Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Baru Covid-19

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Baru Covid-19

Apakah Anda sudah mendengar istilah happy hypoxia? Meski namanya terkesan bahagia, ternyata ini merupakan gejala baru infeksi covid-19 yang cukup membahayakan. Lalu apa sih gejala happy hypoxia ini?

Mengenal Kondisi Happy Hypoxia

Happy hypoxia merupakan kondisi yang muncul saat kadar oksigen dalam darah (saturasi oksigen) turun drastis. Sehingga menyebabkan tubuh menjadi kekurangan oksigen atau disebut hipoksia atau hipoksemia.

Mereka yang mengalami hipoksia akan merasa batuk-batuk, sesak napas, napas berbunyi, serta jantung berdetak cepat.

Akan tetapi, pada kasus orang yang mengalami happy hypoxia biasanya tidak mengalami gejala-gejala tersebut. Mereka cenderung akan merasa baik-baik saja dan bisa beraktivitas rutin selayaknya dalam kondisi sehat. Namun, organ di dalam tubuhnya sedang kekurangan oksigen.

Happy Hypoxia pada Penderita Covid-19

Seperti yang sudah dijelaskan, hipoksia tergolong kondisi yang berbahaya karena mengganggu kerja organ penting dalam tubuh. Bahkan jika tidak ditangani segera, hipoksia dapat menyebabkan kematian karena kegagalan organ.

Sebab, oksigen merupakan hal penting bagi tubuh. Tanpanya sel-sel tidak bisa bekerja dan organ tidak berfungsi sehingga terjadilah gagal organ.

Hipoksia haruslah ditangani dengan segera sebelum kadar oksigen semakin menurun. Penanganan gejala hipoksia lebih dini akan mencegah adanya kerusakan jaringan organ.

Namun, pada orang yang menderita Covid-19, hipoksia ini bisa dialami tanpa gejala atau disebut juga happy hypoxia. Di mana kadar oksigen dalam darah terus berkurang namun tidak muncul gejala apa-apa. Sehingga gejalanya tidak bisa terdeteksi dan tak jarang menyebabkan pasien meninggal dunia.

Biasanya happy hypoxia baru bisa terdeteksi jika melakukan pemeriksaan darah atau pemeriksaan saturasi oksigen dengan alat pulse oximeter.

Penyebab Happy Hypoxia pada Pasien Penderita Covid-19

Pada penderita covid-19, kadar oksigen dalam tubuhnya biasanya hanya 50%, tapi mereka tidak mengalami gejalanya. Padahal tubuh normal memiliki kadar oksigen 95-100%.

Tubuh yang memiliki kadar kurang dari 90% saja sudah disebut rendah dan biasanya sudah terilhat gejala hipoksia.

Ada beberapa penyebab terjadinya happy hypoxia pada penderita Covid-19, yaitu:

  1. Karbon Dioksida pada Tubuh Rendah

Pada kasus penderita yang mengalami hipoksia biasa, kadar oksigen yang turun biasanya akan diikuti dengan berkurang pula kadar karbon dioksida dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan di dalam tubuh.

Sedangkan happy hypoxia pada pasien Covid-19, kadar oksigen berkurang signifikan disertai juga dengan berkurangnya kadar karbon diaksida. Sehingga tubuh menganggap kondisi dalam keadaan seimbang dan baik-baik saja. Padahal sebenarnya ada masalah.

  • Otak Tidak Merespon Hipoksia

Mungkin juga disebabkan oleh virus corona yang sudah merusak bagian tubuh sehingga tidak mampu mendeteksi penurunan oksigen. Otak kemudian baru merespon saat kadar oksigen benar-benar sudah sangat rendah dan mulai menunjukkan gejala.

Penanganan Happy Hypoxia

Sebenarnya hipoksia ini harus segera diberikan penanganan oleh dokter, baik yang menunjukkan gejala atau tidak.

Biasanya penanganannya tergantung pada kondisi pasien. Jika pasien masih dapat bernapas, dokter biasanya akan memberikan oksigen melalui masker oksigen atau selang. Sedangkan penderita yang sudah tidak dapat bernapas dan mengalami penurunan pernapasan, akan diberikan oksigen melalui ventilator. Biasanya pasien ini akan dirawat di ruangan ICU.

Jika Anda terinfeksi virus covid-19 dan tidak menunjukkan gejala, Anda tetap harus berhati-hati, sebab bisa saja kondisi tersebut termasuk happy hypoxia.

Aoabila Anda pernah melakukan kontak dengan penderita corona, sebaiknya periksakan diri ke dokter atau lakukan test covid-19 segera untuk mengetahui kondisi Anda. Tetaplah waspada dan jaga keselamatan Anda di tengah pandemi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *