Penyakit

Hipertiroid: Cara Mengatasi Tangan Gemetar dan Jantung Berdebar

Hipertiroid merupakan sebuah kondisi yang disebabkan kadar hormon tiroid yang berlebihan, sehingga dapat mempengaruhi metabolisme dalam tubuh, berat badan yang turun drastis, jantung berdetak dengan tidak normal, dan tangan gemetaran. Lalu, adakah cara mengatasi tangan gemetar dan jantung berdebar akibat hipertiroid? Yuk simak beberapa cara tanganinya.

Gejala Hipertiroid

Gejala akibat tingginya produksi hormon oleh kelenjar tiroid ini dapat menyebabkan metabolisme yang tidak normal adalah sebagai berikut ini.

Depresi dapat menjadi penyebab jantung berdebar

Sulit untuk tidur

Sulit untuk tidur merupakan salah satu gejala hipertiroid yang sangat mengganggu, hal ini dikarenakan hormon tiroid yang berlebihan dapat merangsang detak jantung menjadi lebih cepat, merangsang sistem saraf, dan memproduksi keringat yang berlebihan pada malam hari. Jika ada merasakan beberapa gejala tersebut sebaiknya lakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan apakah hal tersebut dikarenakan hipertiroid.

Lalu, cara yang bisa kamu terapkan apabila mempunyai masalah sulit tidur di malam hari yaitu cobalah batasi tidur siang agar saat di malam hari lebih mudah untuk tertidur, hindari minuman yang mengandung alkohol dan kafein saat sebelum ingin tidur, sebelum tidur sebaiknya hindari untuk merokok, gunakan aromaterapi agar membuat pikiran dan tubuh anda lebih rileks, dan terakhir cobalah untuk atur jam tidur dan jam bangun kamu sama setiap harinya serta lakukan secara konsisten.

Berat badan turun drastis

Hipertiroid dapat berpengaruh bagi berat badan, hal ini dikarenakan kelenjar tiroid mempunyai peran penting dalam mengatur metabolisme dalam tubuh, sehingga apabila kelenjar ini bermasalah, tentunya metabolisme juga bermasalah dan berdampak pada penurunan berat badan secara drastis walaupun porsi makan kamu banyak.

Untuk hal ini cobalah jalani pola pengaturan makan yang baik, bukan hanya menambahkan porsi makan saja karena kurang efektif. Beberapa cara diet yang bisa kamu lakukan seperti rutin konsumsi buah dan sayur, perbanyak konsumsi makanan yang mengandung kalsium dan sodium, serta kurangi mengkonsumsi makanan dengan kandungan yodium tinggi untuk kurangi produksi hormon tiroid.

Tangan Gemetaran dan jantung berdetak tidak normal

Tangan gemetaran atau biasa dikenal dengan istilah tremor ini salah satu gejala hipertiroid yang harus diperhatikan, disamping itu biasanya gejala ini juga disertai oleh detak jantung yang tidak beraturan. Hormon tiroid yang berlebihan akan mempengaruhi kinerja saraf di tubuh sehingga membuat proses di dalam tubuh bergerak lebih cepat.

Cara mengatasi tangan gemetar dan jantung berdebar yang tepat sebaiknya dibantu dengan obat yang sesuai dari saran dokter, maka dari itu lakukan konsultasi dan pemeriksaan terlebih dahulu. Kamu juga bisa coba untuk kurangi kebiasaan konsumsi minuman yang mengandung kafein, alkohol, dan juga kurangi merokok.

Selain beberapa gejala yang ada di atas, biasanya orang yang terkena hipertiroid juga dapat dilihat dari gejala fisik seperti pembengkakan kelenjar tiroid atau biasa dikenal dengan penyakit gondok, munculnya ruam-rumah berwarna kemerahan atau biduran, adanya merah-merah di telapak tangan, bola mata menjadi lebih menonjol, serta tekanan darah menjadi meningkat. Beberapa cara di atas bisa jadi informasi kamu untuk tangani gejala hipertiroid seperti cara mengatasi tangan gemetar dan jantung berdebar, lalu cara atasi sulit tidur, dan gejala lainnya. Namun, tetap lakukan pemeriksaan atau konsultasi ke dokter ya, agar dapat penanganan yang lebih efektif dan sesuai dengan kondisi pada tubuh kamu.

Penyakit

Jangan Panik, Ini Cara Mengatasi Sesak Napas dan Keringat Dingin

Anda pernah mengalami sesak napas yang disertai dengan keringat dingin? Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kondisi gawat darurat yang mesti ditangani secara medis dengan tepat. Namun pada situasi tertentu, mungkin saja Anda mengalami kendala dan hambatan untuk pergi ke fasilitas kesehatan guna mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Jangan panik atau hanya berdiam diri, segera lakukan cara mengatasi sesak napas dan keringat dingin yang tepat, yang bisa dilakukan dari rumah saja. 

Sesak napas dan keringat dingin sendiri merupakan kondisi yang biasa timbul ketika napas Anda memendek sehingga Anda merasa sulit untuk bernapas. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari adanya penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan serangan asma, sampai pada efek kecemasan berlebih. 

Semakin Anda panik maka gejala sesak napas dan keringat dingin akan terasa semakin parah. Dengan mengetahui cara-cara mengatasi sesak napas dan keringat dingin seperti di bawah ini, Anda bisa mencegah kepanikan ketika mengalami sesak napas sehingga gejala tersebut bisa sedikit mereda dan langkah medis selanjutnya bisa segera dilakukan. 

Sesak napas karena stres harus dapat dikendalikan agar tidak semakin memburuk

Praktikkan Bernapas Dalam-dalam 

Bernapas dalam-dalam artinya Anda bernapas memakai perut dengan bantuan diafragma. Cara pernapasan ini bisa lebih efektif mengosongkan paru-paru dan melepaskan udara sehingga rasa sesak bisa dikurangi. Cara melakukan pernapasan dalam-dalam sebenarnya tidak sulit. Ketika mengalami sesak napas dan keringat dingin, cobalah lakukan cara pernapasan ini sambil tidur. Berbaringlah dan letakkan tangan di perut, kemudian tarik napas melalui hidung. Kembangkan perut dan biarkan udara mengisi seluruh bagian paru-paru Anda. Jangan langsung lepaskan udara yang sudah berhasil Anda dapatkan, melainkan tahan beberapa detik kemudian lepaskan perlahan melalui mulut. 

Bernapas dengan Mengerucutkan Mulut 

Mungkin cara mengatasi sesak napas dan keringat dingin yang satu ini terdengar sedikit aneh, namun percayalah hasilnya cukup efektif! Bernapas dengan mengerucutkan mulut bisa mempercepat laju pernapasan sehingga gejala sesak napas bisa sedikit teratasi, keringat dingin pun ikut mereda. Cara pernapasan yang satu ini membantu mengosongkan paru-paru dan membantu melepaskan udara yang terperangkap dari paru-paru. Hal inilah yang membuat gejala sesak napas dan keringat dingin bisa lebih berkurang ketika Anda melakukan pernapasan dengan mengerucutkan mulut. 

Duduk Topangkan Badan ke Meja 

Tidak sulit menemukan kursi dan meja di rumah Anda, bukan? Jadikan kedua alat tersebut sebagai caramengatasi sesak napas dan keringat dingin. Yang perlu Anda lakukan hanyalah duduk di kursi menghadap meja, kemudian condongkan dada sedikit ke depan dan letakkan tangan di atas meja. Jangan lupa letakkan kepala Anda di lengan yang ada di meja atau menggunakan bantal bantal apabila memungkinkan. Posisi duduk yang seperti ini bisa menciptakan lebih banyak ruang di paru-paru sehingga pelepasan udara pun dapat lebih banyak untuk membuat pernapasan lebih lega.

Dinginkan Suhu Ruangan 

Anda mulai merasa sesak napas dan keringat dingin? Jika Anda memakai air conditioner, segera kecilkan suhunya. Jika tidak ada AC, Anda juga bisa memanfaatkan kipas angin. Udara yang rendah dan dingin bisa mengurangi kepanikan Anda, membuat Anda lebih santai, sekaligus lebih mudah mengambil udara. Dengan demikian, kondisi sesak napas dan keringat dingin yang Anda alami bisa mengalami perbedaan. 

Minum Kopi Hitam 

Cara mengatasi sesak napas dan keringat dingin menggunakan kopi hitam memang masih memicu perdebatan sampai saat ini. Pasalnya, pengonsumsian kopi hitam bisa berdampak negatif pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, yang gejalanya kerap kali memunculkan kondisi sesak napas sampai keringat dingin. Namun di sisi lain, kandungan kafein pada kopi hitam telah terbukti secara ilmiah mampu melemaskan otot-otot di saluran udara sehingga meningkatkan fungsi paru-paru untuk bernapas. 

Melakukan cara-cara mengatasi sesak napas dan keringat dingin di atas sangat mungkin membuat kondisi tubuh Anda lebih baik. Namun tetap saja, jika kondisinya sudah memungkinkan, sangat dianjurkan Anda pergi ke dokter untuk memeriksa dan mengonsultasikan kondisi yang Anda alami tersebut.

Penyakit

Daftar Penyebab Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

Osteoporosis merupakan penyakit bersinggungan sama kepadatan tulang. Mereka yang mengalami penyakit itu, kerap kali ditandai dengan penurunan kepadatan tulang. Berbagai sumber menjelaskan, osteoporosis cenderung dialami oleh perempuan. Namun demikian, para lelaki juga berisiko, meski tingkatnya tak lebih tinggi daripada perempuan. Berkaitan dengan penyakit ini, tentu salah satu yang menjadi pertanyaan kita semua adalah apa saja penyebab osteoporosis. 

Oleh karena itulah, kemudian artikel ini ditulis dengan poin utamanya adalah menjabarkan penyebab penyakit. Adapun penyebab osteoporosis yang pertama adalah berkaitan dengan gaya hidup. Oleh beberapa sumber kesehatan dikatakan, kebiasaan merokok dan meminum minuman beralkohol merupakan salah satu penyebab munculnya penyakit tersebut. 

Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol ini pada beberapa orang mungkin baru dirasakan saat sudah tua karena osteoporosis kerap terjadi di usia senja. Namun demikian, banyak sumber yang mengatakan orang yang masih di usia produktif ternyata bisa juga menjadi rentan mengalami osteoporosis kalau punya kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol. 

Adapun rokok dan alkohol dapat menjadi penyebab osteoporosis karena keduanya mengandung zat yang bisa menghambat penyerapan kalsium. Padahal, kita sudah tahu bersama kalau tulang kita membutuhkan kalsium. 

Lantaran kalsium merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang, maka orang yang kekurangan kalsium jadi rentan mengalami osteoporosis. Adapun kurang kalsium bisa menjadi penyebab osteoporosis karena kalsium adalah mineral yang amat dibutuhkan dalam pembentukan tulang. Sehingga, kekurangan kalsium membuat orang menjadi rentan mengalami osteoporosis di usia tuanya. 

Menjaga kesehatan adalah hal penting. Salah satu yang bisa dilakukan adalah olahraga. Berkaitan dengan hal itu, ternyata penyebab lain munculnya osteoporosis adalah kurang olahraga. Perlu kita ketahui, olahraga ialah aktivitas yang bagus untuk melatih kekuatan tulang. Apabila seseorang jarang berolahraga, maka itu malah meningkatkan risiko tulang menjadi mudah keropos. Oleh karena itulah, jarang olahraga menjadi penyebab osteoporosis. 

Selain hal di atas, ternyata penyebab osteoporosis yang lain adalah adanya gangguan pada hormon. Adapun kondisi hormon yang bisa meningkatkan risiko osteoporosis adalah berkurangnya hormon estrogen dan testosteron, gangguan kelenjar adrenal, hiperparatiroidisme, hipotiroidisme, dan gangguan kelenjar di bawah otak. 

Selain gangguan hormon, gangguan pada kesehatan juga bisa menjadi penyebab osteoporosis. Gangguan yang bisa meningkatkan risiko penyakit tersebut ialah gangguan pencernaan, fibrosis kistik, dan lain sebagainya. Adapun untuk penyebab lain adalah kurang asupan vitamin D. Hal itu karena vitamin D memiliki peran penting untuk membantu tubuh menyerap kalsium. Sehingga, kalau kurang vitamin D, maka tubuh tidak optimal dalam menyerap kalsium dan itu sangat berpengaruh pada tulang. 

Sementara penyebab osteoporosis yang terakhir adalah efek samping dari penggunaan obat. Berbagai sumber menjelaskan, salah satu efek samping dari obat jenis kortikosteroid dan antikejang adalah memicu terjadinya osteoporosis. Oleh karena itu, dalam penggunaan obat kita harus lebih bijak, ya. Tentunya juga jangan sampai obat yang dikonsumsi tidak sesuai anjuran atau resep dokter. 

Demikianlah beberapa penyebab osteoporosis yang bisa disampaikan. Terlepas dari penjelasan di atas, bukan tak mungkin masih ada penyebab lainnya. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya pembaca mencari lagi referensi tambahan atau langsung bertanya kepada dokter. 

Di sisi lain, lantaran kita sudah tahu beberapa penyebab osteoporosis, maka mulai sekarang kita bisa memulai pola hidup sehat agar di usia senja terhindar dari penyakit tersebut. Akhir kata, semoga artikel ringkas ini dapat membantu pembaca sekalian. Tentunya harapan terbesar adalah kita semua selalu dalam keadaan sehat.

Amankah Kayu Manis untuk Diabetes?
Penyakit

Amankah Kayu Manis untuk Diabetes?

Diabetes adalah penyakit yang diakibatkan tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini yang membuat penderita diabetes harus mengontrol gaya hidup sehat dan melakukan pengobatan rutin untuk menjaga kadar gula darah tetap normal. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi bahan-bahan herbal yang dipercaya mampu menjaga kadar gula darah, seperti kayu manis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi kayu manis untuk diabetes memberikan manfaat yang signifikan. 

Kandungan Nutrisi Kayu Manis

Sesuai dengan namanya, kayu manis memiliki wangi yang khas dan rasa yang manis. Ada beberapa jenis utama kayu manis. Kayu manis cassia berwarna lebih gelap dan yang sering tumbuh dan dikonsumsi di Asia Tenggara. Ada juga kayu manis Ceylon yang dikenal juga sebagai kayu manis sejati.

Selain digunakan sebagai bumbu masakan dan penambah cita rasa, kayu manis juga baik untuk kesehatan Anda. Bahkan dalam pengobatan herbal kayu manis untuk diabetes aman dikonsumsi.

Sama seperti makanan lainnya, kayu manis mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kayu manis rendah protein dan lemak. Namun dalam satu sendok teh kayu manis bubuk mengandung 6 kalori dan sejumlah vitamin meliputi:

  • 0,1 gram protein
  • 0,03 gram lemak
  • 2 gram karbohidrat
  • 1 gram serat
  • 26 miligram kalsium
  • 11 miligram potasium
  • 3 mcg (mikrogram) beta karoten
  • 8 IU vitamin A.

Seluruh nutrisi dalam kayu manis tersebut bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, perlu diingat untuk mengonsumsi dalam batas yang wajar. Terlebih jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan dari dokter atau suplemen kesehatan. Supaya lebih aman untuk kesehatan Anda, konsultasikan dengan dokter.

Benarkah Kayu Manis Mampu Menurunkan Gula Darah?

Menurut dokter M. Regina Castro, M.D. masih belum jelas apakah kayu manis efektif membantu menurunkan gula darah pada penderita diabetes. Namun ada penelitian lainnya ada kemungkinan kayu manis dapat membantu tubuh menggunakan insulin lebih efisien. Namun perlu penelitian lebih lanjut mengenai cara kerja dan efektivitasnya. 

Berdasarkan penelitian Bolin Qin, dkk (2010), kayu manis memberikan efek baik pada penderita diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolik, kardiovaskular, dan PCOS. Hasilnya menunjukkan kadar gula yang terkontrol, sensitivitas insulin dan antioksidan meningkat, dan penurunan lemak. 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Richard A Anderson (2008) menunjukkan bahwa kandungan kromium (Cr) and polifenol dalam kayu manis mampu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga mampu menekan gula darah. Konsumsi kayu manis pada pasien penderita diabetes tipe 2 menunjukkan bahwa glukosa, insulin, dan kadar kolesterol membaik.

Berdasarkan penelitian, kandungan antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri dalam kayu manis dapat meningkatkan kesehatan Anda, terutama bagi penderita:

  • penyakit jantung
  • penyakit Alzheimer
  • kanker
  • HIV 
  • infeksi
  • kerusakan gigi
  • alergi.

Apakah Kayu Manis Berinteraksi dengan Obat-Obatan Herbal dan Suplemen Lain? 

Berhati-hatilah jika Anda juga mengonsumsi suplemen lain yang menurunkan kadar gula darah, termasuk terapi obat diabetes dan obat yang mengandung:

  • asam alfa lipoat
  • melon pahit
  • kromium
  • cakar setan
  • fenugreek
  • bawang putih
  • kastanye kuda
  • panax
  • ginseng siberia
  • psyllium.

Catatan

Jika dokter memutuskan tidak apa-apa bagi Anda untuk mengonsumsi kayu manis, selalu perhatikan baik-baik kadar gula darah Anda. Segera beritahu dokter Anda jika level Anda turun terlalu rendah.

Selain itu, bagi Anda yang memiliki gangguan pada hati, sebaiknya berhati-hati dalam mengonsumsi kayu manis untuk diabetes. Konsumsi kayu manis berlebihan dapat mengganggu organ hati Anda.

Penyakit

Mengenal Gejala Diabetes yang Tanpa Disadari Sering Diabaikan

Diabetes merupakan sebuah penyakit kronis yang diakibatkan oleh tingginya kadar gula darah. Meskipun, gula darah sebagai sumber energi utama untuk sel tubuh, tetapi jika terlalu tinggi akan berbahaya. Oleh karena itu, pastikan Anda mengenal gejala diabetes untuk melakukan pencegahan. 

Gejala penyakit diabetes biasanya akan muncul secara bertahap. Namun, hal ini tergantung dari tipenya. Gejala diabetes tipe 1 muncul sangat cepat, yaitu dalam waktu satu minggu saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, gejalanya tidak terlihat. Bahkan, banyak yang tidak menyadarinya bahwa telah menderita diabetes. 

Beberapa gejala diabetes antara lain:

1. Cepat Lapar

Gejala ini sering dianggap biasa, padahal jika terjadi terus-menerus bisa jadi merupakan tanda diabetes. Setelah seseorang selesai makan berat, maka makanan tersebut akan diproses menjadi glukosa. Fungsinya adalah sebagai energi untuk sel atau organ dalam tubuh. 

Proses tersebut dijalankan oleh hormon insulin. Jika Anda memiliki penyakit diabetes, maka hormon inilah yang terganggu. Dengan begitu, energi untuk tubuh juga akan terhambat, sehingga menimbulkan rasa lapar kembali meskipun sudah makan banyak.

2. Poliuria (Sering Buang Air Kecil) 

Sering buang air kecil di malam hari juga merupakan salah satu gejala diabetes. Proses normalnya, ginjal akan menyaring gula darah, kemudian kembali diserap ke darah. 

Kadar gula yang terlalu tinggi membuat ginjal bekerja keras menyaring darah. Ginjal pun tidak dapat menyerap gula tersebut. Akhirnya, kelebihan gula dikeluarkan melalui urine. 

3. Polidipsia (Mudah Haus) 

Rasa haus timbul akibat gejala buang air kecil yang sering. Jika tubuh terus mengeluarkan urine, asupan cairan yang dibutuhkan pun lebih banyak untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. 

4. Luka Susah Sembuh

Jika terdapat luka di tubuh Anda, seperti memar atau bekas gigitan serangga, tetapi tidak kunjung sembuh, bisa menjadi salah satu gejala diabetes. Oleh karena itu, jangan anggap remeh kondisi ini.

Luka pada penderita diabetes yang tidak kunjung sembuh terjadi karena penyempitan arteri akibat kadar gula terlalu tinggi. Selain itu, oksigen dari jantung ke tubuh juga terhambat. Padahal luka bisa cepat sembuh jika mendapatkan oksigen dan nutrisi tersebut. 

Pada akhirnya, luka bukan hanya sulit sembuh, melainkan bisa bertambah parah. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang menurun. Kadar gula tinggi bisa membuat sel-sel imun dalam tubuh melemah. 

5. PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik) 

Sindrom PCOS juga termasuk salah satu gejala diabetes pada wanita. Tanda dari gejala ini adalah mengalami menstruasi yang tidak teratur, tumbuh jerawat, dan mudah depresi. Jika Anda mengalami hal semacam ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter. 

Sindrom ini bisa sangat berbahaya jika Anda membiarkannya karena kadar gula akan semakin meningkat dan juga mengganggu kesuburan rahim. Kontrol kadar gula dengan teratur untuk mencegah penyakit diabetes. 

6. Kulit Kering

Penderita diabetes biasanya juga akan mengalami gatal-gatal dan pecah-pecah pada kulit. Hal ini dikarenakan frekuensi buang air kecil yang terlalu sering buang air kecil. Cairan tubuh yang berkurang bisa menghilangkan kelembaban kulit. 

Selain itu, kadar gula darah yang tinggi bisa mengganggu sistem saraf. Kemudian, tubuh akan memproduksi zat sitokin lebih banyak. Produksi yang berlebihan bisa menimbulkan peradangan pada tubuh yang kemudian menimbulkan reaksi berupa gatal, pecah-pecah, dan kulit kering. 

Anda harus waspada terhadap tanda-tanda diatas yang menjadi gejala diabetes. Gejalanya memang terkadang tidak menonjol, bahkan terlihat sepele. Namun jika salah satu gejala di atas Anda alami, segera periksakan diri ke dokter.

Hal Penting Harus Diketahui Setelah Vaksinasi Bersama BUMN
Penyakit

Hal Penting Harus Diketahui Setelah Vaksinasi Bersama BUMN

Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya untuk pencegahan penularan infeksi virus Corona. Vaksinasi bersama BUMN pun telah berjalan sejak awal tahun ini secara bertahap. Vaksin ini direncanakan akan diberikan kepada masyarakat Indonesia dalam 2 dosis agar dapat menghasilkan reaksi imunitas yang optimal terhadap virus Corona.

Kita telah mengetahui persiapan-persiapan penting sebelum mendapatkan vaksinasi COVID-19 untuk meminimalisir efek samping bagi penerima vaksin. Tidak berbeda jauh dengan vaksin lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah mendapatkan vaksin corona, termasuk efek samping, hal yang boleh dilakukan serta hal yang sebaiknya tidak dilakukan setelah vaksin. 

Apa yang harus dilakukan setelah vaksin COVID-19?

1. Perhatikan Efek Samping Vaksin

Biasanya, seseorang akan diminta untuk menunggu beberapa waktu antara 15-20 menit setelah pemberian vaksin. Tenaga kesehatan akan memantau reaksi yang mungkin saja terjadi setelah seseorang menerima vaksin. Tujuannya adalah agar dokter dapat memastikan orang tersebut tidak mengalami efek samping yang berbahaya.

Pemberian vaksin COVID-19 pasti akan menimbulkan beberapa efek samping ringan, seperti nyeri atau bengkak pada bagian tubuh yang disuntik, demam ringan, sakit kepala, menggigil sampai mudah merasa lelah. Biasanya, efek samping ringan akan hilang dalam beberapa hari. 

Namun sebaiknya berhati-hati apabila gejala semakin parah, seperti sesak napas, reaksi alergi dan anafilaksis. Segera pergi ke rumah sakit terdekat jika mengalami kejang, demam tinggi, nyeri atau ruam yang tidak kunjung hilang. Untuk menghindarinya, sebaiknya beristirahatlah beberapa hari setelah mendapatkan vaksin COVID-19 bersama BUMN.

2. Istirahat untuk Meredakan Efek Samping

Istirahat yang cukup dapat meredakan berbagai gejala efek samping ringan setelah pemberian vaksin COVID-19. Kompreslah area yang disuntik dengan air dingin. Jangan lupa untuk menggerakkan bagian lengan yang disuntik dengan rutin. Selain itu, kamu juga bisa menggunakan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol.

3. Antibodi Pasca Vaksin Tidak Langsung Terbentuk

Vaksin Covid-19 akan mendorong tubuh untuk membentuk antibodi yang berguna dalam melawan infeksi virus Corona. Namun imunitas yang terbentuk pasca pemberian vaksin tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian orang mungkin baru akan mendapatkan respons imun lebih kuat usai divaksin dosis kedua daripada yang lain.

Oleh sebab itu, para ahli di bidang kesehatan mewajibkan setiap orang untuk mendapatkan 2 dosis suntikan vaksin COVID-19 dalam jangka waktu yang ditentukan. Diperlukan waktu dua hingga tiga minggu setelah disuntik vaksin COVID-19 kedua sebelum antibodi terbentuk dengan maksimal.

4. Tetap Menggunakan Masker dan Menerapkan Protokol Kesehatan

Seseorang yang telah menerima vaksin COVID-19 dengan efikasi paling tinggi melebihi 90 persen, tetap masih ada risiko terinfeksi hingga menunjukkan gejala ringan. Oleh karenanya, protokol kesehatan harus tetap diterapkan dengan mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak. 

5. Virus Corona Terus Bermutasi

Seperti virus lainnya, SARS-CoV-2 mengalami mutasi. Terbukti, beberapa varian baru virus Corona ditemukan di sejumlah negara, seperti Inggris, Brasil dan Afrika Selatan. Para ahli mengingatkan bahwa antibodi yang terbentuk dari vaksinasi COVID-19 bersama BUMN sebelumnya, tidak bisa melawan varian baru virus Corona. 

6. Belum Ada Kepastian Berapa Lama Antibodi Bertahan

Sampai saat ini belum ada yang mengetahui dengan pasti berapa lama antibodi dapat bertahan pasca divaksin COVID-19. Apakah antibodi akan bertahan hingga bertahun-tahun atau hanya beberapa bulan saja? Hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar dan harus diteliti lebih lanjut lagi.

Perlu diingat bahwa penularan virus COVID-19 masih sangat tinggi di indonesia. Oleh sebab itu, program vaksinasi bersama BUMN harus didukung dan kita sebagai warga Indonesia harus aktif ikut serta untuk mendapatkan vaksin dengan mengikuti prosedur yang berlaku. 

Penyakit

Hal-hal Seputar Penyakit Leukemia dan Penyebabnya

Bagi sebagian dari Anda, nama penyakit Leukemia mungkin sudah tidak asing. Ini merupakan salah satu jenis kanker yang cukup terkenal dan berbahaya atau mengancam jiwa.

Meskipun penyakit kanker ini sudah cukup banyak dikenal, tapi belum semua orang benar-benar mengetahui informasi mendetail mengenai penyakit ini. Padahal, sebagai upaya antisipasi, penting bagi Anda untuk memahami apa saja ciri-ciri gejala dari penyakit ini.

Leukemia penyakit keturunan dalam keluarga

Apa penyebab penyakit leukemia?

Layaknya penyakit kanker pada umumnya, belum ada penelitian yang bisa membuktikan apa sebenarnya penyebab seseorang menderita leukemia. Sejauh ini, para ahli hanya mampu memperkirakan bahwa leukemia terjadi ketika beberapa sel darah bermutasi. 

DNA di dalam darah memiliki fungsi untuk memberikan instruksi pada sel darah untuk membelah diri atau berkembang biak. Bagi penderita leukemia, DNA di dalam darahnya terus memberikan instruksi bagi sel darah untuk bertumbuh dan menyebabkan gejala leukemia.

Tidak diketahui dengan pasti apa yang membuat DNA memberikan instruksi semacam ini. Ketika sel darah terus membelah diri, maka akan menyebabkan produksi sel darah yang tidak terkendali.

Saat sel darah diproduksi dalam jumlah berlebih, sel-sel abnormal dapat menekan sel darah yang sehat di sumsum tulang, membuat akan ada lebih sedikit sel darah putih dan sel darah merah yang sehat. Inilah yang menjadi salah satu tanda umum dari penyakit leukemia.

Seperti apa tanda-tanda penderita leukemia?

Setiap penderita bisa saja merasakan gejala yang berbeda-beda. Tapi, umumnya gejala yang dialami akan berupa:

  • Pembekuan darah yang buruk

Pembekuan darah akan membuat seseorang mudah mengalami memar. Selain itu, orang yang mengalami pembekuan darah akan kesulitan untuk sembuh dari luka dan pendarahan. 

Tidak jarang, penderita leukemia yang mengalami pembekuan darah juga akan mengembangkan bintik merah dan ungu kecil di tubuh yang disebut petechiae.

  • Anemia

Gejala umum lainnya dari penyakit leukemia adalah anemia. Semakin sedikit jumlah sel darah yang efektif di dalam tubuh, maka Anda semakin rentan mengalami anemia.

Anemia terjadi saat tubuh tidak memiliki kadar hemoglobin dalam darah yang cukup. Hemoglobin ini memiliki peran untuk mengangkat zat besi ke seluruh tubuh. Saat tubuh kekurangan zat besi, Anda akan kesulitan bernapas dan kulit menjadi lebih pucat. 

  • Infeksi dalam intensitas yang cukup sering

Ciri-ciri berikutnya dari penyakit leukemia adalah kondisi infeksi yang sering terjadi. Infeksi ini bisa terjadi karena leukemia membuat Anda kekurangan sel darah putih yang sehat.

Sel darah putih Anda berperan dalam melawan infeksi. Saat sel darah putih tidak bisa bekerja dengan benar, sistem kekebalan tubuh akan melawan sel-sel tubuh Anda sendiri dan membuat Anda lebih sering mengalami infeksi.

  • Kelelahan

Orang-orang yang menderita leukemia lebih sering mengalami lesu dan kelelahan. Bahkan, rasa lelah ini tidak kunjung membaik meski Anda sudah tidur dan beristirahat sekalipun.

Pada malam hari, Anda mungkin juga akan mengalami produksi keringat berlebih. Berat badan Anda pun akan mengalami penurunan secara drastis yang tidak disengaja.

Saat Anda mengalami kondisi-kondisi di atas, maka kemungkinan besar Anda menderita leukemia. Sebaiknya, jangan remehkan gejala-gejala tersebut. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter Anda.

Semakin cepat kondisi penyakit leukemia terdeteksi, maka semakin besar juga peluang bagi Anda untuk mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Dengan begitu, Anda bisa terhindar dari komplikasi yang lebih parah.

Penyakit

Inilah Perbedaan Tb dan Tbc (Tuberkulosis)

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang juga sering disingkat TB ini biasanya menyerang paru-paru. Di Indonesia sendiri, TBC merupakan satu dari 10 penyebab kematian tertinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada 842.000 kasus TBC pada tahun 2018.Terdapat dua jenis infeksi TBC, yaitu TB aktif dan TB laten. 

Penderita TBC harus menutup mulut ketika batuk dan bersin agar tidak menularkan bakteri ke orang lain
  • TB aktif

TB aktif adalah tuberkulosis yang menyebabkan gejala dan menular. Beberapa gejala umumnya meliputi batuk lebih dari tiga minggu, keringat di malam hari, nyeri dada, dan penurunan berat badan.Pengidap TB aktif dapat menularkan bakteri pada orang lain melalui percikan ludah ketika batuk, bersin, atau berbicara.

  • TB laten

Pada TB laten, penderita tidak menunjukkan gejala dan tidak merasa sakit. Bakteri tuberkulosis bersifat tidak aktif (dorman) di dalam tubuh pengidap. Karena itu, penderita tidak bisa menularkannya pada orang lain. Namun TB laten bisa saja berubah menjadi TB aktif di kemudian hari, sehingga dapat menular ke orang lain. Jadi penyakit TBC ini tetap perlu diobati.

Tuberkulosis juga dapat memengaruhi bagian lain tubuh, termasuk tulang, usus, ginjal, kelenjar getah bening, dan otak. Gejala TBC akan bervariasi sesuai dengan organ yang terinfeksi. Sebagai contoh, gejala TBC tulang dapat mencakup nyeri punggung, pembengkakan di sekitar tulang belakang, dan rasa kaku. Sementara gejala TBC usus bisa berupa sering mual dan kembung, serta penurunan nafsu makan secara drastis.

Nah, ini beberapa perbedaan dari TB tulang dan TB paru yang harus Anda ketahui.

  • Tuberkulosis atau TB pada Paru-Paru

Seseorang yang mengidap tuberkulosis (TB) pada paru-parunya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi bagian tersebut saat masuk ke tubuh. Namun, gangguan ini dapat menyebar dari paru-paru ke bagian tubuh lainnya. Penyakit ini masuk dalam 10 besar penyebab kematian di seluruh dunia, terutama terjadi di negara berkembang.

Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain melalui udara ketika pengidapnya batuk, bersin, hingga hanya berbicara. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui udara sehingga masuk ke tubuh orang lain. Jika sistem imun tubuhnya tidak dapat membunuh bakteri tersebut sebelum menyebabkan infeksi, maka tuberkulosis dapat terjadi.

Namun, perlu diketahui juga perbedaan antara pengidap TB paru laten dengan yang aktif. Seseorang yang terinfeksi penyakit ini akan memiliki bakteri tersebut di dalam tubuhnya. Namun, beberapa orang tidak mengalami sakit apa pun karena sistem kekebalan tubuhnya mampu melindunginya dari kuman tersebut tapi dapat menyebarkannya kepada orang lain. Gangguan ini disebut juga TB paru laten.

  • Tuberkulosis atau TB pada Tulang

TB tulang dapat terjadi ketika seseorang yang mengidap tuberkulosis pada paru-paru menyebar ke luar bagian tersebut. Penyebaran dari gangguan ini sama seperti TB paru, yaitu melalui udara. Setelah tertular TB paru, bakteri tersebut dapat berpindah melalui darah dari paru-paru ke tulang, tulang belakang, hingga sendi yang membuat seseorang mengidap TB tulang.

Penyakit TB pada tulang terbilang jarang terjadi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan pada gangguan ini, terutama pada negara-negara berkembang. Risiko ini juga meningkat akibat penyebaran AIDS. Meskipun jarang terjadi, ternyata untuk mendiagnosis penyakit ini terbilang sulit dilakukan dan dapat menyebabkan masalah yang berbahaya jika tidak segera ditangani.

Seseorang yang mengidap TB tulang dapat menimbulkan beberapa gejala ketika terserang, seperti demam, menurunnya nafsu makan yang berakhir pada penurunan berat badan, hingga keluarnya keringat di malam hari. Beberapa gejala lainnya yang dapat terjadi adalah nyeri pada punggung, tubuh menjadi bungkuk, pembengkakan pada tulang belakang, hingga tubuh yang terasa kaku dan tegang.

Itulah perbedaan TB dan TBC (Tb Paru). Jadi, tuberkulosis tidak hanya menyerang paru – paru atau yang sering disebut dengan TBC. Jika Anda mengalami kondisi ini, segeralah untuk periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Penyakit

6 Perbedaan Swab Antigen dan PCR

Saat ini screening untuk melihat ada tidaknya infeksi virus corona baru di dalam tubuh yang populer dilakukan ada dua cara, yaitu tes swab antigen dan PCR. Keduanya diklaim sama-sama memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk bisa melihat ada tidaknya paparan Covid 19 dalam tubuh Anda. 

Dari cara pengambilan sampel, tidak ada perbedaan swab antigen dan PCR yang cukup signifikan. Sampe keduanya diambil dari lendir di saluran pernapasan atau kerongkongan lewat cara pengusapan menggunakan alat. Meskipun demikian jika dibedah, ternyata banyak perbedaan swab antigen dan PCR yang perlu Anda perhatikan. 

Berikut ini adalah beberapa perbedaan swab antigen dan PCR yang cukup krusial. Apakah sudah ada yang Anda ketahui sebelumnya atau justru Anda cukup terkejut mengetahui perbedaan kedua tes untuk Covid 19 ini? 

Komponen Virus yang Dideteksi 

Bagaimanapun, kedua tes untuk mendeteksi ini bisa mengetahui ada tidaknya paparan virus corona baru di dalam tubuh Anda. Hanya saja, penelitian terkait komponen virus yang dideteksi tidaklah sama. Pada saat melakukan swab tes antigen, yang dilihat adalah protein virus Covid 19 di dalam tubuh yang muncul ketika puncak infeksi. Sementara itu, pada tes PCR, pemeriksaan laboratorium mendeteksi ada tidaknya virus Covid 19 di dalam tubuh lewat keberadaan material genetik dari virus tersebut. 

Cara Pengetesan

Sepintas Anda mungkin berpikir tidak ada perbedaan swab antigen dan PCR dari segi cara pengetesan. Soalnya, keduanya sama-sama melakukan pengambilan sampel dari pengusapkan untuk mendapatkan lendir di saluran pernapasan. Namun, perbedaan justru tampak jelas setelah pengambilan sampel. Pada tes antigen, sampel yang berhasil diambil hanya tinggal ditaruh di alat atau kit antigen guna bisa mengeluarkan hasil positif atau negatif. Sementara ketika Anda melakukan tes swab PCR, sampel yang didapat akan ditaruh dalam wadah untuk nantinya dialihkan ke pengecekan laboratorium menggunakan teknik polymerase chain reaction. 

Rentang Waktu Hasil 

Perbedaan swan antigen dan PCR paling terlihat dari seberapa hasil tes dperoleh. Anda hanya perlu menunggu sekitar 15—30 menit untuk mendapatkan hasil dari tes swab antigen yang Anda lakukan. Sementara ketika memutuskan memilih tes swab PCR, Anda perlu menungu 2—4 hari untuk pemerolehan hasil. Ini karena sampel mesti dibawa ke laboratorium dan dilakukan pengecekan menggunakan alat dan teknik tertentu. 

Waktu Terbaik Pengetesan 

Sebenarnya, setiap saat semua orang bisa melakukan tes swab antigen maupun swab PCR. Namun tahukah Anda, ada waktu terbaik untuk melakukan pengetesan Covid 19 untuk hasil yang paling akurat. Untuk swab antigen, waktu terbaik pengetesannya adalah 5 hari setelah kontak erat atau 1—5 hari setelah muncul gejala. Lalu untuk swab PCR, Anda bisa melakukan tes ini 8 hari setelah kontak erat atau 3—5 hari setelah ada gejala untuk memperoleh hasil paling akurat. 

Tingkat Akurasi 

Baik swab antigen maupun PCR disebut-sebut memiliki tingkat akurasi hasil yang tinggi hingga di atas 90 persen. Hal ini tidak salah. Hanya saja jika dibedah, akurasi hasil negatif untuk antigen lebih tidak akurat dibandingkan swab PCR. Ini karena tingkat sensitivitas antigen hanya berkisar 50 persen ketika hasilnya negatif, kemungkinan keliru masih tergolong besar. Namun, hasil spesifikasinya sama tinggi dengan PCR sehingga jika hasilnya positif, tingkat akurasinya tinggi di atas 90 persen. 

Harga Tes 

Perbedaan swab antigen dan PCR yang tidak kalah mencolok adalah dari segi harga. Berdasarkan ketetapan pemerintah, harga maksimal untuk tes swab PCR adalah Rp900 ribu. Sementara itu untuk tes swab antigen, harga maksimal yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp250 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp275 ribu untuk luar Pulau Jawa. Meskipun demikian, saat ini Anda bisa dengan mudah menemukan harga kedua tes tersebut yang berada di bawah rata-rata ketetapan pemerintah.

Jangan terlalu mempersoalkan perbedaan swab antigen dan PCR. Yang jelas jika menemukan gejala, segera lakukan tes screening Covid 19 dan lakukan isolasi mandiri agar penularan bisa diminimalkan. 

Penyebab Benjolan di Paha yang Terasa Sakit
Penyakit

Penyebab Benjolan di Paha yang Terasa Sakit

Benjolan di paha merupakan suatu kondisi di mana ada tonjolan, benjolan, nodul, memar, tumor, atau daerah bengkak di daerah paha. Benjolan di paha dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti infeksi, peradangan, tumor, dan trauma. Tergantung pada penyebabnya, benjolan di paha mungkin tunggal atau ganda, lunak atau keras, nyeri atau tidak nyeri. Benjolan tersebut bisa tumbuh dengan cepat atau mungkin tidak berubah dalam ukuran. Anda yang mengalami benjolan di paha mungkin juga memiliki gejala lain, tergantung pada penyebab timbulnya benjolan di paha.

Penyebab Benjolan di Paha Terasa Sakit

Ada banyak faktor potensial yang dapat menjadi penyebab timbulnya benjolan di paha yang terasa menyakitkan. Biasanya, hal ini disebabkan oleh kondisi kulit tertentu. 

Berikut beberapa penyebab timbulnya benjolan di paha yang menimbulkan rasa sakit.

1. Infeksi

Ada banyak bagian kulit yang rentan terkena infeksi, sehingga dapat menyebabkan benjolan di paha yang menyakitkan, seperti berikut ini.

Folikel Rambut yang Terinfeksi

Folikel merupakan area di mana setiap helai rambut tumbuh dari kulit. Ketika folikel ini terinfeksi, yang pada umumnya disebabkan karena bakteri atau jamur, maka akan menimbulkan folikulitis yang ditandai dengan area kulit tersebut menjadi merah, nyeri, dan bengkak.

Selulitis

Selulitis adalah kondisi di mana luka terbuka pada kulit menjadi terinfeksi karena ada paparan zat iritan.

Abses

Infeksi pada kulit pada akhirnya bisa berubah menjadi abses yang merupakan kantong nanah.

Pembesaran Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening adalah kelenjar kecil tempat sel-sel yang bekerja melawan infeksi hidup. Jika terjadi infeksi, maka akan menimbulkan reaksi yaitu kelenjar getah bening membesar dan timbul sebagai benjolan di paha. 

2. Trauma

Benjolan di paha yang terasa nyeri juga dapat disebabkan oleh trauma. Jika Anda pernah menabrak sesuatu, digigit serangga, atau bersentuhan dengan benda tajam, benjolan di paha bisa jadi merupakan reaksi tubuh Anda terhadap trauma tersebut.

3. Pertumbuhan Sel yang Tidak Normal

Tubuh manusia terdiri dari banyak sel yang terus tumbuh dan membelah. Biasanya, tubuh bisa memastikan sel-sel tumbuh secara normal. Akan tetapi, kadang-kadang tubuh juga mungkin mengalami pertumbuhan abnormal. Benjolan di paha dapat disebabkan oleh jenis pertumbuhan sel abnormal seperti berikut ini:

  • Pertumbuhan sel lemak yang tidak normal.
  • Pertumbuhan tidak normal pada sel tulang, tulang rawan, otot atau tendon.
  • Pertumbuhan sel kulit dan folikel rambut yang tidak normal.

4. Lipoma

Lipoma sering disebut sebagai tumor lemak, tetapi bukan merupakan kanker. Lipoma adalah pertumbuhan lemak yang terjadi di antara lapisan otot dan kulit di atasnya. Penyebab pastinya tidak diketahui. Kondisi lipoma ini paling sering muncul setelah usia 40 tahun.

5. Dermatofibroma

Dermatofibroma adalah pertumbuhan kulit yang biasanya muncul di kaki bagian bawah, tetapi dapat muncul di bagian tubuh mana pun. Dermatofibroma bukan merupakan kanker, dan sering terjadi pada orang dewasa, dan jarang ditemukan pada anak-anak. 

6. Abses kulit

Abses kulit adalah kantung besar berisi nanah yang terbentuk tepat di bawah kulit. Abses bisa disebabkan oleh bakteri yang masuk ke bawah kulit, biasanya melalui luka kecil atau goresan, dan mulai berkembang biak. Tubuh melawan invasi bakteri tersebut dengan sel darah putih, yang membunuh beberapa jaringan yang terinfeksi tetapi membentuk nanah di dalam rongga yang tersisa.

7. Kista kulit

Kista adalah suatu benjolan kecil, pada umumnya berisi cairan, udara, lemak, atau bahan lain, yang mulai tumbuh di suatu tempat di tubuh tanpa alasan yang jelas. Sedangkan kista kulit adalah kista yang terbentuk tepat berada di bawah kulit.

Kista kulit diyakini terbentuk di sekitar sel keratin yang terperangkap, yaitu sel yang membentuk lapisan luar kulit yang relatif keras. Kista ini tidak menular. Siapa pun bisa mengalami kista kulit, tetapi paling sering terjadi pada mereka yang berusia di atas 18 tahun, memiliki jerawat, atau kulitnya terluka.

Rasa sakit yang Anda rasakan pada benjolan di paha bergantung pada penyebabnya. Benjolan di paha yang disebabkan oleh infeksi mungkin menyakitkan karena respons kekebalan tubuh bereaksi terhadap infeksi, dan Anda merasa sakit karena tubuh memperingatkan Anda bahwa ada sesuatu yang salah. Jika tidak segera sembuh, Anda harus mencari pengobatan dengan berkonsultasi kepada dokter, agar segera diberi penanganan yang cepat dan tepat.