Gejala Malformasi Anorektal yang Perlu Diketahui

Atresia ani atau juga dikenal dengan nama malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital yang menyebabkan anus tidak terbentuk secara sempurna. Dampak paling utama kondisi ini adalah penderitanya tak dapat mengeluarkan tinja atau kotoran secara normal. Keadaan ini biasanya terjadi akibat gangguan perkembangan saluran cerna pada janin saat usia kehamilan 5 sampai 7 minggu.

Pada saat janin berkembang dalam rahim, setiap organ tubuh janin berkembang pada waktu yang berbeda-beda. Awalnya saluran pencernaan bagian bawah dan saluran kemih berasal dari satu bagian, memasuki minggu ketujuh hingga ke-10 kehamilan rektum dan anus terpisah dari saluran kemih meskipun terkadang proses ini tidak terjadi sebagaimana mestinya.

Tanda dan Gejala Malformasi Anorektal

Kondisi yang menyebabkan kelainan pada cara bayi melakukan buang air besar ini tentu disertai dengan tanda dan gejala. Dalam kasus yang ada gejala yang muncul berbeda-beda, hal itu tergantung dari jenis malinformasi yang dialami oleh penderita. Berikut beberapa gejala yang dapat diketahui dan sebagai jaga-jaga tim medis yang mengatasi masalah ini.

  • Apabila saluran anus bayi sempit, bayi sangat mungkin akan mengalami kesulitan dalam buang air besar karena ini, selain itu keadaan ini juga dapat menimbulkan sembelit serta rasa tidak nyaman.
  • Jika anus dalam keadaan tertutup membran, tentunya kondisi ini membuat bayi dalam kesulitan karena tidak dapat buang air besar.
  • Apabila rektum tidak terhubung ke anus, kotoran akan keluar dari tubuh bayi melalui fistula dan memasuki saluran kemih, buruknya kondisi ini justru bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
  • Jika rektum tidak terhubung ke anus dan tidak ada fistula, maka bayi tidak akan bisa mengeluarkan kotoran ke luar tubuh dan tidak bisa buang air besar.

Kondisi Penyebab

Kondisi tersebut terjadi karena adanya perkembangan tubuh janin yang tidak sempurna pada bagian saluran pencernaan bagian bawah. Ketika janin berkembang dalam rahim, setiap organ tubuh janin akan berkembang dalam waktu yang berbeda-beda sesuai yang telah dijelaskan sedikit di atas, pada minggu ketujuh hingga ke-10 rektum dan anus harus terpisah dari saluran kemih.

Secara umum penyebab pasti kondisi ini masih belum diketahui, meski demikian biasanya bayi penderita kondisi ini juga memiliki beberapa kelainan lain, seperti sindrom genetik, kelainan kromosom atau kelainan bawaan. Sindrom genetik dan kelainan bawaan ini meliputi beberapa hal berikut ini.

  • VACTERL association, sindrom tulang belakang, dubur, jantung, trakea, ginjal, anggota gerak dan kerongkongan.
  • Kelainan sistem pencernaan, kelainan saluran kemih dan kelainan tulang belakang yang dialami oleh bayi.

Diagnosis Malformasi Anorektal

Pada saat bayi lahir, dokter segera akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh yang salah satunya melihat apakah anus terbuka dan dalam posisi yang tepat. Terdapat beberapa tes diagnostik yang akan dilakukan guna melakukan diagnosa pada kelainan lain termasuk kondisi di atas, berikut di antaranya.

  • X-ray, dalam memberi gambaran umum terkait letak anatomis malformasi, tes ini juga bisa mendiagnosis kelainan tulang belakang dan sakrum.
  • Ultrasonografi (USG), dilakukan pada perut dan tulang belakang yang fungsinya untuk memeriksa saluran kemih dan tulang belakang.
  • Ekokardiogram, tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat kelainan jantung pada bayi.
  • Magnetic resonance imaging (MRI), pemeriksaan ini mungkin diperlukan dalam mendiagnosis kelainan sumsum tulang belakang dan kelainan tulang belakang lain pada bayi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *