faktor berasal dari dalam diri Anda, sementara beberapa faktor lainnya berasal dari luar. Cara utama untuk mengobatinya adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup dan menggunakan lebih banyak pelembab.

Faktor penyebab kulit kaki kering

Pada dasarnya, kulit menjadi kering apabila tidak mampu menyimpang cukup banyak air dari minyak alami dalam tubuh. Ada beberapa faktor yang paling umum menyebabkan kulit kaki kering, yaitu:

  • Eksim

Eksim adalah kondisi kulit yang terjadi akibat faktor genetik dan dipicu oleh sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini menyebabkan kulit menjadi merah, gatal, dan kering. Biasanya, eksim juga bisa muncul di area kaki dan menyebabkan kekeringan pada kulit kaki.

  • Perubahan cuaca

Perubahan cuaca merupakan salah satu faktor dari luar diri yang menimbulkan kekeringan kulit kaki. Saat udara menjadi dingin atau tingkat kelembaban udara rendah, kulit rentang mengalami kekeringan. Hal ini secara khusus terjadi di musim dingin.

  • Faktor usia

Faktor usia juga mempengaruhi kondisi kulit kaki yang kering. Seiring bertambahnya usia, kulit kaki menghasilkan lebih sedikit minyak alami, sehingga lebih mudah menjadi kering. Tidak hanya pada kaki, hal ini terjadi pada seluruh bagian tubuh secara keseluruhan.

  • Penyakit

Beberapa jenis penyakit juga bisa menyebabkan gejala berupa kulit kaki yang kering. Penyakit tersebut antara lain diabetes, penyakit ginjal, penyakit hati, HIV, penyakit tiroid, dan sindrom Sjogren.

  • Alergi

Kulit kaki kering juga bisa disebabkan karena faktor alergi pada kulit. Ketika kulit bersentuhan dengan zat tertentu, sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan dan menimbulkan reaksi alergi berupa kekeringan kulit. Zat pemicu alergi pada setiap orang berbeda-beda.

  • Psoriasis

Psoriasis merupakan penyakit autoimun yang terjadi pada kulit. Kondisi ini membuat kulit menghasilkan terlalu banyak sel kulit dalam satu waktu. Akibatnya, kulit kaki menjadi kering, gatal, bersisik, pecah-pecah, bahkan berdarah.

Cara mengatasi kulit kaki kering

Mengatasi kulit kaki kering bukanlah hal yang sulit. Anda bisa melakukan berbagai upaya penyembuhan tanpa harus melakukan pemeriksaan ke dokter. Upaya tersebut antara lain:

  • Memakai krim khusus kaki

Krim yang dikhususkan untuk kaki umumnya memiliki kandungan pelembab yang bisa melembabkan kulit kaki. Hal ini membantu dalam mengatasi kekeringan. Gunakan krim kaki setiap hari secara berkala. Anda bisa memakainya setiap sehabis mandi.

  • Produk hipoalergenik

Bagi Anda yang mengalami kekeringan kulit kaki akibat alergi, produk hipoalergenik bisa mungkin bisa membantu. Produk ini diformulasikan khusus untuk kulit sensitif agar tidak mudah muncul reaksi alergi berupa kekeringan kulit saat terpapar oleh zat tertentu.

  • Lanolin

Lanolin bisa digunakan pada kulit kering yang pecah-pecah dan kasar. Kandungan ini berfungsi untuk menjaga kelembaban pada kulit, termasuk kulit kaki. Anda bisa membeli lanolin secara bebas di apotek tanpa harus menggunakan resep dari dokter. Umumnya, produk ini digunakan oleh ibu hamil atau ibu menyusui.

Itulah beberapa upaya pengobatan sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi kulit kaki kering. Anda tidak harus berkonsultasi pada dokter apabila kondisi kekeringan belum parah dan menganggu aktivitas sehari-hari Anda.

Kulit dan Kecantikan

Apakah Cleansing Oil Benar-benar Bermanfaat Bagi Kulit?

Cleansing oil berguna untuk membersihkan make-up dan kotoran di wajah

Mencuci muka menggunakan cleansing oil sedang menjadi trend yang cukup populer belakangan ini. Banyak selebriti dan ahli kecantikan merekomendasikan penggunaan cleansing oil. Menurut para dermatolog, teori di balik penggunaan oil cleanser adalah minyak dipercaya dapat membersihkan minyak berlebih karena sifat kimianya yang sama dengan minyak wajah; berbeda dengan mencuci muka menggunakan air, yang mana akan memisahkan minyak. Namun, cleansing oil tidak untuk semua orang. Kebanyakan cleansing oil cocok digunakan oleh orang-orang dengan kulit kering yang membutuhkan sedikit kelembapan pada kulit mereka, dibandingkan dengan orang-orang dengan kulit yang memproduksi banyak minyak secara alami. Jadi, seberapa efektifkah cleansing oil untuk membersihkan muka?

Teknik penggunaan cleansing oil untuk membersihkan muka melibatkan minyak murni dan handuk yang dibasahi air hangat. Beberapa wanita, terutama mereka yang mengikuti perawatan wajah ala Korea, biasanya akan menggunakan sabun pencuci muka setelah menggunakan cleansing oil untuk membersihkan bekas-bekas minyak di wajah. Tujuan menggunakan minyak bersih dan bernutrisi pada wajah di antaranya adalah:

  • Mengangkat sebum berlebih, yaitu zat berminyak yang diproduksi oleh kelenjar pada kulit
  • Membersihkan pori-pori yang tersumbat seperti “whitehead” dan “blackhead”
  • Membersihkan sel kulit mati, polutan, dan makeup

Kebanyakan produk-produk pembersih makeup mengandung minyak karena cocok dalam mengangkat makeup dengan formula bebas minyak, berbasis minyak, dan tahan air dari kulit ataupun bulu mata. Sementara itu, pembersih tradisional dapat mengiritasi kulit, menyebabkan kulit kering dan jerawat, hingga akhirnya membuat kulit terlalu banyak memproduksi minyak setelah dibersihkan. Di sisi lain, cleansing oil dapat membantu menyeimbangkan kulit dan mengunci kelembapan serta hidrasi. 

Cleansing oil juga memiliki sifat penyembuhan, nutrisi penting, dan manfaat percantik kulit lainnya. Meskipun saat ini penelitian tentang manfaat cleansing oil masih terbilang sangat sedikit, sebuah studi kecil pada tahun 2010 menemukan bahwa cleansing oil cocok untuk kulit kering orang dewasa. Baru-baru ini, sebuah studi kecil lain juga menemukan bahwa orang dewasa dan anak-anak yang menggunakan minyak dua hari sekali memiliki perlindungan kulit yang berfungsi lebih baik dan lebih sedikit gejala kulit kering dibandingkan dengan mereka yang memakai pembersih bebas minyak. 

Seberapa sering cleansing oil digunakan?

Anda disarankan untuk menggunakan cleansing oil tidak lebih dari satu kali setiap harinya. Anda juga boleh tidak teratur dalam menggunakannya, khususnya sebagai sebuah bentuk perawatan spesial. Akan lebih baik apabila Anda menggunakan cleansing oil pada malam hari sehingga kulit akan terhidrasi sebelum tidur. 

Setelah menggunakan cleansing oil, kulit harus terasa fleksibel dan bebas makeup ataupun produk-produk lain. Tergantung dengan jenis kulit wajah, beberapa orang tidak perlu memakai produk pelembab setelah wajah dibersihkan menggunakan cleansing oil. 

Perlu diketahui bahwa cleansing oil dapat menyebabkan reaksi alergi, iritasi, dan pori-pori tersumbat. Sehingga, sangat penting untuk melakukan sedikit pengujian pada kulit terlebih dahulu sebelum mengoleskan cleansing oil pada muka Anda. Bagi orang-orang dengan jerawat kistik yang  ingin mencoba cleansing oil, konsultasi terlebih dahulu dengan dermatolog Anda untuk memastikan bahwa penggunaan minyak ini tidak akan membuat kondisi jerawat kistik menjadi semakin parah. Selain itu, beberapa penelitian memberikan bukti anecdotal bahwa penggunaan cleansing oil membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu sebelum akhirnya kulit dapat menyesuaikan. Apabila kulit menunjukkan reaksi kemerahan setelah memakai cleansing oil, Anda perlu menggunakan pembersih muka yang lembut setelah menggunakan cleansing oil, mengganti minyak, atau berhenti melakukan pembersihan dengan minyak.