Parenting

Terapi Okupasi Apakah Efektif untuk Mengatasi Autisme pada Anak?

Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme memiliki beberapa kesulitan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan pekerjaan sehari-hari. terapi okupasi tidak jarang direkomendasikan oleh psikolog atau pun psikiater untuk anak dengan autisme. Kesulitan yang dialami oleh anak dengan gangguan spektrum autism antara lain kemampuan sosial yang terbatas, kurang mampu memahami dan patuh terhadap peraturan sosial, sulit menerima hal-hal baru, keterikatan pada hal-hal yang sudah dikenal saja, perilaku repetitif, dan gangguan aktivitas seperti hipo atau hiperaktif.

Hingga saat ini penyebab dari gangguan spektrum autism belum diketahui secara pasti sehingga dapat menyebabkan terapi yang efektif untuk gangguan spektrum autism juga belum tersedia. Namun, anak dengan gangguan spektrum autism juga memerlukan bantuan agar bisa beradaptasi dan dapat melangsungkan hidupnya dengan baik. Beberapa terapi seperti terapi okupasi dapat meningkatkan kemampuan anak dengan gangguan spektrum autism sehingga dapat mengatasi disabilitas yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat terapi okupasi

Terapi okupasi bukan terapi yang berhubungan dengan pekerjaan, melainkan suatu terapi yang bertujuan untuk membantu orang dengan disabilitas fisik, sensorik, atau pun kognitif untuk dapat hidup mandiri. Terapi ini tidak terbatas untuk orang dewasa saja, tetapi juga bermanfaat untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autism. Dengan melakukan terapi ini, harapannya anak dengan gangguan autisme dapat bermain, bersekolah, dan melakukan kegiatan hari secara mandiri sehingga memperbaiki kualitas hidup anak dengan gangguan spektrum autisme di rumah dan di sekolah. Berikut kemampuan yang dapat dicapai dengan terapi okupasi:

  • Merawat diri sendiri, seperti toilet training, memakai baju secara mandiri, menggosok gigi, dan menyisir rambut.
  • Kemampuan motorik halus seperti kemampuan memegang pensil untuk menulis
  • Kemampuan motorik kasar seperti berjalan atau mengendarai sepeda
  • Kemampuan persepsi dengan harapan anak dengan gangguan spektrum autisme dapat membedakan warna, bentuk, dan ukuran
  • Kepekaan terhadap tubuh sendiri dan hubungan antar anggota tubuh yang lain
  • Kemampuan visual untuk membantu dalam membaca dan menulis
  • Kemampuan untuk beradaptasi, bersosialisasi, menyelesaikan masalah, dan berkomunikasi.
Penyakit

Waspada Gejala Sinusitis Akut yang Menyerupai Flu

Masyarakat di Indonesia sepertinya sudah familier dengan istilah penyakit sinusitis. Sinus adalah rongga yang terdapat pada tulang tengkorak manusia. Pada kenyataannya, manusia memiliki sinus di beberapa bagian, yaitu di belakang tulang pipi, di antara kedua mata, di kening, dan di belakang hidung. Keempat rongga ini saling berhubungan antarsatu dan lainnya.

Dalam kondisi normal, rongga sinus hanya akan terisi dengan udara atau sedikit cairan yang nantinya dapat dikeluarkan lewat hidung. Namun, dalam kasus tertentu, dapat terjadi peradangan pada sinus yang dikenal dengan sinusitis akut.

Peradangan sinusitis akut disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Kondisi ini menyebabkan bertambahnya produksi lendir (mukus) di dalam rongga, sehingga terjadi sumbatan. Rongga yang terkena radang dan dipenuhi dengan mukus dapat menyebabkan rasa nyeri. Peradangan sinus ini dapat berlangsung selama 2-4 minggu.

Sinusitis akut memiliki gejala awal yang menyerupai flu, seperti hidung tersumbat, keluarnya cairan dari hidung dan nyeri pada sekitar area wajah. Tidak heran, banyak orang yang salah menyangka gejala sinusitis akut pada awalnya. Sumbatan pada sinus juga dapat disebabkan karena alergi (rinitis alergi), polip (pertumbuhan daging) pada hidung, atau tulang hidung yang miring.

Gejala sinusitis akut yang mungkin dapat terjadi selain yang telah disebutkan di atas, yaitu:

  • Terdapat lendir yang keluar dari hidung. Lendir ini memiliki tekstur yang cenderung kental dan berwarna kuning atau kehijauan. Cairan ini dapat mengalir ke belakang hidung kemudian turun ke bagian kerongkongan (post-nasal drip).
  • Mengalami kesulitan bernapas yang diakibatkan hidung tersumbat.
  • Rasa tidak nyaman pada telinga seperti rasa tersumbat.
  • Sakit kepala, terutama di sekitar area wajah.
  • Mengalami gangguan pada indra penciuman dan perasa.
  • Batuk di malam hari atau ketika udara dingin.
  • Bau mulut.
  • Demam.

Umumnya, gejala sinusitis dapat diatasi dengan perawatan secara mandiri yang dapat dilakukan di rumah. Namun, Anda tetap perlu waspada jika mengalami gejala seperti yang disebutkan di bawah ini dan segera berkonsultasi dengan dokter:

  • Gejala berlangsung selama lebih dari satu minggu.
  • Demam terus menerus.
  • Riwayat sinusitis yang berulang.
  • Merasa nyeri, mengalami bengkak, dan kemerahan di sekitar mata.
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Penyakit

Mengenal Sindrom Patau yang Langka Terjadi Pada Bayi

Sindrom patau dikenal juga dengan sebutan trisomy 13 yang merupakan kelainan genetik langka. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tambahan salinan kromosom 13 pada beberapa atau seluruh sel tubuh. Normalnya setiap sel yang ada dalam tubuh manusia mengandung 23 pasang kromosom yang dapat membawa gen turunan dari orang tua. Tetapi pada bayi dengan sindrom patau ini, memiliki tiga salinan kromosom 13, padahal seharusnya hanya sepasang atau cukup dua salinan saja.

Kelainan ini sangat mengganggu perkembangan janin di dalam kandungan. Alhasil, janin yang terkena sindrom patau ini akan tumbuh dengan sangat lambat di dalam kandungan. Sindrom patau dapat dikatakan langka terjadi karena hanya sekitar satu di setiap 5000 kelahiran. Tidak sedikit bayi yang akhirnya meninggal dalam kandungan setelah divonis terkena sindrom patah.

Sedangkan bayi yang bisa lahir dengan selamat biasanya memiliki berat badan rendah disertai dengan masalah kesehatan lainnya. Statistik pun menunjukkan bawah ada 9 dari 10 anak yang terlahir dengan sindrom patau akan meninggal di tahun pertama kelahirannya, seperti yang terjadi pada Adam Fabumi.

Apakah sindrom patau bisa dicegah?

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah terjadi sindrom patau di dalam janin. Sindrom patau ini dapat terjadi secara acak saat pembuahan, tepatnya ketika sperma dan telur bergabung serta janin mulai berkembang. Meski demikian, risiko ibu hamil melahirkan bayi dengan sindrom patau akan meningkat dengan usia ibu yang semakin tua. Untuk memastikan ada atau tidaknya pembelahan kromosom yang abnormal, dokter perlu melakukan pemeriksaan invasif, seperti dengan amniocentesis atau chroionic villus sampling atau bisa disebut dengan CVS.

Walaupun demikian, pemeriksaan ini hanya bertujuan untuk mengetahui secara pasti ada atau tidaknya trisomy 13 itu. Tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk janin yang menderita sindrom patau. Orang tua mungkin akan ditawarkan untuk mengikuti bimbingan dan bantuan agar siap mental saat melahirkan bayi dengan sindrom patau. Dokter akan menjelaskan penanganan yang bisa dilakukan ketika bayi lahir, yakni melakukan prosedur agar si bayi bisa mendapatkan asupan hingga menjelang ajal.

Kesehatan Wanita

Cara Mengatasi Gejala Polip Rahim

Saat mendengar kata polip, Anda tentu mengaitkannya dengan jaringan abnormal yang tumbuh di bagian tertentu pada tubuh. Bentuk polip seperti jamur, dengan tangkai dan berukuran kecil. Salah satu tempat tumbuhnya polip adalah di dinding Rahim atau biasanya disebut dengan polip rahim. Ketika tumbuh di rahim, polip bisa tumbuh tunggul atau lebih dari satu. Ukurannya pun berbeda-beda. Mulai dari beberapa milimeter saja, hingga lebih dari 6 cm. Namun tidak perlu khawatir, pasalnya sebagain besar polip rahim sifatnya jinak.

Gejala-gejala polip rahim

Anda tidak perlu panik, polip rahim tidak selalu seperti kanker. Keduanya adalah yang berbeda. Polip rahim biasanya rentan terjadi pada wanita yang berada di dalam periode pra-menopause atau telah mengalami masa menopause. Ada gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh penderitanya, namun ada juga yang tidak merasakan gejalanya sama sekali. Berikut gejala polip rahim:

  • Keluar bercak darah meski tidak sering menstruasi
  • Pendarahan hebat
  • Pendarahan pada wanita yang telah menopause
  • Infertilitas

Salah satu faktor yang menyebabkan tumbuhnya polip rahim adalah hormon. Hormone estrogen sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan polip. Biasanya, selain wanita yang berada di fase pra-menopause dan menopause, polip rahim juga bisa terjadi pada penderita obesitas dan hipertensi. Selain itu, wanita yang mengonsumsi obat kanker payudara seperti tamoxifen juga rentan mengalami polip rahim.

Apa yang harus dilakukan?

Wajar jika penderita polip rahim merasa bingung apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Sebenarnya, polip rahim bisa hilang dengan sendirinya, karena berasal dari hormon jadi bisa datang dan pergi, tergantung dengan kondisi hormon penderitanya. Namun, ada juga langkah yang perlu dilakukan jika polip rahim tetap ada. Berikut cara yang bisa Anda lakukan:

  • USG panggul ketika ada gejala perdarahan hebat padahal tidak sedang dalam siklus menstruasi
  • Histeroskopi untuk menggambarkan kondisi dinding rahim
  • Operasi polipektomi untuk menghilangkan polip rahim
  • Histerektomi atau prosedur pengangkatan uterus untuk menghilangkan polip. Bisa melalui vagina atau dinding perut.

Sebelum melaksanakan prosedur di atas, penting juga untuk memastikan pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan secara menyeluruh. Kemudian, hentikan obat juga yang akan memicu perdarahan seperti aspirin, clopidogrel, atau ibuprofen.

Penyakit

Cegah Nekrosis Tulang dengan Mengatasi Cedera Tulang

Perlu Anda tahu, cedera tulang dan sendi yang tidak ditangani dengan segera akan menyebabkan nekrosis tulang. Mungkin bagi sebagian orang, berobat ke rumah sakit saat menderita cedera tulang seperti patah atau dislokasi memang menakutkan. Tidak hanya soal biaya, tetapi mungkin juga takut dengan kemungkinan yang harus dioperasi.  Sering juga disebut avaskular nekrosis dan osteonecrosis tulang adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan suplai darah ke tulang. Tanpa aliran darah yang cukup, jaringan-jaringan tulang akan mati dan tulang akan menjadi rapuh bahkan hancur.

Jika nekrosis terjadi di area tulang sekitar sendi, maka sendi juga akan ikut hancur. Avaskular nekrosis bisa terjadi di semua tulang, tetapi kebanyakan terjadi di tulang paha, tulang panggul, tulang leher atas, sendi lutut, sendi bahu dan sendi pergelangan kaki. Seperti yang sudah disebutkan di atas, avaskular nekrosis bisa muncul sebagai komplikasi saat ada patah tulang atau dislokasi sendi yang tidak ditangani dengan baik. Patah tulang dan dislokasi sendi juga memiliki kemungkinan disertai dengan kerusakan pembuluh darah di sekitar area cedera.

Oleh karena itu, tanpa perawatan medis mungkin saja kerusakan pembuluh darah tidak tertangani sehingga mengganggu suplai darah ke tulang dan menyebabkan nekrosis. Penyebab loan dari nekrosis tulang adalah penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang atau dengan dosis yang tinggi, konsumsi alkohol yang berlebihan, kondisi medis tertentu seperti mengidap penyakit anemia sel sabit, dan pengobatan medis misalnya kemoterapi dan radiasi. Gejala-gejala nekrosis tulang yang biasa terjadi adalah rasa sakit di tulang atau sendi.

Awalnya rasa sakit akan muncul saat ada tekanan pada tulang, lama kelamaan rasa sakit akan semakin parah dan muncul secara konstan sehingga mengganggu kemampuan gerak. Penanganan avaskular nekrosis juga ditentukan oleh dokter berdasarkan usia penderita, kondisi kesehatannya secara umum dan riwayat kesehatannya. Tingkat keparahan penyakit serta lokasi dan jumlah tulang yang terkena nekrosis juga menjadi pertimbangan dalam menentukan pengobatan nekrosis tulang. Tujuan pengobatan nekrosis tulang adalah untuk mencegah kerusakan yang lebih jauh pada tulang dan sendi.

Kesehatan Pria

Seperti Apa Hipospadia, Alasan dari Ketidaksuburan Pria Sebenarnya?

Jika Anda mengetahui seorang pria yang membuang air kecil dengan cara duduk atau bahkan diri Anda sendiri melakukan itu, alasan utamanya adalah hipospadia. Hipospadia merupakan kelainan atau cacat yang dibawa sejak lahir. Kondisi ini hanya dapat dialami oleh kaum pria. Pasalnya, kelainan ini berkaitan dengan uretra atau saluran buang air kecil yang juga menjadi saluran tempat dikeluarkannya air mani pria.

Pada kondisi normal, uretra pria berada di bagian ujung alat kemanin. Namun, bagi penderita hipospadia, lokasi uretra ini berada di bagian bawah kelamin atau bahkan pada bagian buah pelir. Jika kondisi ini tidak diatasi dengan tepat, maka ia akan berdampak pada kebiasaan buang air kecil pria, yang umumnya dilakukan secara berdiri, diharuskan untuk dilakukan dengan duduk. Dampak lain dari hipospadia dengan tingkat keparahan yang serius adalah risiko yang berujung pada ketidaksuburan pria. Walaupun begitu, kondisi ini ternyata umum dialami oleh kaum pria.

Bagaimana menangani hipospadia pada anak?

Beberapa kasus hipospadia tidak memerlukan cara penanganan atau prosedur medis tertentu. Namun, kasus lainnya perlu ditangani dengan melakukan tindakan operasi.

Kelainan ini dapat dideteksi seketika setelah bayi dilahirkan. Jika berdasar pada berbagai pertimbangan, umumnya dokter akan melakukan proses koreksi untuk mengatasi kondisi ini ketika bayi telah berusia 6-12 bulan, yang mana usia tersebut dapat dikatakan aman bagi bayi untuk mendapatkan tindakan operasi.

Sebagai catatan, jika anak Anda mengalami kondisi hipospadia, maka sebaiknya jangan melakukan sunat. Alasannya karena tidak akan ada lagi kulit tambahan yang dapat mereparasi uretra saat tindakan operasi dilakukan.

Setelah melakukan tindakan operasi, proses pemulihan umumnya dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Selama masa pemulihan, Anda perlu menjaga anak Anda dari berbagai aktivitas yang memerlukan kegiatan menunggangi sesuatu, seperti menggunakan walkers.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat terjadi setelah prosedur operasi, antara lain:

  • demam tinggi
  • mengalami kesulitan buang air kecil
  • adanya tanda kebiruan atau keunguan pada bagian ujung alat kelamin
  • perdarahan pasca operasi.

Jika hal yang disebutkan di atas terjadi pada anak Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.

Penyakit

Waspadai Gejala Hepatitis Tak Terdeteksi pada Anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Hari Hepatitis Sedunia pada setiap 28 Juli tiap tahunnya. Tujuannya tidak lain untuk memberikan peringatan pada dunia bahwa penyakit hepatitis telah menyerang 240 juta orang di seluruh dunia. Khususnya hepatitis B yang dapat sangat berbahaya ketika telah menginfeksi organ hati manusia. Namun, gejala hepatitis B ini sayangnya tidak banyak disadari oleh penderita.

Hepatitis B adalah kondisi peradangan pada organ hati yang diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B. Virus tersebut dapat menyebar menular melalui darah maupun cairan tubuh lain. Mayoritas kasus hepatitis B ditularkan oleh ibu pada sang anak ketika proses persalinan.

Tindakan lain yang juga turut meningkatkan risiko tertularnya hepatitis B adalah menggunakan jarum suntik secara berulang dan bersamaan. Hal ini umumnya dilakukan oleh para pecandu narkotika. Ada juga kemungkinan lain penyakit ini dapat ditularkan, seperti penularan melalui jarum tato atau tindik tubuh. Risiko tertular juga terbilang tinggi ketika melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan. Kegiatan yang melibatkan produksi cairan tubuh dapat meningkatkan risiko tertular penyakit hepatitis B.

Dalam kasus tertentu, infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B dapat menyebabkan infeksi kronis dan dapat memicu kanker hati. Faktor umur sangat berperan dalam kondisi ini. Pasalnya, sekitar 90% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B menderita infeksi kronis ketika dewasa yang kemudian berkembang menjadi kanker hati. Sementara itu, risiko terjadinya infeksi kronis pada orang dewasa yang menderita hepatitis B hanya sebesar 5%.

Gejala hepatitis B cukup beragam dan dapat berbeda antarsatu dengan lainnya. Gejala tersebut baru dapat muncul setelah satu hingga empat bulan seseorang tertular virus. Perlu menjadi catatan, bahwa gejala hepatitis B pada anak sulit untuk dideteksi.

Ada pun beberapa gejala hepatitis B yang telah diketahui, yaitu merasakan sakit pada bagian perut, urin berubah menjadi warna yang lebih gelap, demam, sakit pada persendian, hilangnya nafsu makan dapat disertai mual dan muntah, rentan merasa lelah, serta adanya perubahan warna menjadi kekuningan pada kulit dan mata.

Hingga saat ini belum diketahui pengobatan yang secara efektif dapat mengatasi penyakit ini. Walaupun begitu, menerapkan hidup sehat dengan mengonsumsi asupan dengan gizi yang seimbang dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dapat memperlambat perkembangan penyakit menjadi kanker.

Di Indonesia, vaksin hepatitis B telah termasuk dalam imunisasi dasar wajib yang dapat diakses di puskesmas dan posyandu terdekat secara gratis. Mengingat bahwa banyak kasus gejala hepatitis B tidak terdeteksi pada anak, akan lebih baik untuk melakukan pencegahan dan memberikan vaksin sejak dini.