Hal Penting Harus Diketahui Setelah Vaksinasi Bersama BUMN
Penyakit

Hal Penting Harus Diketahui Setelah Vaksinasi Bersama BUMN

Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya untuk pencegahan penularan infeksi virus Corona. Vaksinasi bersama BUMN pun telah berjalan sejak awal tahun ini secara bertahap. Vaksin ini direncanakan akan diberikan kepada masyarakat Indonesia dalam 2 dosis agar dapat menghasilkan reaksi imunitas yang optimal terhadap virus Corona.

Kita telah mengetahui persiapan-persiapan penting sebelum mendapatkan vaksinasi COVID-19 untuk meminimalisir efek samping bagi penerima vaksin. Tidak berbeda jauh dengan vaksin lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah mendapatkan vaksin corona, termasuk efek samping, hal yang boleh dilakukan serta hal yang sebaiknya tidak dilakukan setelah vaksin. 

Apa yang harus dilakukan setelah vaksin COVID-19?

1. Perhatikan Efek Samping Vaksin

Biasanya, seseorang akan diminta untuk menunggu beberapa waktu antara 15-20 menit setelah pemberian vaksin. Tenaga kesehatan akan memantau reaksi yang mungkin saja terjadi setelah seseorang menerima vaksin. Tujuannya adalah agar dokter dapat memastikan orang tersebut tidak mengalami efek samping yang berbahaya.

Pemberian vaksin COVID-19 pasti akan menimbulkan beberapa efek samping ringan, seperti nyeri atau bengkak pada bagian tubuh yang disuntik, demam ringan, sakit kepala, menggigil sampai mudah merasa lelah. Biasanya, efek samping ringan akan hilang dalam beberapa hari. 

Namun sebaiknya berhati-hati apabila gejala semakin parah, seperti sesak napas, reaksi alergi dan anafilaksis. Segera pergi ke rumah sakit terdekat jika mengalami kejang, demam tinggi, nyeri atau ruam yang tidak kunjung hilang. Untuk menghindarinya, sebaiknya beristirahatlah beberapa hari setelah mendapatkan vaksin COVID-19 bersama BUMN.

2. Istirahat untuk Meredakan Efek Samping

Istirahat yang cukup dapat meredakan berbagai gejala efek samping ringan setelah pemberian vaksin COVID-19. Kompreslah area yang disuntik dengan air dingin. Jangan lupa untuk menggerakkan bagian lengan yang disuntik dengan rutin. Selain itu, kamu juga bisa menggunakan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol.

3. Antibodi Pasca Vaksin Tidak Langsung Terbentuk

Vaksin Covid-19 akan mendorong tubuh untuk membentuk antibodi yang berguna dalam melawan infeksi virus Corona. Namun imunitas yang terbentuk pasca pemberian vaksin tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian orang mungkin baru akan mendapatkan respons imun lebih kuat usai divaksin dosis kedua daripada yang lain.

Oleh sebab itu, para ahli di bidang kesehatan mewajibkan setiap orang untuk mendapatkan 2 dosis suntikan vaksin COVID-19 dalam jangka waktu yang ditentukan. Diperlukan waktu dua hingga tiga minggu setelah disuntik vaksin COVID-19 kedua sebelum antibodi terbentuk dengan maksimal.

4. Tetap Menggunakan Masker dan Menerapkan Protokol Kesehatan

Seseorang yang telah menerima vaksin COVID-19 dengan efikasi paling tinggi melebihi 90 persen, tetap masih ada risiko terinfeksi hingga menunjukkan gejala ringan. Oleh karenanya, protokol kesehatan harus tetap diterapkan dengan mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak. 

5. Virus Corona Terus Bermutasi

Seperti virus lainnya, SARS-CoV-2 mengalami mutasi. Terbukti, beberapa varian baru virus Corona ditemukan di sejumlah negara, seperti Inggris, Brasil dan Afrika Selatan. Para ahli mengingatkan bahwa antibodi yang terbentuk dari vaksinasi COVID-19 bersama BUMN sebelumnya, tidak bisa melawan varian baru virus Corona. 

6. Belum Ada Kepastian Berapa Lama Antibodi Bertahan

Sampai saat ini belum ada yang mengetahui dengan pasti berapa lama antibodi dapat bertahan pasca divaksin COVID-19. Apakah antibodi akan bertahan hingga bertahun-tahun atau hanya beberapa bulan saja? Hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar dan harus diteliti lebih lanjut lagi.

Perlu diingat bahwa penularan virus COVID-19 masih sangat tinggi di indonesia. Oleh sebab itu, program vaksinasi bersama BUMN harus didukung dan kita sebagai warga Indonesia harus aktif ikut serta untuk mendapatkan vaksin dengan mengikuti prosedur yang berlaku. 

Penyakit

Hal-hal Seputar Penyakit Leukemia dan Penyebabnya

Bagi sebagian dari Anda, nama penyakit Leukemia mungkin sudah tidak asing. Ini merupakan salah satu jenis kanker yang cukup terkenal dan berbahaya atau mengancam jiwa.

Meskipun penyakit kanker ini sudah cukup banyak dikenal, tapi belum semua orang benar-benar mengetahui informasi mendetail mengenai penyakit ini. Padahal, sebagai upaya antisipasi, penting bagi Anda untuk memahami apa saja ciri-ciri gejala dari penyakit ini.

Leukemia penyakit keturunan dalam keluarga

Apa penyebab penyakit leukemia?

Layaknya penyakit kanker pada umumnya, belum ada penelitian yang bisa membuktikan apa sebenarnya penyebab seseorang menderita leukemia. Sejauh ini, para ahli hanya mampu memperkirakan bahwa leukemia terjadi ketika beberapa sel darah bermutasi. 

DNA di dalam darah memiliki fungsi untuk memberikan instruksi pada sel darah untuk membelah diri atau berkembang biak. Bagi penderita leukemia, DNA di dalam darahnya terus memberikan instruksi bagi sel darah untuk bertumbuh dan menyebabkan gejala leukemia.

Tidak diketahui dengan pasti apa yang membuat DNA memberikan instruksi semacam ini. Ketika sel darah terus membelah diri, maka akan menyebabkan produksi sel darah yang tidak terkendali.

Saat sel darah diproduksi dalam jumlah berlebih, sel-sel abnormal dapat menekan sel darah yang sehat di sumsum tulang, membuat akan ada lebih sedikit sel darah putih dan sel darah merah yang sehat. Inilah yang menjadi salah satu tanda umum dari penyakit leukemia.

Seperti apa tanda-tanda penderita leukemia?

Setiap penderita bisa saja merasakan gejala yang berbeda-beda. Tapi, umumnya gejala yang dialami akan berupa:

  • Pembekuan darah yang buruk

Pembekuan darah akan membuat seseorang mudah mengalami memar. Selain itu, orang yang mengalami pembekuan darah akan kesulitan untuk sembuh dari luka dan pendarahan. 

Tidak jarang, penderita leukemia yang mengalami pembekuan darah juga akan mengembangkan bintik merah dan ungu kecil di tubuh yang disebut petechiae.

  • Anemia

Gejala umum lainnya dari penyakit leukemia adalah anemia. Semakin sedikit jumlah sel darah yang efektif di dalam tubuh, maka Anda semakin rentan mengalami anemia.

Anemia terjadi saat tubuh tidak memiliki kadar hemoglobin dalam darah yang cukup. Hemoglobin ini memiliki peran untuk mengangkat zat besi ke seluruh tubuh. Saat tubuh kekurangan zat besi, Anda akan kesulitan bernapas dan kulit menjadi lebih pucat. 

  • Infeksi dalam intensitas yang cukup sering

Ciri-ciri berikutnya dari penyakit leukemia adalah kondisi infeksi yang sering terjadi. Infeksi ini bisa terjadi karena leukemia membuat Anda kekurangan sel darah putih yang sehat.

Sel darah putih Anda berperan dalam melawan infeksi. Saat sel darah putih tidak bisa bekerja dengan benar, sistem kekebalan tubuh akan melawan sel-sel tubuh Anda sendiri dan membuat Anda lebih sering mengalami infeksi.

  • Kelelahan

Orang-orang yang menderita leukemia lebih sering mengalami lesu dan kelelahan. Bahkan, rasa lelah ini tidak kunjung membaik meski Anda sudah tidur dan beristirahat sekalipun.

Pada malam hari, Anda mungkin juga akan mengalami produksi keringat berlebih. Berat badan Anda pun akan mengalami penurunan secara drastis yang tidak disengaja.

Saat Anda mengalami kondisi-kondisi di atas, maka kemungkinan besar Anda menderita leukemia. Sebaiknya, jangan remehkan gejala-gejala tersebut. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter Anda.

Semakin cepat kondisi penyakit leukemia terdeteksi, maka semakin besar juga peluang bagi Anda untuk mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Dengan begitu, Anda bisa terhindar dari komplikasi yang lebih parah.

Penyakit

Inilah Perbedaan Tb dan Tbc (Tuberkulosis)

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang juga sering disingkat TB ini biasanya menyerang paru-paru. Di Indonesia sendiri, TBC merupakan satu dari 10 penyebab kematian tertinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada 842.000 kasus TBC pada tahun 2018.Terdapat dua jenis infeksi TBC, yaitu TB aktif dan TB laten. 

Penderita TBC harus menutup mulut ketika batuk dan bersin agar tidak menularkan bakteri ke orang lain
  • TB aktif

TB aktif adalah tuberkulosis yang menyebabkan gejala dan menular. Beberapa gejala umumnya meliputi batuk lebih dari tiga minggu, keringat di malam hari, nyeri dada, dan penurunan berat badan.Pengidap TB aktif dapat menularkan bakteri pada orang lain melalui percikan ludah ketika batuk, bersin, atau berbicara.

  • TB laten

Pada TB laten, penderita tidak menunjukkan gejala dan tidak merasa sakit. Bakteri tuberkulosis bersifat tidak aktif (dorman) di dalam tubuh pengidap. Karena itu, penderita tidak bisa menularkannya pada orang lain. Namun TB laten bisa saja berubah menjadi TB aktif di kemudian hari, sehingga dapat menular ke orang lain. Jadi penyakit TBC ini tetap perlu diobati.

Tuberkulosis juga dapat memengaruhi bagian lain tubuh, termasuk tulang, usus, ginjal, kelenjar getah bening, dan otak. Gejala TBC akan bervariasi sesuai dengan organ yang terinfeksi. Sebagai contoh, gejala TBC tulang dapat mencakup nyeri punggung, pembengkakan di sekitar tulang belakang, dan rasa kaku. Sementara gejala TBC usus bisa berupa sering mual dan kembung, serta penurunan nafsu makan secara drastis.

Nah, ini beberapa perbedaan dari TB tulang dan TB paru yang harus Anda ketahui.

  • Tuberkulosis atau TB pada Paru-Paru

Seseorang yang mengidap tuberkulosis (TB) pada paru-parunya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi bagian tersebut saat masuk ke tubuh. Namun, gangguan ini dapat menyebar dari paru-paru ke bagian tubuh lainnya. Penyakit ini masuk dalam 10 besar penyebab kematian di seluruh dunia, terutama terjadi di negara berkembang.

Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain melalui udara ketika pengidapnya batuk, bersin, hingga hanya berbicara. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui udara sehingga masuk ke tubuh orang lain. Jika sistem imun tubuhnya tidak dapat membunuh bakteri tersebut sebelum menyebabkan infeksi, maka tuberkulosis dapat terjadi.

Namun, perlu diketahui juga perbedaan antara pengidap TB paru laten dengan yang aktif. Seseorang yang terinfeksi penyakit ini akan memiliki bakteri tersebut di dalam tubuhnya. Namun, beberapa orang tidak mengalami sakit apa pun karena sistem kekebalan tubuhnya mampu melindunginya dari kuman tersebut tapi dapat menyebarkannya kepada orang lain. Gangguan ini disebut juga TB paru laten.

  • Tuberkulosis atau TB pada Tulang

TB tulang dapat terjadi ketika seseorang yang mengidap tuberkulosis pada paru-paru menyebar ke luar bagian tersebut. Penyebaran dari gangguan ini sama seperti TB paru, yaitu melalui udara. Setelah tertular TB paru, bakteri tersebut dapat berpindah melalui darah dari paru-paru ke tulang, tulang belakang, hingga sendi yang membuat seseorang mengidap TB tulang.

Penyakit TB pada tulang terbilang jarang terjadi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan pada gangguan ini, terutama pada negara-negara berkembang. Risiko ini juga meningkat akibat penyebaran AIDS. Meskipun jarang terjadi, ternyata untuk mendiagnosis penyakit ini terbilang sulit dilakukan dan dapat menyebabkan masalah yang berbahaya jika tidak segera ditangani.

Seseorang yang mengidap TB tulang dapat menimbulkan beberapa gejala ketika terserang, seperti demam, menurunnya nafsu makan yang berakhir pada penurunan berat badan, hingga keluarnya keringat di malam hari. Beberapa gejala lainnya yang dapat terjadi adalah nyeri pada punggung, tubuh menjadi bungkuk, pembengkakan pada tulang belakang, hingga tubuh yang terasa kaku dan tegang.

Itulah perbedaan TB dan TBC (Tb Paru). Jadi, tuberkulosis tidak hanya menyerang paru – paru atau yang sering disebut dengan TBC. Jika Anda mengalami kondisi ini, segeralah untuk periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Penyakit

6 Perbedaan Swab Antigen dan PCR

Saat ini screening untuk melihat ada tidaknya infeksi virus corona baru di dalam tubuh yang populer dilakukan ada dua cara, yaitu tes swab antigen dan PCR. Keduanya diklaim sama-sama memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk bisa melihat ada tidaknya paparan Covid 19 dalam tubuh Anda. 

Dari cara pengambilan sampel, tidak ada perbedaan swab antigen dan PCR yang cukup signifikan. Sampe keduanya diambil dari lendir di saluran pernapasan atau kerongkongan lewat cara pengusapan menggunakan alat. Meskipun demikian jika dibedah, ternyata banyak perbedaan swab antigen dan PCR yang perlu Anda perhatikan. 

Berikut ini adalah beberapa perbedaan swab antigen dan PCR yang cukup krusial. Apakah sudah ada yang Anda ketahui sebelumnya atau justru Anda cukup terkejut mengetahui perbedaan kedua tes untuk Covid 19 ini? 

Komponen Virus yang Dideteksi 

Bagaimanapun, kedua tes untuk mendeteksi ini bisa mengetahui ada tidaknya paparan virus corona baru di dalam tubuh Anda. Hanya saja, penelitian terkait komponen virus yang dideteksi tidaklah sama. Pada saat melakukan swab tes antigen, yang dilihat adalah protein virus Covid 19 di dalam tubuh yang muncul ketika puncak infeksi. Sementara itu, pada tes PCR, pemeriksaan laboratorium mendeteksi ada tidaknya virus Covid 19 di dalam tubuh lewat keberadaan material genetik dari virus tersebut. 

Cara Pengetesan

Sepintas Anda mungkin berpikir tidak ada perbedaan swab antigen dan PCR dari segi cara pengetesan. Soalnya, keduanya sama-sama melakukan pengambilan sampel dari pengusapkan untuk mendapatkan lendir di saluran pernapasan. Namun, perbedaan justru tampak jelas setelah pengambilan sampel. Pada tes antigen, sampel yang berhasil diambil hanya tinggal ditaruh di alat atau kit antigen guna bisa mengeluarkan hasil positif atau negatif. Sementara ketika Anda melakukan tes swab PCR, sampel yang didapat akan ditaruh dalam wadah untuk nantinya dialihkan ke pengecekan laboratorium menggunakan teknik polymerase chain reaction. 

Rentang Waktu Hasil 

Perbedaan swan antigen dan PCR paling terlihat dari seberapa hasil tes dperoleh. Anda hanya perlu menunggu sekitar 15—30 menit untuk mendapatkan hasil dari tes swab antigen yang Anda lakukan. Sementara ketika memutuskan memilih tes swab PCR, Anda perlu menungu 2—4 hari untuk pemerolehan hasil. Ini karena sampel mesti dibawa ke laboratorium dan dilakukan pengecekan menggunakan alat dan teknik tertentu. 

Waktu Terbaik Pengetesan 

Sebenarnya, setiap saat semua orang bisa melakukan tes swab antigen maupun swab PCR. Namun tahukah Anda, ada waktu terbaik untuk melakukan pengetesan Covid 19 untuk hasil yang paling akurat. Untuk swab antigen, waktu terbaik pengetesannya adalah 5 hari setelah kontak erat atau 1—5 hari setelah muncul gejala. Lalu untuk swab PCR, Anda bisa melakukan tes ini 8 hari setelah kontak erat atau 3—5 hari setelah ada gejala untuk memperoleh hasil paling akurat. 

Tingkat Akurasi 

Baik swab antigen maupun PCR disebut-sebut memiliki tingkat akurasi hasil yang tinggi hingga di atas 90 persen. Hal ini tidak salah. Hanya saja jika dibedah, akurasi hasil negatif untuk antigen lebih tidak akurat dibandingkan swab PCR. Ini karena tingkat sensitivitas antigen hanya berkisar 50 persen ketika hasilnya negatif, kemungkinan keliru masih tergolong besar. Namun, hasil spesifikasinya sama tinggi dengan PCR sehingga jika hasilnya positif, tingkat akurasinya tinggi di atas 90 persen. 

Harga Tes 

Perbedaan swab antigen dan PCR yang tidak kalah mencolok adalah dari segi harga. Berdasarkan ketetapan pemerintah, harga maksimal untuk tes swab PCR adalah Rp900 ribu. Sementara itu untuk tes swab antigen, harga maksimal yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp250 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp275 ribu untuk luar Pulau Jawa. Meskipun demikian, saat ini Anda bisa dengan mudah menemukan harga kedua tes tersebut yang berada di bawah rata-rata ketetapan pemerintah.

Jangan terlalu mempersoalkan perbedaan swab antigen dan PCR. Yang jelas jika menemukan gejala, segera lakukan tes screening Covid 19 dan lakukan isolasi mandiri agar penularan bisa diminimalkan. 

Penyebab Benjolan di Paha yang Terasa Sakit
Penyakit

Penyebab Benjolan di Paha yang Terasa Sakit

Benjolan di paha merupakan suatu kondisi di mana ada tonjolan, benjolan, nodul, memar, tumor, atau daerah bengkak di daerah paha. Benjolan di paha dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti infeksi, peradangan, tumor, dan trauma. Tergantung pada penyebabnya, benjolan di paha mungkin tunggal atau ganda, lunak atau keras, nyeri atau tidak nyeri. Benjolan tersebut bisa tumbuh dengan cepat atau mungkin tidak berubah dalam ukuran. Anda yang mengalami benjolan di paha mungkin juga memiliki gejala lain, tergantung pada penyebab timbulnya benjolan di paha.

Penyebab Benjolan di Paha Terasa Sakit

Ada banyak faktor potensial yang dapat menjadi penyebab timbulnya benjolan di paha yang terasa menyakitkan. Biasanya, hal ini disebabkan oleh kondisi kulit tertentu. 

Berikut beberapa penyebab timbulnya benjolan di paha yang menimbulkan rasa sakit.

1. Infeksi

Ada banyak bagian kulit yang rentan terkena infeksi, sehingga dapat menyebabkan benjolan di paha yang menyakitkan, seperti berikut ini.

Folikel Rambut yang Terinfeksi

Folikel merupakan area di mana setiap helai rambut tumbuh dari kulit. Ketika folikel ini terinfeksi, yang pada umumnya disebabkan karena bakteri atau jamur, maka akan menimbulkan folikulitis yang ditandai dengan area kulit tersebut menjadi merah, nyeri, dan bengkak.

Selulitis

Selulitis adalah kondisi di mana luka terbuka pada kulit menjadi terinfeksi karena ada paparan zat iritan.

Abses

Infeksi pada kulit pada akhirnya bisa berubah menjadi abses yang merupakan kantong nanah.

Pembesaran Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening adalah kelenjar kecil tempat sel-sel yang bekerja melawan infeksi hidup. Jika terjadi infeksi, maka akan menimbulkan reaksi yaitu kelenjar getah bening membesar dan timbul sebagai benjolan di paha. 

2. Trauma

Benjolan di paha yang terasa nyeri juga dapat disebabkan oleh trauma. Jika Anda pernah menabrak sesuatu, digigit serangga, atau bersentuhan dengan benda tajam, benjolan di paha bisa jadi merupakan reaksi tubuh Anda terhadap trauma tersebut.

3. Pertumbuhan Sel yang Tidak Normal

Tubuh manusia terdiri dari banyak sel yang terus tumbuh dan membelah. Biasanya, tubuh bisa memastikan sel-sel tumbuh secara normal. Akan tetapi, kadang-kadang tubuh juga mungkin mengalami pertumbuhan abnormal. Benjolan di paha dapat disebabkan oleh jenis pertumbuhan sel abnormal seperti berikut ini:

  • Pertumbuhan sel lemak yang tidak normal.
  • Pertumbuhan tidak normal pada sel tulang, tulang rawan, otot atau tendon.
  • Pertumbuhan sel kulit dan folikel rambut yang tidak normal.

4. Lipoma

Lipoma sering disebut sebagai tumor lemak, tetapi bukan merupakan kanker. Lipoma adalah pertumbuhan lemak yang terjadi di antara lapisan otot dan kulit di atasnya. Penyebab pastinya tidak diketahui. Kondisi lipoma ini paling sering muncul setelah usia 40 tahun.

5. Dermatofibroma

Dermatofibroma adalah pertumbuhan kulit yang biasanya muncul di kaki bagian bawah, tetapi dapat muncul di bagian tubuh mana pun. Dermatofibroma bukan merupakan kanker, dan sering terjadi pada orang dewasa, dan jarang ditemukan pada anak-anak. 

6. Abses kulit

Abses kulit adalah kantung besar berisi nanah yang terbentuk tepat di bawah kulit. Abses bisa disebabkan oleh bakteri yang masuk ke bawah kulit, biasanya melalui luka kecil atau goresan, dan mulai berkembang biak. Tubuh melawan invasi bakteri tersebut dengan sel darah putih, yang membunuh beberapa jaringan yang terinfeksi tetapi membentuk nanah di dalam rongga yang tersisa.

7. Kista kulit

Kista adalah suatu benjolan kecil, pada umumnya berisi cairan, udara, lemak, atau bahan lain, yang mulai tumbuh di suatu tempat di tubuh tanpa alasan yang jelas. Sedangkan kista kulit adalah kista yang terbentuk tepat berada di bawah kulit.

Kista kulit diyakini terbentuk di sekitar sel keratin yang terperangkap, yaitu sel yang membentuk lapisan luar kulit yang relatif keras. Kista ini tidak menular. Siapa pun bisa mengalami kista kulit, tetapi paling sering terjadi pada mereka yang berusia di atas 18 tahun, memiliki jerawat, atau kulitnya terluka.

Rasa sakit yang Anda rasakan pada benjolan di paha bergantung pada penyebabnya. Benjolan di paha yang disebabkan oleh infeksi mungkin menyakitkan karena respons kekebalan tubuh bereaksi terhadap infeksi, dan Anda merasa sakit karena tubuh memperingatkan Anda bahwa ada sesuatu yang salah. Jika tidak segera sembuh, Anda harus mencari pengobatan dengan berkonsultasi kepada dokter, agar segera diberi penanganan yang cepat dan tepat.

Penyakit

Pusing Kepala Bagian Belakang, Mungkin Gejala Neuralgia Oksipital

Pusing kepala bagian belakang atau terjadi pada bagian leher merupakan masalah yang sering terjadi, dengan berbagai aktivitas seperti sering melihat layar smartphone ataupun layar laptop Anda dalam jangka waktu yang lama. Kebiasan seperti ini merupakan hal yang lazim dilakukan oleh semua orang saat ini. Maka jika rasa sakit seperti ini sering dialami secara terus-menerus akan berdampak pada kepala dan leher terkena gangguan saraf oksipital. 

Sakit leher sebelah kanan dapat disebabkan oleh saraf kejepit.

Neuralgia oksipital ini merupakan jenis gangguan sakit kepala kronis, Hal ini terjadi ketika rasa sakit berasal dari daerah oksipital dan menyebar melalui saraf oksipital. Saraf ini berada pada bagian atas sumsum tulang belakang kulit kepala Anda. 

Sakit Neuralgia oksipital ini bisa dipicu dengan cepat, bahkan dengan sentuhan sederhana seperti sedang menyisir rambut, paling parah dari sakit neuralgia oksipital bisa terjadi serangan singkat dengan rasa sakit yang sangat hebat dan berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit terjadi. Nyeri sakit kepala yang parah akan berlangsung lebih lama daripada nyeri akibat neuralgia oksipital. 

Gejala Neuralgia Oksipital 

Neuralgia Oksipital ini akan mengalami gejala yang dapat menyebabkan nyeri yang sangat hebat seperti terasa sengatan listrik pada bagian belakang kepala dan leher, gejala lainya yaitu : 

  • Nyeri, terbakar, dan berdenyut-denyut yang biasanya dimulai di pangkal kepala dan sampai ke kulit kepala
  • Nyeri di satu atau kedua sisi kepala
  • Sakit di belakang mata
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Kulit kepala yang lembut
  • Sakit saat Anda menggerakkan leher

Penyebab Neuralgia Oksipital 

Neuralgia Oksipital ini sering disebabkan oleh saraf kejepit pada akar leher. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa disebabkan oleh cedera kepala atau leher. Ketegangan leher kronis menjadi penyebab umum, kondisi lain penyebabnya diantaranya seperti 

  • Osteoarthritis, terutama pada tulang belakang leher bagian atas, yang dapat menjepit saraf
  • Tumor yang mempengaruhi akar saraf
  • Radang pembuluh darah
  • Encok
  • Infeksi
  • Trauma di bagian belakang kepala
  • Ketegangan leher atau otot leher yang tegang

Diagnosa Neuralgia Oksipital

Tidak mudah untuk mendiagnosa neuralgia oksipital secara sendiri, karena terdapat berbagai gejala dengan sakit kepala lainnya seperti Pusing kepala bagian belakang. Agar tahu apakah sakit kepala yang dialami Anda merupakan neuralgia oksipital tentu harus segera diperiksakan ke dokter. 

Dokter akan memulai menanyakan apa yang terjadi dan gejalanya. Seperti seberapa parah rasa sakit, dan seberapa sering rasa sakit terjadi, di mana rasa sakit itu terjadi serta pemicu dari rasa sakit yang terjadi. Selain itu juga dilakukan :

  • ambil riwayat kesehatan
  • melakukan pemeriksaan fisik
  • melakukan pemindaian ultrasound
  • merekomendasikan pemindaian atau tes lain untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya. 

Pada proses pemeriksaan fisik oleh dokter. Dokter akan melakukan proses menekan area di mana saraf oksipital bekerja, untuk memastikan bahwa tekanan yang dilakukan menimbulkan rasa sakit. 

Meringankan Rasa Sakit Neuralgia Oksipital 

Pertama yang dilakukan yaitu menghilangkan rasa sakit pusing kepala bagian belakang yaitu dengan cara : 

  • Beristirahat di ruangan yang tenang
  • Pijat otot pada bagian leher yang terasa kencang dan nyeri. 
  • Minum obat antiinflamasi yang dijual bebas, seperti naproxen atau ibuprofen. 

Apabila hal itu tidak dapat membantu, Anda bisa segera dating kedokter untuk melakukan konsultasi atas apa yang Anda alami. Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk Anda seperti 

  • Resep relaksan otot 
  • Obat anti kejang 
  • Obat antidepresan 
  • Dokter mungkin akan melakukan suntikan steroid dan blok saraf. Penyumbatan saraf mungkin dilakukan dokter untuk mendiagnosa kondisi Anda, hal ini bisa menjadi pengobatan jangka pendek. Mungkin dilakukan dua hingga tiga suntikan selama beberapa minggu untuk mengendalikan rasa sakit Anda. Namun, tidak jarang masalah akan muncul lagi pada beberapa titik dan membutuhkan suntikan lain. 

Neuralgia oksipital bisa menyakitkan. Namun, berbagai pilihan pengobatan tersedia untuk meningkatkan kemungkinan Anda dapat mengelolanya dengan sukses, terutama jika penyebab utamanya diobati. Meskipun kondisi ini tidak mengancam jiwa, namun menyakitkan. Jadi, buatlah janji bertemu dokter jika Anda mengalami gejala tersebut.

Penyakit

Trik Simpel Cegah Polip Tenggorokan Menyerang

Jangan menganggap enteng polip tenggorokan. Tumbuhnya lesi atau polip di bagian tenggorokan ini dapat menyebabkan pita suara Anda rusak secara permanen jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat. Anda pun akan mudah merasa lelah dan sakit di bagian leher apabila penyakit ini menimpa Anda. 

Banyak faktor yang bisa memicu munculnya polip di bagian tenggorokan Anda. Penyebab dari polip tenggorokan biasanya mengarah pada produksi suara yang terlalu keras secara berkesinambungan dengan teknik yang tidak tepat. Karena alasan inilah, orang-orang yang perprofesi sebagai penyanyi, penyiar radio, ataupun cheersleader kerap mengalami masalah pita suara yang satu ini. 

Selain banyak penyebab yang memungkinkan munculnya polip tenggorokan pada diri Anda, banyak cara pula untu mencegahnya. Berikut ini adalah beberapa trik simpel yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan pita suara dan mencegah munculnya polip tenggorokan. 

  1. Minum Banyak Air 

Setidaknya tiap orang mengonsumsi air putih sebanyak 2,5—3 liter tiap harinya. Hal ini bukan tanpa alasan. Banyak organ tubuh yang memerlukan air untuk menghindari peradangan dan menjaga kinerjanya, tidak terkecuali dengan tenggorokan. Mengonsumsi banyak air tiap hari dapat minimalkan risiko peradangan yang memunculkan polip di bagian tenggorokan Anda. 

  1. Hindari Asap Rokok 

Merokok dapat membuat pita suara dan tenggorokan mengalami iritasi dan peradangan yang berujung pada polip tenggorokan. Jadi untuk menjaga kesehatan tenggorokan dan pita suara Anda, jauhilah rokok. Bukan hanya menghilangkan kebiasaan merokok, Anda mesti memastikan terhindar dari asap rokok agar tidak mudah terkena polip tenggorokan. 

  1. Batasi Asupan Alkohol dan Kafein 

Alkohol mudah membuat tenggorokan menjadi kering dan memicu peradangan yang berujung pada tumbuhnya lesi. Hal yang sama terjadi apabila Anda terlalu sering mengonsumsi makanan mengandung kafein, seperti kopi, teh, ataupun cokelat. MulaI sekarang, batasi pengonsumsian alkohol dan kafein untuk bisa meminimalkan risiko mengalami polip tenggorokan. 

  1. Tidur Nyenyak 

Tidur yang cukup sebanyak 6—8 jam dalam sehari dapat menghindarkan Anda dari beragam masalah kesehatan, tidak terkecuali dari risiko terkena polip tenggorokan. Dengan tidur yang cukup, organ-organ tubuh pun akan lebih rileks dan mencegah terjadinya peradangan. Dengan begitu, risiko pertumbuhan lesi ataupun polip di berbagai bagian tubuh, tidak terkecuali di tenggorokan, juga dapat dihindari. 

  1. Kelola Stres 

Serin menjalani hobi yang disukai tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental. Pengelolaan stres dengan menjalankan hobi ternyata ampuh meminimalkan risiko polip tenggorokan menimpa Anda. Pasalnya dengan stres yang terkelola dengan baik, seluruh bagian tubuh akan lebih rileks dan tidak mudah mengalami iritasi. 

  1. Sering Cuci Tangan 

Kebiasaan mencuci tangan memiliki dampak yang baik pula untuk kesehatan tenggorokan dan produksi suara. Ini karena ketika Anda mencuci tangan, potensi kuman atau bakteri masuk ke mulut dan menimbulkan peradangan dapat diantisipasi. Risiko mengalami polip tenggorokan juga dapat ditekan. 

  1. Gunakan Humidifier

Menyalakan humidifier di rumah memiliki banyak manfaat. Salah satunya penggunaan alat ini dapat mengurangi risiko timbulnya polip tenggorokan. Udara yang lebih bersih dengan kuman-kuman yang tersaring membuat ancaman peradangan karena infeksi kuman dan bakteri bisa dikurangi. 

  1. Kurangi Berteriak 

Jangan berteriak apabila tidak perlu. Inilah kunci utama dalam menghindari serangan polip tenggorokan. Berteriak hanya akan membuat tenggorokan menegang sehingga memicu tumbuhnya lesi ataupun polip. Kalau memang harus bersuara keras, Anda patut mempertimbangkan menggunakna mikrofon. 

Tidak sulit bukan mencegah polip tenggorokan? Namun jika sudah telanjur terkena penyakit ini, jangan ragu untuk berobat ke dokter supaya mendapatkan penanganan yang tepat dan lekas sembuh.

Hidup Sehat

Mengenal Trigger Finger Penyebab Jari Tangan Kaku

Trigger finger bisa membuat jari tangan kaku dan sakit pada saat ingin meluruskannya.

Trigger finger adalah kondisi di mana salah satu jari tangan kaku atau tersangkut dalam posisi tertekuk. Jari akan membentuk posisi seperti menekuk dan sulit untuk kembali lurus. Trigger finger atau tenosinovitis stenosis, disebabkan karena adanya penyempitan dan peradangan pada bagian yang mengelilingi tendon jari.

Tendon adalah kabel fibrosa yang menempelkan otot ke tulang. Setiap tendon dikelilingi oleh selubung pelindung. Trigger finger terjadi pada saat selubung tendon jari mengalami iritasi dan meradang. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan gerakan normal tendon melalui selubung.

Iritasi yang berkepanjangan pada selubung tendon dapat menghasilkan jaringan parut, penebalan dan pembentukan benjolan (nodul) hingga menghambat gerakan tendon.

Faktor risiko

– Penyakit ini sering menyerang orang-orang yang memiliki pekerjaan atau hobinya memerlukan tindakan seperti mencengkram tangan secara berulang-ulang. 

– Orang yang menderita diabetes atau rheumatoid arthritis (RA) berisiko lebih tinggi mengalami trigger finger.

– Sama seperti RA, trigger finger umumnya menyerang wanita.

Kenali berbagai gejala trigger finger

Gejala trigger finger seringkali dimulai tanpa adanya cedera sama sekali. Akan tetapi, sebagian besar penderita akan mengalami beberapa gejala seperti:

– Munculnya benjolan lembut di pangkal jari di sisi telapak tangan.

– Timbulnya sensasi seperti mengunci ketika sedang menggerakan jari.

– Nyeri saat menekuk atau meluruskan jari.

– Jari tangan kaku dan mengunci terutama pada saat bangun di pagi hari.

Cara mendiagnosa trigger finger

Diagnosis trigger finger sebenarnya tidak memerlukan pengujian yang rumit. Dokter akan membuat diagnosis berdasarkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan meminta Anda untuk membuka dan menutup tangan, memeriksa area yang sakit, lancar tidaknya gerakan dan melihat apakah jari tangan kaku secara berulang atau tidak.

Dokter juga akan meraba telapak tangan untuk melihat apakah ada benjolan. Apabila Anda mengalami trigger finger, maka benjolan tersebut akan begeser saat jari bergerak. Hal ini terjadi karena, benjolan tersebut merupakan area pembengkakan pada bagian tendon yang menggerakkan jari.

Segera lakukan pengobatan

Perawatan trigger finger bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan beralam lama mengalami kondisi tersebut. Namun, ada beberapa pengobatan yang biasa dokter sarankan seperti pemberian obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen (Advil, Motrin IB) atau naproxen (Aleve). Obat ini dapat meredakan nyeri, tetapi tidak meredakan pembengkakan yang menyempitkan pada bagian selubung tendon.

Selain pengobatan medis, Anda juga kerap disarankan untuk melakukan beberapa latihan atau peregangan seperti berikut:

Istirahat cukup

Hindari aktivitas yang memerlukan genggaman berulang, penggunaan mesin genggam yang bergetar dalam waktu lama sampai gejala membaik. Jika tidak dapat menghindari aktivitas tersebut sama sekali, karena alasan pekerjaan atau lain hal, sebaiknya gunakan sarung tangan empuk untuk meringankan rasa sakit.

Gunakan belt terapi tangan

Anda sebaiknya memakai belt terapi tangan di malam hari untuk mencegah terjadinya jari tangan kaku selama enam minggu. Alat ini sangat membantu mengistirahatkan tendon.

Latihan peregangan

Jangan malas untuk berolahraga. Selain menjaga stamina tubuh, latihan peregangan, khususnya di bagian tangan sangat membantu meringankan rasa sakit pada penderita trigger finger

Mungkin Anda pernah mengalami jari tangan kaku. Namun, karena tidak memberikan efek lebih lanjut dan rasa nyeri belum terlalu terasa, maka banyak orang mengabaikannya. Akan tetapi, sebelum kondisi ini menjadi lebih fatal, sebaiknya segera lakukan terapi dan konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan solusi medis.

Hidup Sehat

Ini Alasan Harus Mengunjungi & Tanya Dokter Bedah Anak!

Ini Alasan Harus Mengunjungi  & Tanya Dokter Bedah Anak!

Seorang ahli bedah anak mengkhususkan diri dalam pengobatan cacat lahir dan kondisi medis masa kanak-kanak melalui prosedur pembedahan dan perawatan berkelanjutan. 

Namun, selain beberapa hal tadi, kira-kira kondisi seperti apakah yang mengharuskan seseorang mengunjungi atau tanya dokter bedah anak? Yuk, cari tahu kira-kira kondisi seperti apa saja yang dilakukan dokter bedah anak. Berikut penjelasannya!

Apa itu dokter bedah anak?

Ahli bedah anak adalah dokter atau spesialis yang memiliki spesialisasi dalam merawat anak. Dokter bedah anak biasanya melakukan operasi pada bayi, anak-anak, dan dewasa muda. Dokter bedah anak mungkin mengkhususkan diri pada salah satu dari empat jenis perawatan utama, meliputi:

  • Prenatal. Ahli bedah anak yang bekerja dengan ahli radiologi untuk menemukan masalah saat anak berada di dalam rahim dan merencanakan operasi korektif setelah lahir. Operasi prenatal, atau operasi pada janin, adalah praktik baru yang tidak terlalu umum. 
  • Neonatal. Operasi neonatal melibatkan perbaikan cacat bawaan, atau cacat lahir, pada bayi baru lahir. 
  • Trauma. Operasi trauma terjadi ketika seorang anak mengalami cedera sedang hingga parah seperti patah tulang, luka bakar, atau cedera internal. Inilah salah satu alasan utama mengapa anak-anak mendapatkan perawatan medis yang intensif. 
  • Onkologi anak. Pediatric onkologi mengobati anak-anak yang menderita kanker atau tumor. 

Kapankah Anda harus mengunjungi atau tanya dokter bedah anak?

Dokter spesialis bedah anak bertugas merawat, mengobati, dan mengelola kebutuhan bedah anak termasuk:

  • Pembedahan untuk kelainan selangkangan di masa kanak-kanak dan remaja yang meliputi testis yang tidak turun, hernia, hidrokel, dan varikokel
  • Perbaikan cacat lahir secara bedah
  • Cedera serius yang memerlukan pembedahan (misalnya luka pisau, atau cedera lainnya)
  • Diagnosis dan perawatan bedah tumor
  • Operasi transplantasi
  • Prosedur endoskopi, seperti bronkoskopi-pemeriksaan yang dilakukan untuk mengecek bagian dalam paru-paru dan saluran napas menggunakan alat bernama bronkoskopi yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosa adanya infeksi, tumor atau penyakit pada paru-paru, esophagogastroduodenoscopy-merupakan prosedur endoskopi yang memperlihatkan saluran pencernaan atas dan usus dua belas jari dan prosedur ini biasanya dilakukan untuk mendiagnosis bagian sistem pencernaan, kolonoskopi-adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi perubahan atau abnormalitas usus besar dan rektum).
  • Semua prosedur bedah lainnya untuk anak-anak

Ahli bedah anak mungkin melakukan operasi untuk bayi kecil yang lahir pada usia kehamilan 25 minggu atau untuk remaja setinggi enam kaki. Jenis pembedahannya pun sangat luas dan meliputi:

  • Perut 
  • Toraks (anomaly esophagus, paru-paru, dan bronkial)
  • Operasi trauma
  • Transplantasi
  • Endoskopi
  • Laparoskopi
  • Urologi

Bedah spesialis anak meliputi:

  • Operasi neonatal (seringkali untuk kelainan kongenital seperti cacat pada dinding perut dan hernia diafragma)
  • Operasi usus besar
  • Operasi trauma besar
  • Operasi onkologi

Faktanya, hanya 11% operasi pada anak-anak yang dilakukan oleh ahli bedah anak. Sisanya dilakukan oleh ahli bedah spesialis lain, beberapa diantaranya mengkhususkan diri pada kasus anak. Ini pun termasuk bedah umum, ortopedi, plastik, mulut dan mata serta THT dan urologi. Spesialis dewasa dapat bekerja dan bermitra dengan ahli bedah anak untuk mengobati gangguan masa kanak-kanak yang tidak umum seperti tiroid dan kondisi gastrointestinal tertentu. 

Jadi, jika Anda memiliki pertanyaan seputar masalah bedah anak atau si kecil mengalami beberapa gejala yang tidak biasa ada baiknya untuk mengkonsultasikan hal tersebut pada dokter bedah anak pilihan Anda. Anda pun dapat tanya dokter bedah anak dengan membuat janji terlebih dahulu.

Penyakit

Cegah dan Obati Radang Kepala Penis (Balanitis) dengan Cara Ini!

Radang kepala penis atau disebut juga dengan balanitis adalah kondisi umum yang mempengaruhi sekitar 1 dari 25 anak laki-laki dan 1 dari 30 pria dewasa yang belum disunat. Kondisi ini bisa terjadi akibat infeksi atau phimosis, dimana kulup penis terlalu kencang. 

balanitis radang kepala penis

Penyebab dan gejala

Pria yang tidak disunat sangat berisiko terkena radang kepala penis karena bawah kulup adalah area yang lembab dan hangat, tempat yang sangat pas untuk berkembangnya jamur dan bakteri. 

Penyebab lainnya meliputi:

  • Phimosis, atau kulup yang terlalu ketat
  • Kebersihan area genital yang tidak terjaga
  • Infeksi jamur kelamin (kandidiasis)
  • Penyakit menular seksual
  • Infeksi kudis
  • Alergi
  • Penyakit kulit seperti psoriasis dan eksim
  • Diabetes
  • Obesitas atau kegemukan
  • Artritis reaktif

Gejala radang kepala penis bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang secara bertahap. Beberapa tanda dan gejala balanitis mirip dengan infeksi menular seksual dan sariawan penis, diantaranya:

  • Kulit di kepala penis kencang dan berkilau
  • Kemerahan di sekitar kelenjar
  • Nyeri dan gatal di bawah kulup akibat penumpukan kotoran
  • Pembengkakan kelenjar di dekat penis
  • Mengeluarkan bau tidak sedap
  • Keluarnya cairan putih (smegma) di bawah kulup

Pada kasus yang jarang terjadi atau lansia dengan balanitis, akan muncul luka atau lesi pada kelenjar di penis.

Mencegah dan mengobati balanitis

Mempraktikkan gaya hidup yang bersih adalah salah satu kunci pencegahan penyakit radang kepala penis. Pastikan untuk membasuh seluruh kepala penis dan kulup dan mengeringkannya setelah buang air kecil atau aktivitas terkait lainnya. 

Tarik kulup hingga kelenjar terbuka, kemudian cuci bersih bagian bawah kulup dengan air hangat. Anda bisa menggunakan sabun dengan kandungan yang lembut, namun hindari produk yang mengandung pewangi dan alkohol. 

Anda juga bisa menggunakan krim berair atau cairan pembersih netral yang tidak mengandung sabun, dan pastikan untuk membilasnya hingga benar-benar bersih. Setelah itu, keringkan bawah kulup dan kepala penis dengan kain lembut. 

Bagi pria yang aktif secara seksual, menggunakan kondom juga penting demi menghindari infeksi menular seksual yang bisa menyebabkan balanitis.

Jika Anda di diagnosa balanitis, dokter akan meresepkan krim anti gatal dan obat steroid untuk menghentikan peradangan dan rasa gatal. Dokter juga akan meresepkan obat antibiotik atau anti jamur jika terjadi infeksi.

Selain obat resep, Anda bisa menemukan obat balanitis di apotek. Misalnya, krim anti jamur yang mengandung nistatin, klotrimazol, atau terbinafin, juga steroid hidrokortison sebagai obat anti peradangan. 

Jika terjadi kekambuhan, dokter akan menyarankan untuk melakukan sunat. 

Bagaimana jika radang kepala penis tidak diobati?

Balanitis yang tidak diobati dapat menyebabkan peradangan kronis dan memicu komplikasi kesehatan, termasuk:

  • Balanoposthitis

Balanoposthitis adalah meradangnya kulup dan kelenjar penis. Balanoposthitis ditandai dengan gatal, iritasi, dan pembengkakan kulup dan kelenjar.

Kondisi ini hanya terjadi pada pria yang tidak disunat, dan sering dialami oleh pria dengan kulu ketat atau menderita diabetes.

  • Balanitis xerotica obliterans (BXO)

Balanitis xerotica obliterans (BXO) disebut juga dengan lichen sclerosus. Merupakan kondisi dimana kulit kelenjar mengeras dan memutih, dan menyebabkan gangguan berkemih dan menyulitkan keluarnya air mani.

  • Jaringan parut pada penis

Selain sebagai salah satu penyebab balanitis, fimosis juga bisa timbul sebagai komplikasi radang kepala penis. 

Peradangan yang terjadi pada kelenjar dan kulit penis bisa menyebabkan jaringan parut atau fimosis. Fimosis menyebabkan bukaan atau lubang kencing menyempit, serta memicu ketidaknyamanan dan kesulitan berkemih dalam waktu lama.

Konsultasikan seputar radang kepala penis atau masalah terkait kesehatan reproduksi kepada dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.