gejala rambut rontok
Penyakit

Benarkah Stres Menjadi Penyebab Gejala Rambut Rontok?

Mungkin, rambut rontok adalah hal yang biasa terjadi pada hampir semua orang. Namun, kerontokan yang tidak biasa atau menipisnya rambut dari hari ke hari membuat seseorang tidak menyukai hal tersebut.

Pada dasarnya banyak sekali penyebab rambut rontok, tetapi apakah stres menjadi salah satu penyebab gejala rambut rontok pada seseorang? Berikut jawabannya!

Rambut rontok yang normal

Pada dasarnya, rambut ada rentan hidup alami di setiap helai dan rontok secara alami. Faktanya, kita semua akan kehilangan sekitar 100 helai rambut per hari, dari 100.000 rambut rata-rata di kulit kepala. Ini karena beberapa faktor, seperti:

  • Penuaan: Setelah usia 30 tahun (dan seringkali sebelum usia tersebut), pria dan wanita mulai kehilangan rambut, meskipun pria cenderung melakukannya dengan lebih cepat.
  • Usia: Usia rata-rata sehelai rambut adalah 4,5 tahun; rambut kemudian akan rontok dan akan diganti dalam waktu 6 bulan dengan rambut baru.
  • Penataan: Keramas, mengeringkan rambut, dan menyikat rambut dapat menyebabkan beberapa rambut rontok; kebanyakan dari kita melakukan ini secara teratur.

Stres penyebab rambut rontok?

Ya, stres dan rambut rontok bisa menjadi saling berkaitan. Ada beberapa hal jenis rambut rontok yang dapat dikaitkan dengan tingkat stres yang tinggi, meliputi:

  • Effluvium telogen. Dalam telogen effluvium (TEL-o-jun uh-FLOO-vee-um), stres yang paling signifikan mendorong sejumlah besar folikel rambut ke fase istirahat. Dalam beberapa bulan, rambut yang terkena bisa rontok tiba-tiba saat Anda menyisir atau mencuci rambut.
  • Trikotilomania. Trikotilomania adalah dorongan tak tertahankan untuk mencabut rambut dari kulit kepala, alus, atau area  lain di tubuh Anda. Mencabut rambut bisa menjadi cara untuk mengatasi perasaan negatif atau tidak nyaman, seperti stres, ketegangan, kesepian, kebosanan, atau frustrasi.
  • Alopecia areta. Berbagai faktor diperkirakan menyebabkan alopecia areta, kemungkinan termasuk stres berat. Dengan alopecia areta, sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut sehingga menyebabkan rambut rontok.

Stres dan rambut rontok bukanlah hal yang permanen. Jika Anda dapat mengendalikan stres, maka rambut Anda akan bisa tumbuh kembali dan rambut akan berhenti rontok.

Kelola stres untuk kurangi gejala rambut rontok

Jika stres ternyata menjadi masalah, mengendalikan tingkat stres dapat membantu memulihkan proses pertumbuhan rambut alami tubuh Anda. Anda pun bisa mengurangi stres atau mengelola managemen stres Anda dengan cara berikut:

  • Mulailah program olahraga secara teratur.
  • Pelajari teknik relaksasi seperti, meditasi, pernapasan dalam, dan yoga.
  • Luangkan waktu setiap hari untuk bersantai dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan atau mendengarkan musik yang menyenangkan.
  • Ikuti kelas yoga atau praktikkan postur tubuh di rumah.
  • Lebih terlibat secara sosial dengan teman dan keluarga daripada menarik diri dengan stres.

Penghilang stres jangka pendek

Memiliki rencana untuk mengelola managemen stres yang komprehensif akan membantu, dan teknik yang bertindak cepat adalah bagian penting dari stres itu sendiri. Beberapa obat pereda stres yang bekerja dengan cepat mungkin dapat Anda coba, meliputi:

  • Aromaterapi
  • Latihan pernapasan
  • Olahraga
  • Meditasi
  • Relaksasi otot progresif
  • Visualisasi

Faktor lain yang sebabkan rambut rontok

Ada faktor lain yang bisa menyebabkan rambut rontok, seperti:

  • Kemoterapi
  • Perubahan hormonal
  • Penyakit tertentu
  • Kebiasaan gugup
  • Kehamilan, persalinan, dan penggunaan pil KB

Jika rambut Anda menipis, atau Anda mengalami kebotakan dan tampak tidak normal (misalnya jika Anda berusia remaja atau 20-an), sebaiknya temui dokter Anda untuk mencari tahu apa penyebab dari masalah tersebut. Selain itu, jika Anda khawatir stres adalah penyebab dari gejala rambut rontok Anda, maka ada baiknya untuk rubah gaya hidup dan temukan beberapa cara untuk mengatasi stres.

Pertolongan pertama asam urat sangat penting diketahui oleh semua orang
Penyakit

10 Langkah Pertolongan Pertama Asam Urat

Pertolongan pertama asam urat sangat penting diketahui oleh semua orang, sehingga bisa memberikan penanganan yang tepat saat seseorang mengalami asam urat. Penyakit yang disebut juga dengan gout ini adalah bentuk artritis akibat inflamasi atau penumpukan kristal asam urat yang sangat menyakitkan. Akibatnya, sendi jadi kaku dan bengkak. Penyakit ini juga sering dikaitkan dengan faktor genetika, bukan sebagai konsekuensi gaya hidup. Namun, asam urat dapat diperburuk oleh obesitas dan diet.

Faktor risiko asam urat

Umumnya, seorang wanita lebih berisiko mengalami asam urat, terutama setelah menopause. Di sisi lain, seseorang lebih berisiko mengalami asam urat apabila memiliki riwayat penyakit berikut:

  • Diabetes.
  • Gagal jantung kongestif.
  • Sindrom metabolik.
  • Kolesterol tinggi.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit ginjal dan obat yang diminumnya dapat meningkatkan kadar asam urat.

10 Tahap pertolongan pertama asam urat

Selama serangan asam urat terjadi, sendi yang terkena menjadi bengkak, terasa hangat saat disentuh, dan tampak sangat merah. Bahkan, tekanan sekecil apa pun pada sendi bisa terasa sangat menyakitkan. Umumnya, serangan gout lebih sering terjadi di tengah malam dan dimulai di jempol kaki.

Jangan sampai salah, ikutilah 10 langkah pertolongan pertama asam urat berikut ini:

  1. Segera temui dokter

Ya, pertolongan pertama asam urat adalah segera menemui dokter. Asam urat adalah salah satu penyakit yang sulit terdiagnosis, karena data tentang cara mengobatinya masih sangat minim. Semakin cepat pengobatan dan penanganan nyeri diberikan, semakin cepat seseorang bisa pulih kembali.

  1. Minum obat antiinflamasi yang tepat

Pertolongan pertama asam urat juga bisa dengan mengonsumsi obat antiinflamasi yang tepat. Ada tiga jenis obat yang efektif, yaitu: 

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dijual bebas, seperti ibuprofen, aspirin, atau naproxen sodium.
  • Obat steroid resep.
  • Obat antiinflamasi resep yang disebut colchicine, yang memengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap kristal asam urat. 

Dokter Anda akan mencari tahu obat mana yang terbaik untuk kondisi dan kebutuhan tubuh Anda. Misalnya, NSAID tidak sesuai jika Anda juga menderita penyakit ginjal, dan obat steroid dapat memperburuk gula darah jika Anda juga menderita diabetes.

  1. Pastikan bagian yang membengkak bebas dari gangguan

Seseorang yang terserang gout akan mengalami sangat kesakitan meskipun sedikit tekanan pada area yang terkena. Banyak pula penderita asam urat yang melaporkan dirinya bahkan tidak tahan berada di bawah selimut. Jadi, pastikan tidak ada hal apapun yang mengganggu sendi saat membengkak.

  1. Istirahat dan angkat

Istirahatkan kaki yang terkena dan jaga agar tetap terangkat setinggi mungkin.

  1. Kompres es

Kompres es adalah salah satu pertolongan pertama asam urat yang mudah dilakukan setelah mengistirahatkan kaki dan mengangkatnya setinggi mungkin. Kompres dengan kantong es pada bagian yang bengkak secara pelan-pelan, atau mintalah bantuan orang terdekat jika tidak sanggup melakukannya sendiri.

  1. Perhatikan diet Anda!

Kadar asam urat bisa dikontrol dengan membatasi konsumsi makanan tinggi purin, termasuk daging merah, jeroan, makanan laut, dan alkohol (bir dan minuman keras).

  1. Jaga tubuh tetap terhidrasi.

Minum air putih akan membantu membersihkan kristal asam urat, sehingga kelebihan asam urat bisa dikeluarkan dari tubuh. Upayakan agar cukup minum untuk buang air kecil setiap dua sampai tiga jam.

  1. Lakukan yoga atau meditasi

Serangan asam urat bisa diminimalisir kekambuhannya dengan melakukan meditasi, yoga, kewaspadaan, dan pencitraan terpandu. Ini juga bisa menjadi langkah pertolongan pertama asam urat untuk meredakan rasa sakit.

  1. Terus berikan dukungan

Banyak pasien yang menderita asam urat merasa stres menghadapinya. Jadi, jika seseorang dalam keluarga atau kerabat Anda mengalaminya, dukunglah dan berikan bantuan kepadanya, terutama saat kambuh. 

  1. Temui dokter jika mengalami serangan berulang

Beberapa pasien bisa mengurangi risiko kekambuhan serangan asam urat. Faktanya, sekitar 62% pasien akan menghadapi serangan berikutnya lebih dari satu tahun lagi. Beberapa tidak akan mengalami serangan lagi dalam 10 tahun ke depan. Namun, jika Anda mulai mengalami serangan yang lebih sering, diskusikan dengan dokter Anda tentang langkah pengobatan terbaik.

Inilah 10 langkah pertolongan pertama asam urat yang bisa dilakukan saat seseorang mengalami serangan asam urat. Hal yang terpenting adalah segera membawanya ke dokter. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, bantulah meredakan rasa sakitnya dengan mengangkat kaki yang terkena atau mengompresnya dengan es.

Penyakit

Apa Penyebab Encopresis, Sebab Si Kecil Sering BAB di Celana?

Beberapa orang tua mungkin menganggap penyebab si kecil sering buang air besar atau BAB di celana karena memang belum bisa menahan untuk ke toilet atau memang belum terbiasa dengan toilet karena sebelumnya masih menggunakan diapers.

Mungkin memang awalnya seperti itu, namun bagaimana setelah anak melewati masa toilet training tetapi masih BAB di celana? Bila hal tersebut terjadi terlalu sering, mungkin saja si kecil mengalami encopresis atau enkopresisi, apakah itu dan penyebabnya?

Apa itu encopresis?

Enkopresis adalah saat anak-anak yang telah dilatih menggunakan toilet atau toilet training untuk buang air kecil ataupun BAB, namun malah mengelurkannya di celana mereka. Enkopresis bukanlah suatu penyakit, karena kemungkinan penyebabnya termasuk konstipasi kronis atau jangka panjang dan stres emosional.

Feses biasanya tidak sengaja dikeluarkan oleh anak ini dapat menyebabkan perasaan cemas, malu, dan bersalah pada anak. Umumnya, enkopresis ini terjadi pada anak usia di atas 4 tahun, di mana si kecil telah mendapatkan pelatihan toilet untuk kebutuhan BAB dan BAK. 

Penyebab encopresis

Enkopresis dapat disebabkan oleh faktor biologis, perkembangan, psikologis, dan lingkungan. Dan, berikut beberapa penyebab potensialnya meliputi:

  1. Sembelit

Dokter paling sering mendiagnosis enkopresis dengan sembelit kronis dan menahan buang air besar. Menurut penelitian, 90-95% dari anak anak dengan kondisi juga pengalaman sembelit dan retensi tinja. Tinja yang keras dan sulit dikeluarkan dapat berdampak pada rektum dan usus besar. Ini dikenal sebagai impaksi feses. Akhirnya, tinja cair mulai bocor di sekitar tinja yang keras.

Umumnya anak-anak akan menghindari mencoba BAB saat mereka mengalami sembelit karena rasa sakit yang ditimbulkan. Dan, hal ini dapat dapat memperburuk sembelit dan enkopresis.

  • Penyebab fisik lainnya

Penyebab fisik lain dari sembelit kronis dan encopresis meliputi:

  • Hipotiroidisme
  • Penyakit radang usus
  • Kerusakan saraf, sehingga sfingter anus tidak dapat menutup dengan benar, dan terjadi kebocoran
  • Infeksi rektal
  • Air mata dubur
  • Penyebab emosional dan psikososial

Ha lain yang menjadi pemicu enkopresis adalah masalah emosional. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak yang merasa stres atau masalah lainnya, meliputi:

  • Pelatihan toilet awal yang sulit 
  • Mulai sekolah baru
  • Pindah ke rumah baru
  • Kelahiran saudara kandung
  • Perceraian orang tua

Anak-anak dengan kondisi kesehatan mental atau lingkungan keluarga yang menantang mungkin lebih berisiko mengalami enkopresis. Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak dengan encopresis lebih mungkin memiliki:

  • Gejala kecemasan dan depresi
  • Perilaku yang lebih mengganggu
  • Kinerja sekolah yang buruk
  • Masalah sosial
  • Penyebab dan faktor risiko lainnya

Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko anak terkena encopresis dan sembelit, termasuk:

  • Menjadi laki-laki. Enkopresis kira-kira dua kali lebih umum di antara anak laki-laki daripada perempuan.
  • Mengalami gangguan perkembangan saraf. Memiliki Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Autism Spectrum Disorder (ASD) meningkatkan risiko enkopresis.
  • Minum obat tertentu. Beberapa obat yang sedang dikonsumsi, terutama yang menyebabkan sembelit, dapat meningkatkan risiko enkopresis.
  • Kebiasaan makan. Makan makanan tinggi lemak atau tinggi gula meningkatkan risiko sembelit kronis. Kekurangan asupan cairan juga meningkatkan risiko.
  • Menjadi tidak aktif. Anak-anak yang tidak cukup melakukan aktivitas fisik dapat mengalami sembelit.
  • Mencegah buang air besar. Anak-anak yang menghindari buang air besar karena terlalu sibuk bermain atau takut ke toilet umum, misalnya berisiko lebih besar mengalami sembelit.

Gejala Encopresis apda anak

Tanda dan gejala yang biasanya muncul pada si kecil dengan enkopresis, meliputi:

  • Perlu buang air besar tiba-tiba, dengan sedikit peringatan
  • Menghindari buang air besar
  • Tinja encer, hingga menyerupai diare
  • Sembelit
  • Sakit perut
  • Mengeluarkan kotoran yang sangat besar, keras dan kering
  • Menggosok daerah anus, karena nyeri
  • Menyembunyikan pakaian dalam yang terkena feses
  • Kehilangan selera makan
  • Perasaan stres, kecemasan, atau rasa bersalah

Pencegahan

Berikut beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk dapat membantu mencegah encopresis dan komplikasinya.

  • Hindari sembelit. Bantu anak untuk menghindari sembelit dengan memberikan pola makan seimbang yang tinggi serat serta mendorong anak untuk minum cukup air.
  • Pelajari pelatihan toilet yang efektif. Hindari mengajari pelatihan toilet terlalu dini atau terlalu memaksakan metode Anda. Tunggu sampai anak siap dan lakukan secara perlahan.
  • Lakukan pengobatan dini untuk encopresis. Perawatan dini, termasuk bimbingan dari dokter anak atau profesional kesehatan mental yang akan membantu mencegah dampak sosial dan emosional.

Dukungan dari orang tua atau pengasuh lainnya dapat memainkan peran penting dalam membantu anak mengatasi encopresis. Sangat penting juga untuk tidak mempermalukan, menyalahkan, atau menghukum anak-anak dengan enkopresis. Sebaliknya, lebih bersabar, pengungkapkan hal-hal positif pada anak, dan dukungan dapat memabntu si kecil belajar mengatasi tekanan emosional dan mengembangkan kebiasaan buang air besar di celana.

Penyakit

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Baru Covid-19

Apakah Anda sudah mendengar istilah happy hypoxia? Meski namanya terkesan bahagia, ternyata ini merupakan gejala baru infeksi covid-19 yang cukup membahayakan. Lalu apa sih gejala happy hypoxia ini?

Mengenal Kondisi Happy Hypoxia

Happy hypoxia merupakan kondisi yang muncul saat kadar oksigen dalam darah (saturasi oksigen) turun drastis. Sehingga menyebabkan tubuh menjadi kekurangan oksigen atau disebut hipoksia atau hipoksemia.

Mereka yang mengalami hipoksia akan merasa batuk-batuk, sesak napas, napas berbunyi, serta jantung berdetak cepat.

Akan tetapi, pada kasus orang yang mengalami happy hypoxia biasanya tidak mengalami gejala-gejala tersebut. Mereka cenderung akan merasa baik-baik saja dan bisa beraktivitas rutin selayaknya dalam kondisi sehat. Namun, organ di dalam tubuhnya sedang kekurangan oksigen.

Happy Hypoxia pada Penderita Covid-19

Seperti yang sudah dijelaskan, hipoksia tergolong kondisi yang berbahaya karena mengganggu kerja organ penting dalam tubuh. Bahkan jika tidak ditangani segera, hipoksia dapat menyebabkan kematian karena kegagalan organ.

Sebab, oksigen merupakan hal penting bagi tubuh. Tanpanya sel-sel tidak bisa bekerja dan organ tidak berfungsi sehingga terjadilah gagal organ.

Hipoksia haruslah ditangani dengan segera sebelum kadar oksigen semakin menurun. Penanganan gejala hipoksia lebih dini akan mencegah adanya kerusakan jaringan organ.

Namun, pada orang yang menderita Covid-19, hipoksia ini bisa dialami tanpa gejala atau disebut juga happy hypoxia. Di mana kadar oksigen dalam darah terus berkurang namun tidak muncul gejala apa-apa. Sehingga gejalanya tidak bisa terdeteksi dan tak jarang menyebabkan pasien meninggal dunia.

Biasanya happy hypoxia baru bisa terdeteksi jika melakukan pemeriksaan darah atau pemeriksaan saturasi oksigen dengan alat pulse oximeter.

Penyebab Happy Hypoxia pada Pasien Penderita Covid-19

Pada penderita covid-19, kadar oksigen dalam tubuhnya biasanya hanya 50%, tapi mereka tidak mengalami gejalanya. Padahal tubuh normal memiliki kadar oksigen 95-100%.

Tubuh yang memiliki kadar kurang dari 90% saja sudah disebut rendah dan biasanya sudah terilhat gejala hipoksia.

Ada beberapa penyebab terjadinya happy hypoxia pada penderita Covid-19, yaitu:

  1. Karbon Dioksida pada Tubuh Rendah

Pada kasus penderita yang mengalami hipoksia biasa, kadar oksigen yang turun biasanya akan diikuti dengan berkurang pula kadar karbon dioksida dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan di dalam tubuh.

Sedangkan happy hypoxia pada pasien Covid-19, kadar oksigen berkurang signifikan disertai juga dengan berkurangnya kadar karbon diaksida. Sehingga tubuh menganggap kondisi dalam keadaan seimbang dan baik-baik saja. Padahal sebenarnya ada masalah.

  • Otak Tidak Merespon Hipoksia

Mungkin juga disebabkan oleh virus corona yang sudah merusak bagian tubuh sehingga tidak mampu mendeteksi penurunan oksigen. Otak kemudian baru merespon saat kadar oksigen benar-benar sudah sangat rendah dan mulai menunjukkan gejala.

Penanganan Happy Hypoxia

Sebenarnya hipoksia ini harus segera diberikan penanganan oleh dokter, baik yang menunjukkan gejala atau tidak.

Biasanya penanganannya tergantung pada kondisi pasien. Jika pasien masih dapat bernapas, dokter biasanya akan memberikan oksigen melalui masker oksigen atau selang. Sedangkan penderita yang sudah tidak dapat bernapas dan mengalami penurunan pernapasan, akan diberikan oksigen melalui ventilator. Biasanya pasien ini akan dirawat di ruangan ICU.

Jika Anda terinfeksi virus covid-19 dan tidak menunjukkan gejala, Anda tetap harus berhati-hati, sebab bisa saja kondisi tersebut termasuk happy hypoxia.

Aoabila Anda pernah melakukan kontak dengan penderita corona, sebaiknya periksakan diri ke dokter atau lakukan test covid-19 segera untuk mengetahui kondisi Anda. Tetaplah waspada dan jaga keselamatan Anda di tengah pandemi ini.

Penyakit

Cara Kerja Antidote Melawan Racun

Tanpa disengaja tubuh kita bisa saja terkontaminasi racun. Dalam prakteknya, racun masuk ke dalam tubuh bisa melalui berbagai cara, bisa dihirup, tertelan, atau terkena kulit. Salah satu cara mengatasi keracunan adalah menggunakan penawar racun atau biasa disebut sebagai antidote.

Jika mengacu pada definisi ilmiahnya, antidote disebut sebagai senyawa, obat, atau zat yang bisa menetralkan efek dari racun yang ada di tubuh kita. Selain itu, bisa juga digunakan sebagai penawar dari obat lainnya.

Dalam banyak kasus, pemberian antidote pada korban yang keracunan menang tidak sepenuhnya efektif. Di sisi lain, bukan tidak mungkin korban juga masih memiliki potensi meregang nyawa atau mengalami komplikasi sekalipun sudah diberikan antidote.

Meski demikian, pemberian antidote kepada pasien memang diperlukan sebagai serangkaian usaha dalam mengobati korban keracunan. Di sisi lain, senyawa tersebut sebetulnya terdapat pada beberapa obat, tetapi tidak bisa digunakan pada setiap racun.

Oleh sebab itu, dalam prakteknya penggunaan antidote harus berdasarkan petunjuk dokter. Hal tersebut mengingat setiap jenis racun berbeda-beda penanganannya, termasuk pemberian obat yang mengandung senyawa penawar racun.

Lalu, bagaimana cara kerja antidote? Berkenaan dengan pertanyaan tersebut, artikel ini akan membahas lebih rinci bagaimana penawar racun itu bekerja pada tubuh korban yang keracunan.

  • Menangkal efek berbahaya

Saat seseorang keracunan, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar korban tidak mengalami efek yang lebih berbahaya, seperti kematian. Dalam hal ini, antidote bekerja untuk mengurangi efek racun pada tubuh korban. Misalnya, kita bisa memberikan penawar racun yang terkandung dalam atropine untuk seseorang yang mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembasmi serangga yang memiliki zat pestisida atau organofosfat.

  • Bersaing dengan racun

Cara kerja berikutnya obat penawar racun adalah dengan bersaing dengan racun itu sendiri. Metode ini, biasanya terjadi pada penggunaan etil alkohol pada korban yang keracunan senyawa kimia etilen glikol. Dalam prosesnya, antidote bersaing dengan racun tersebut dengan tujuan mengurangi efek dari racun. Hal tersebut, pada umumnya terjadi ketika seseorang baru saja keracunan dan metode ini berlangsung pada level enzim.

Selain pada level enzim, antidote juga bekerja pada level reseptor. Dalam kondisi tersebut, biasanya yang dipakai adalah flumazenil dan naloxone. Untuk flumazenil sendiri biasanya digunakan bagi seseorang yang keracunan obat penenang atau benzodiazepine yang bisa mengganggu sistem saraf. Sementara naloxone bisa dipakai untuk menawarkan racun akibat obat penghilang nyeri atau opioid.

  • Melawan racun pada metabolit

Jika lamban memberikan penawar racun saat pertama kali korban keracunan, biasanya racun akan berada pada metabolit atau hasil dari metabolisme yang ada di dalam tubuh. Meski demikian, antidote masih bisa digunakan sebagai penawar, di mana tujuannya untuk membersihkan hasil metabolisme dari racun.

Hal ini sebagaimana pemakaian N-Acetyl cysteine bagi korban yang keracunan paracetamol. Penawar racun tersebut berguna untuk mengembalikan simpanan zat tertentu pada hati untuk mencegah terjadinya penyakit hati karena racun.

Mengikat racun

Tentunya penawar racun diberikan kepada korban agar racun pada pasien dapat diturunkan tingkatnya dengan cara mengingat racun. Lebih spesifik, antidote bisa saja membentuk senyawa yang bernama inert yang selanjutnya bisa dibuang oleh tubuh korban. Contoh kasus pengikat spesifik adalah menggunakan DigiFab saat overdosis dioksin, hydroxocobalamin ketika keracunan sianida dan lain sebagainya.

Dari penjelasan yang sudah diuraikan, kita setidaknya tahu beberapa hal cara kerja antidote pada tubuh yang keracunan. Saat penggunaannya sendiri, disarankan tidak lama setelah kita atau seseorang mengalami keracunan. Khusus untuk melawan racun pada metabolit, bisa diberikan dalam jangka waktu bervariasi.

Meski demikian, dalam penggunaan antidote harus sesuai resep yang dokter berikan, mengingat setiap racun memiliki mekanisme berbeda dalam penanganannya. Namun, jika membutuhkan waktu ke rumah sakit, anda bisa memakai bahan alami sebagai penawar racun sebelum ditangani petugas medis.

Penyakit

Hipernatremia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Hipernatremia merupakan suatu kondisi medis dimana terlalu banyak natrium di dalam darah. Natrium atau sodium sebenarnya termasuk salah satu zat gizi penting untuk tubuh. Fungsi utamanya yaitu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh. Namun, karena satu dan lain hal, natrium justru ditemukan dalam jumlah yang banyak di dalam darah, sehingga menyebabkan hipernatremia dan membawa dampak buruk untuk tubuh.

Penyebab hipernatremia

Hipernatremia terjadi ketika terlalu banyak kehilangan air atau terlalu banyak penambahan natrium dalam tubuh. Alhasil, tubuh Anda mengalami dehidrasi atau terlalu sedikit air dibandingkan jumlah natrium total di dalam tubuh.

Perubahan asupan air atau kehilangan air ini dapat mempengaruhi pengaturan konsentrasi natrium dalam darah. Perubahan cairan sendiri disebabkan oleh perubahan drastis dalam rasa haus dan konsentrasi urin.

Pada orang yang sehat, rasa haus dan konsentrasi urin dipicu oleh reseptor di otak yang mengenali kebutuhan akan cairan atau kadar natrium yang tidak seimbang di dalam darah. Biasanya, tangkapan reseptor otak akan hal tersebut menghasilkan peningkatan asupan air dalam bentuk ‘haus’ atau perubahan jumlah natrium yang dikeluarkan melalui ‘urin’. Mekanisme inilah yang dengan cepat mengatasi kondisi hipernatremia di dalam tubuh.

Pada penderita hipernatremia, diduga mekanisme tersebut tidak berjalan dengan lancar, sehingga kadar natrium semakin meningkat di dalam darah dan tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup.

Gejala hipernatremia

Gejala utama hipernatremia adalah rasa haus yang berlebihan. Gejala lainnya termasuk tubuh mudah lesu, kelelahan ekstrim, kekurangan energi, dan bahkan bisa menyebabkan kebingungan. Dalam beberapa kasus, juga dapat menyebabkan otot berkedut atau kejang. Mengingat natrium berperan penting dalam kerja otot dan saraf, sehingga bila jumlahnya terlalu banyak dapat menyebabkan kejang otot.

Lebih parahnya lagi, kondisi hipernatremia bisa berakhir dengan koma dan kematian. Namun, gejala paling parah ini jarang terjadi dan biasanya hanya ditemukan ketika peningkatan natrium terjadi sangat cepat dalam jumlah yang banyak di plasma darah.

Faktor risiko hipernatremia

Ada beberapa orang atau kondisi tertentu yang dapat meningkatkan risiko hipernatremia. Orang dewasa tua berisiko lebih tinggi mengalami hipernatremia, karena seiring bertambahnya usia, cenderung akan mengalami penurunan rasa haus. Selain itu, Anda juga mungkin lebih rentan terserang penyakit yang memengaruhi keseimbangan air atau natrium di tubuh.

Kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko hipernatremia, meliputi:

  • Dehidrasi.
  • Muntah.
  • Demam.
  • Diare berat.
  • Delirium atau demensia.
  • Diabetes mellitus.
  • Mengalami diabetes insipidus.
  • Penyakit ginjal.
  • Terdapat luka bakar yang besar di kulit.
  • Penggunaan obat tertentu.

Diagnosa hipernatremia

Penegakan diagnosis hipernatremia dilakukan melalui tes darah. Selain itu, juga ada tes urin untuk mengidentifikasi kadar natrium yang tinggi di dalam urin. Kedua tes ini merupakan tes yang cepat dan sederhana yang tidak memerlukan persiapan banyak.

Melihat kondisi hipernatremia juga dapat dipicu dari masalah kesehatan tertentu, maka perlu juga dilakukan tes lainnya sesuai dengan riwayat kesehatan dan gejala lainnya yang dialami.

Pengobatan hipernatremia

Kondisi hipernatremia dapat terjadi dengan cepat (dalam waktu 24 jam) atau berkembang lebih lambat dari waktu ke waktu (lebih dari 1 – 2 hari). Semua perawatan yang nantinya diberikan oleh dokter didasarkan pada koreksi keseimbangan cairan dan natrium di dalam darah. Jika hipernatremia berkembang sangat cepat, maka akan ditangani lebih agresif dibandingkan hipernatremia yang berkembang lebih lambat.

Untuk kasus hipernatremia yang ringan, Anda mungkin dapat mengobatinya dengan meningkatkan asupan cairan. Jika kasus lebih parah, Anda kemungkinan diobati dengan infus untuk memasok cairan ke darah Anda melalui intravena. Dokter juga akan memantau setiap perkembangan kadar natrium Anda untuk menyesuaikan konsentrasi cairan yang harus dipenuhi.

Penyakit

Apa Penyebab Congek dan Bahayanya Jika Tidak Diobati?

Congek atau keluarnya cairan dari telingan adalah permasalahan kesehatan yang umum dihadapi oleh masyarakat. Dalam dunia medis penyakit ini disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).

Gejala saat menderita congek ini ditandai dengan keluarnya cairan dari telinga secara terus menerus selama lebih dari 2-6 minggu. Cairan ini keluar dari lubang yang terbentuk di gendang telinga. Akan tetapi, gejala ini tidak menyebabkan rasa sakit pada penderitanya, meskipun mengganggu kemampuan mendengar.

Penyebab Seseorang Menderita Congek

Congek umumnya komplikasi dari infeksi telinga bagian tengah akut yang terjadi berulang. Hal ini dikarenakan bengkaknya saluran eustachius sehingga cairan terperangkap di telinga bagian tengah.

Telinga bagian tengah saat mengalami pembengkakan atau tersumbat memang lebih mudah meradang atau terinfeksi. Salah satunya infeksi yang terjadi adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus.

Selain karena otitis media akut, congek juga mungkin disebabkan oleh adanya gangguan lain. Seperti cedera pada saluran eustachius atau gendang telinga.

Kondisi lain yang menyebabkan seseorang berpotensi terkena congek adalah karena beberapa hal berikut ini.

  • Mengalami kelainan bentuk tengkorak wajah, misalnya menderita bibir sumbing atau sindrom Down.
  • Usia anak-anak, sebab, saluran eustachius anak-anak lebih pendek dibanding orang dewasa
  • Mengalami infeksi pernapasan berulang, seperti radang amandel, rhinitis, atau bahkan faringitis
  • Kurangnya asupan nutrisi
  • Tinggal di daerah yang padat penduduk dan tidak bersih

Congek yang dialami akan semakin parah saat air masuk ke telinga ketika mandi atau berenang. Congek haruslah segera diobati karena dapat merusak telinga bagian tengah, seperti kematian jaringan hingga muncul tumor di area tersebut.

Bahaya Congek Jika Tidak Diobatoi

Pengobatan congek ini berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya. Secara umum, pengobatannya berupa pembersihan liang telinga secara rutin, diberi antibiotik, serta tindakan operasi timpanoplalsti. Akan tetapi jika kondisi congek sudah terlalu parah dan tidak segera mendapat tindakan medis, maka ada beberapa bahaya yang mungkon terjadi.

  • Gangguan Pendengaran

Akibat yang paling mungkin terjadi karena congek adalah gangguan pendengaran berupa ketulian. Hal ini karena rusaknya tulang-tulang pendengaran. Selain mengganggu pendengaran, otitis media supuratif kronik (OMSK) juga dapat mengganggu keseimbangan karena kemampuan tersebut juga berada di telinga.

  • Abses Otak

Abses otak atau kumpulan nanah bersarang di otak merupakan komplikasi paling parah dari congek. Abses akan membuat otak mengalami pembengkakan sehingga menyebabkan rasa sakit kepala yang parah, sulit bergerak, kejang, kesadaran menurun, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

  • Meningitis

Infeksi pada telinga akibat congekan akan membuat kuman masuk ke sistem saraf. Meningitis merupakan komplikasi yang terjadi di sistem saraf pusat yang biasanya terjadi pada anak-anak. Gejala meningitis akibat congekan cenderung sama, seperti demam tinggi, kesadaran menurun, kejang, hingga muntah menyembur.

Cara Mengobati Congek

Congek biasanya diobati dengan penanganan medis yang diberikan berdasarkan pada usia, riwayat kesehatan dan kondisi kesehatan penderita. Berikut penanganan umum pada penderita congekan.

  • Obat antibiotik tetes

Biasanya dokter akan meneteskan obat antibiotik ke dalam telinga sebanyak 2 kali sehari selama lebih kurang 2 minggu. Obat congek yang diresepkan dokter salah satunya adalah ciprofloxacin.

  • Operasi

Jika lubang telinga sudah cukup parah atau misalnya sudah terdapat tumor di dalam bagian telinga tengah, maka operasi dapat menjadi pilihan.

  • Pembersihan telinga bagian tengah

Jika ada serpihan jaringan yang menutup telinga bagian tengah, maka akan sulit meneteskan obat antibiotik. Sehingga akan dilakukan pembersihan telinga terlebih dahulu oleh dokter dengan menggunakan alat-alat yang khusus dan aman.

Penanganan penyakit congek ini cenderung relatif baik, namun potensi untuk kambuh lagi tetap ada. Sehingga ada baiknya untuk berkala melakukan konsultasi dengan dokter.

Penyakit

5 Terapi Sinusitis yang Bisa Dilakukan di Rumah

Sinusitis masih dianggap sebagai adanya masalah pernapasan di bagian rongga hidung. Padahal sebenarnya, sinusitis terjadi ketika rongga sinus atau rongga udara di belakangan tengkorak mengalami pembengkakan atau peradangan. Kondisi ini ikut memengaruhi sistem pernapasan sebab fungsi dari rongga sinus tak lain untuk mengendalikan kelembapan udara yang masuk ke paru-paru.

Dalam kondisi normal, rongga sinus seharusnya kosong. Namun ketika terjadi pembengkakan, rongga ini dipenuhi lendir sehingga menyebabkan infeksi. Untuk orang yang menderita sinusitis kronis, umumnya akan menjalani terapi sinusitis yang teratur di dokter dan udah memiliki senjata berupa antibiotik untuk meredakan gejala jika penyakit ini datang tiba-tiba. Akan tetapi bagaimana jika Anda mengalami kondisi sinusitis ketika sedang berada di rumah dan tanpa pegangan obat?

Sebenarnya banyak pilihan terapi sinusitis yang bisa Anda lakukan dari rumah. Jenis-jenis terapi ini pun tergolong simpel dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Cek jenis-jenis terapinya di bawah ini, yuk.

  1. Terapi Minum

Ketika serangan sinusitis datang, Anda bisa langsung melakukan terapi hidrasi. Sesuai namanya, Anda cukup mengonsumsi air mineral dalam porsi yang cukup guna membantu melegakan pernapasan Anda. Disarankan porsi air mineral yang mesti Anda asup untuk menjalani terapi sinusitis sebanyak 250 mililiter tiap 2 jam. Jumlah tersebut sebenarnya tidak sulit dipenuhi karena hanya setara dengan satu gelas air.

  • Cuci Air Garam

Memasukkan cairan saline ke dalam hidung untuk meredakan gejala sudah lumrah dilakukan sebagai terapi sinusitis di dunia kedokteran. Langkah ini pun sangat mudah Anda tiru di rumah. Campurkan sekitar 2 sendok teh garam dengan 200 mililiter air. Setelah diaduk merata, cucilah hidung Anda dengan air garam tersebut. Untuk hasil lebih maksimal, Anda bisa menggunakan pot neti guna memasukkan air garam ke bagian rongga hidup yang lebih dalam. Lakukan minimal 2 kali sehari dan rasakan gejala sinusitis yang Anda alami akan mereda.

  • Kompres Air Hangat

Sinusitis tidak hanya membuat Anda sulit bernapas. Peradangan ini juga membuat Anda merasa pusing serta sakit di bagian persedian wajah. Anda bisa meredakan gejala tersebut dengan mengompres beberapa bagian wajah dengan handuk yang telah dicelupkan sebelumnya ke air hangat. Kompreslah bagian sekitar hidup, pipi, mata, dan dahi. Terapi sinusitis ini akan membantu mengurangi sakit yang Anda alami sekaligus meredakan peradangan di rongga sinus dari luar.

  • Terapi Uap

Terapi sinusitis dengan metode uang juga sudah biasa dilakukan di rumah sakit untuk meringankan gejala sinusitis. Melakukan model terapi ini di rumah pun bukan sesuatu yang mustahil. Siapkan satu mangkok berisi air panas lalu condongkan wajah ke mangkok tersebut. Jangan lupa untuk menutupi kepala dengan handuk guna mengurung uang panas benar-benar bisa masuk ke hidung Anda. Cobalah bernapas dengan hidung dan tidak perlu waktu lama sampai Anda merasa lebih baik.

  • Terapi Pijat

Pijatan di area tertentu terbukti bisa meredakan gejala sinusitis. Terapi sinusitis yang satu ini bahkan sudah dikenal sebagai salah satu pengobatan tradisional penyakit ini di China. Cara memijat untuk terapi sinusitis sebenarnya tidak terlalu sulit. Posisikan kedua telapak tangan Anda menopang bagian belakang kepala, tepatnya di perbatasan leher dan tengkorak. Pijat perlahan area perbatasan tersebut dan cobalah bernapas secara normal. Anda juga bisa memijat perbatasan pipi dan batang hidung untuk meredakan gejala sinusitis.

***

Tidak sulit bukan melakukan berbagai terapi sinusitis dari rumah? Intinya jangan panik! Segera lakukan salah satu pilihan terapi di atas apabila Anda mulai merasakan gejala sinusitis menyerang. Selamat mencoba.

Penyakit

4 Terapi Pengobatan Vertigo yang Harus Anda Ketahui

Vertigo merupakan suatu gejala di mana seseorang akan merasakan sensasi berputar hingga sulit menjaga keseimbangan tubuh dan melakukan aktivitas sehari-hari. Serangan vertigo bisa saja terjadi secara tiba-tiba, dalam waktu beberapa detik, atau bahkan bertahan cukup lama. Jika  Anda mengalami vertigo yang cukup parah, gejala ini akan muncul selama beberapa hari dan dapat terjadi secara berulang. Oleh sebab itu, Anda penting melakukan pengobatan vertigo untuk mengatasinya, sehingga dapat melakukan aktvitas kembali dengan normal.

Apa yang menyebabkan gejala vertigo?

Umumnya, vertigo disebabkan oleh masalah di bagian otak tertentu atau gangguan keseimbangan pada telinga bagian dalam. Penyebab vertigo lainnya adalah :

  1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), yaitu gerakan keseimbangan perifer memicu vertigo.
  2. Migrain atau sakit kepala hebat.
  3. Labyrinthitis, yaitu adanya infeksi telinga bagian dalam.
  4. Vestibular neuronitis, yaitu radang saraf vestibular yang menjalar ke telinga bagian dalam dan mengirim pesan ke otak yang membantu mengendalikan keseimbangan tubuh.

Penyebab vertigo setiap orang bisa saja berbeda-beda, sehingga pengobatan vertigo akan disesuaikan pula dengan penyebabnya. Selain itu, mungkin saja Anda akan mengalami gejala tambahan lainnya, seperti suhu tubuh tinggi, telinga berdenging (tinnitus), dan gangguan pendengaran.

Pengobatan vertigo apa yang bisa dilakukan?

Sebagian besar, kasus ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa melakukan pengobatan vertigo. Namun, ada sebagian penderita yang mengalami vertigo secara berulang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga butuh cara untuk mengatasinya. Beberapa pengobatan vertigo yang dapat Anda lakukan adalah sebagai berikut.

Rehabilitasi vestibular.

Pengobatan vertigo dengan terapi fisik ini bertujuan membantu memperkuat sistem vestibular. Fungsi sistem vestibular adalah untuk mengirim sinyal ke otak tentang gerakan kepala dan tubuh relatif terhadap gravitasi. Rehabilitasi vestibular bisa dilakuakn jika Anda mengalami vertigo berulang. Terapi ini akan membantu melatih panca indera Anda yang lain untuk mengkompensasi gejala vertigo.

Canalith repositioning Manuver.

American Academy of Neurology merekomendasikan serangkaian gerakan kepala dan tubuh spesifik untuk mengatasi Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Gerakan ini dilakukan untuk mengeluarkan cadangan kalsium yang bergerak bebas kembali ke ruang telinga bagian dalam, sehingga dapat diserap oleh tubuh. Gejala vertigo selama terapi berlangsung bisa saja muncul, tetapi dokter akan membimbing gerakan agar tetap aman dan efektif.

Obat-obatan.

Di sisi lain, pengobatan vertigo melalui obat-obatan dapat diberikan untuk meringankan gejala, seperti mual atau mabuk karena vertigo. Jika vertigo Anda disebabkan oleh infeksi atau peradangan, maka dokter akan meresepkan obat antibiotik atau steroid untuk mengurangi pembengkakan dan menyembuhkan infeksi.

Jika Anda memiliki penyakit Meniere, dokter bisa saja meresepkan obat diuretik (pil air) untuk mengurangi tekanan akibat penumpukan cairan. Selain itu, mungkin Anda akan diberikan obat-obatan, seperti meclizine, glikoprolrolat, atau lorazepam untuk membantu meringankan pusing karena kondisi ini.

Operasi.

Tindakan ini adalah pilihan terakhir jika dengan dengan terapi non-bedah tidak mampu membuat kondisi Anda lebih baik. Selain itu, jika kasus vertigo disebabkan oleh masalah mendasar yang serius, seperti tumor atau cedera pada otak atau leher, maka operasi dapat membantu meringankan vertigo.

Itulah 4 terapi pengobatan vertigo yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi vertigo. Jika Anda gejala vertigo muncul secara tiba-tiba, maka segera ambil posisi yang nyaman sambil bantuan medis datang. Diskusi dan konsultasikan ke dokter untuk menentukan terapi mana yang tepat dan sesuai dengan kondisi Anda saat ini.

Penyakit

Tetap Waspada Dengan Cedera Kepala Ringan

Cedera kepala ringan adalah cedera atau trauma pada kepala dan otak yang dapat memberikan dampak pada fungsi otak.

Cedera kepala adalah segala jenis cedera pada otak, tengkorak, atau kulit kepala Anda.  Mulai dari benjolan ringan atau memar hingga cedera otak traumatis. Cedera kepala yang umum termasuk gegar otak, patah tulang tengkorak, dan luka pada kulit kepala.

Sulit untuk menilai seberapa serius cedera kepala hanya dengan melihatnya. Namun, beberapa cedera kepala ringan mengeluarkan darah, sementara beberapa cedera besar tidak berdarah sama sekali.  Sangat penting untuk merawat semua cedera kepala dengan serius dan memeriksakannya ke dokter.

Cedera kepala ringan adalah cedera yang umum terjadi pada orang-orang dari segala usia dan jarang mengakibatkan kerusakan otak permanen. Penyebab paling umum dari cedera kepala ringan adalah jatuh, serangan, dan bertabrakan. Anak-anak lebih mungkin mengalami cedera kepala ringan karena mereka cenderung sangat aktif. 

Gejala-gejala cedera kepala ringan biasanya ringan dan berlangsung singkat, hal ini mungkin termasuk:

  • Sakit kepala ringan
  • Mual (merasa sakit)
  • Pusing ringan
  • Penglihatan kabur ringan

Jika gejala Anda atau anak Anda memburuk secara signifikan, Anda disarankan untuk langsung berkonsultasi dengan dokter.

Kebanyakan orang yang datang ke rumah sakit karena cedera kepala ringan diizinkan untuk pulang ke rumah tidak lama setelahnya dan akan pulih sepenuhnya dalam beberapa hari.

Untuk 24 jam pertama setelah cedera, sangat penting untuk tetap bersama orang yang terluka untuk mengawasi setiap gejala baru yang berkembang. Penting juga untuk beristirahat, menghindari memperparah cedera dengan situasi penuh tekanan, dan hindari olahraga kontak sampai cedera kepala ringan sepenuhnya pulih.

Banyak cedera kepala ringan terjadi akibat dari kecelakaan yang sulit diprediksi atau dihindari. Tetapi terdapat cara untuk mengurangi resiko Anda atau anak Anda terkena cedera kepala ringan, seperti:

  • Menggunakan helm ketika bermain sepeda 
  • Menjaga kebersihan lantai serta tangga di rumah, untuk mengurangi resiko terjatuh
  • Menggunakan perlengkapan lengkap dan aman ketika melakukan olahraga

Cedera kepala ringan merupakan cedera yang akan sembuh setelah beberapa hari, namun jika gejalanya memburuk atau Anda mengalami gejala baru, segera kunjungi dokter. Jika Anda masih memiliki gejala dua minggu setelah cedera kepala ringan, Anda juga disarankan untuk berdiskusi dengan dokter Anda.