Fakta-Fakta Seputar Sindrom Mallory-Weiss

Fakta-Fakta Seputar Sindrom Mallory-Weiss

Ada banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi di sekitar saluran pencernaan manusia. Jika maag atau usus buntu sudah amat populer, beda cerita untuk sindrom mallory-weiss. Salah satu masalah kesehatan yang menyerang organ pencernaan ini masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia.

Oleh karenanya, artikel ini akan memaparkan beberapa fakta seputar sindrom mallory-weiss sebagai salah satu sumber informasi awal sebelum Anda mencari rujukan yang lebih layak dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Berikut beberapa fakta tersebut:

  • Gambaran umum mengenai kondisi ini

Sindrom mallory-weiss dideskripsikan oleh dua orang patologis dan dokter di Amerika, Kenneth Mallory dan Soma Weiss pada tahun 1929. Masalah kesehatan tersebut terungkap setelah Mallory dan Weiss menangani pasien yang menderita muntah-muntah setelah pesta minuman keras.

Sindrom mallory-weiss adalah suatu kondisi yang ditandai robeknya gastrointestinal bagian atas akibat laserasi mukosa longitudinal pada sambungan gastroesofagus atau kardia lambung. Sindrom mallory-weiss juga dikenal dengan istilah lain, yakni pendarahan saluran atas.

Robekan yang terjadi di salah satu organ pencernaan tersebut membuat seseorang mengalami pendarahan. Karena terjadi di dalam, darah tersebut akan keluar bersama muntahan, feses, ataupun mengalir melalui anus.

Kendati kondisi ini amat berkaitan dengan pola konsumsi alkohol, tetapi sindrom mallory-weiss dapat dipicu oleh beberapa penyebab lain yang memicu peningkatan tiba-tiba dalam tekanan intragastrik atau prolaps lambung ke esofagus, termasuk ekokardiografi transesofagus anteseden. Hantaman benda keras atau cedera yang diakibatkan benda tumpul pun bisa memicu kondisi ini.

  • Kelompok risiko

Sindrom mallory-weiss dapat terjadi pada siapa saja, tetapi ada kelompok orang yang memiliki peluang lebih tinggi ketimbang yang lainnya. Selain para pecandu alkohol, orang yang berumur 40 tahun ke atas jauh lebih berpotensi menderita penyakit ini. Selain itu, jika dibandingkan perempuan, pria dilaporkan memiliki risiko yang lebih tinggi dengan rasio 2-4: 1.

Namun, patut untuk diketahui jika ini hanya dugaan sementara, pasalnya dalam beberapa kasus, tidak ada faktor pencetus yang dapat diidentifikasi oleh dokter. Bahkan, satu studi melaporkan bahwa 25% pasien tidak memiliki faktor risiko yang dapat diidentifikasi.

  • Bagaimana bisa terjadi robekan dan menimbulkan sindrom mallory-weiss?

Robekan di gastroesophageal junction yang akhirnya menyebabkan sindrom mallory-weiss kemungkinan besar terjadi sebagai akibat dari gradien tekanan transmural yang besar, terjadi dengan cepat, dan singkat di seluruh area tersebut. 

Dengan peningkatan cepat dalam tekanan intragastrik karena faktor pencetus, seperti muntah. Gaya geser yang cukup tinggi inilah yang akhirnya menyebabkan terjadinya robekan. Selain itu, prolaps yang hebat atau intususepsi perut bagian atas ke dalam kerongkongan, seperti yang dapat disaksikan selama muntah yang kuat pada endoskopi, juga berpotensi menyebabkan robekan di gastroesophageal.

  • Tindakan yang dapat dilakukan setelah timbul gejala

Ada banyak gejala yang bisa menjadi petunjuk seseorang mengalami masalah kesehatan ini, selain muntah dan berak darah, sesak napas, nyeri perut, hingga perasaan lemah juga dapat menjadi tanda awal sindrom mallory-weiss.

Seseorang yang mengalami masalah tersebut amat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat segera mendapatkan endoskopi. Endoskopi dilakukan untuk memetakan masalah apa yang tengah terjadi agar nantinya dokter bisa merencanakan langkah-langkah pengobatan, termasuk menentukan apakah pasien harus mendapat perawatan intensif (rawat inap) atau sekadar rawat jalan. Semua tentu tergantung seberapa parah kondisi pasien.

  • Komplikasi yang mungkin terjadi

Sindrom mallory-weiss termasuk kondisi kesehatan yang butuh perhatian ekstra. Sebab, masalah kesehatan ini bisa menimbulkan kematian. Kemungkinan kematian tersebut seiring dengan komplikasi yang kerap terjadi, mulai dari iskemia atau infark miokard, hingga syok hipovolemik.

***

Kendati demikian, sindrom mallory-weiss sudah dapat tertangani dengan baik berkat perkembangan yang terjadi di dunia medis. Kecanggihan alat kesehatan, serta semakin kompleksnya khazanah ilmu kedokteran membuat beragam komplikasi hingga tingkat kematian pasien dapat ditekan. 

Kiranya itulah beberapa fakta yang dapat menggambarkan kondisi sindrom mallory-weiss. Anda perlu mencari referensi tambahan untuk mengetahui masalah kesehatan ini secara lebih lengkap dan komprehensif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *