Kesehatan Wanita

Cara Mengatasi Gejala Polip Rahim

Saat mendengar kata polip, Anda tentu mengaitkannya dengan jaringan abnormal yang tumbuh di bagian tertentu pada tubuh. Bentuk polip seperti jamur, dengan tangkai dan berukuran kecil. Salah satu tempat tumbuhnya polip adalah di dinding Rahim atau biasanya disebut dengan polip rahim. Ketika tumbuh di rahim, polip bisa tumbuh tunggul atau lebih dari satu. Ukurannya pun berbeda-beda. Mulai dari beberapa milimeter saja, hingga lebih dari 6 cm. Namun tidak perlu khawatir, pasalnya sebagain besar polip rahim sifatnya jinak.

Gejala-gejala polip rahim

Anda tidak perlu panik, polip rahim tidak selalu seperti kanker. Keduanya adalah yang berbeda. Polip rahim biasanya rentan terjadi pada wanita yang berada di dalam periode pra-menopause atau telah mengalami masa menopause. Ada gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh penderitanya, namun ada juga yang tidak merasakan gejalanya sama sekali. Berikut gejala polip rahim:

  • Keluar bercak darah meski tidak sering menstruasi
  • Pendarahan hebat
  • Pendarahan pada wanita yang telah menopause
  • Infertilitas

Salah satu faktor yang menyebabkan tumbuhnya polip rahim adalah hormon. Hormone estrogen sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan polip. Biasanya, selain wanita yang berada di fase pra-menopause dan menopause, polip rahim juga bisa terjadi pada penderita obesitas dan hipertensi. Selain itu, wanita yang mengonsumsi obat kanker payudara seperti tamoxifen juga rentan mengalami polip rahim.

Apa yang harus dilakukan?

Wajar jika penderita polip rahim merasa bingung apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Sebenarnya, polip rahim bisa hilang dengan sendirinya, karena berasal dari hormon jadi bisa datang dan pergi, tergantung dengan kondisi hormon penderitanya. Namun, ada juga langkah yang perlu dilakukan jika polip rahim tetap ada. Berikut cara yang bisa Anda lakukan:

  • USG panggul ketika ada gejala perdarahan hebat padahal tidak sedang dalam siklus menstruasi
  • Histeroskopi untuk menggambarkan kondisi dinding rahim
  • Operasi polipektomi untuk menghilangkan polip rahim
  • Histerektomi atau prosedur pengangkatan uterus untuk menghilangkan polip. Bisa melalui vagina atau dinding perut.

Sebelum melaksanakan prosedur di atas, penting juga untuk memastikan pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan secara menyeluruh. Kemudian, hentikan obat juga yang akan memicu perdarahan seperti aspirin, clopidogrel, atau ibuprofen.

Penyakit

Cegah Nekrosis Tulang dengan Mengatasi Cedera Tulang

Perlu Anda tahu, cedera tulang dan sendi yang tidak ditangani dengan segera akan menyebabkan nekrosis tulang. Mungkin bagi sebagian orang, berobat ke rumah sakit saat menderita cedera tulang seperti patah atau dislokasi memang menakutkan. Tidak hanya soal biaya, tetapi mungkin juga takut dengan kemungkinan yang harus dioperasi.  Sering juga disebut avaskular nekrosis dan osteonecrosis tulang adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan suplai darah ke tulang. Tanpa aliran darah yang cukup, jaringan-jaringan tulang akan mati dan tulang akan menjadi rapuh bahkan hancur.

Jika nekrosis terjadi di area tulang sekitar sendi, maka sendi juga akan ikut hancur. Avaskular nekrosis bisa terjadi di semua tulang, tetapi kebanyakan terjadi di tulang paha, tulang panggul, tulang leher atas, sendi lutut, sendi bahu dan sendi pergelangan kaki. Seperti yang sudah disebutkan di atas, avaskular nekrosis bisa muncul sebagai komplikasi saat ada patah tulang atau dislokasi sendi yang tidak ditangani dengan baik. Patah tulang dan dislokasi sendi juga memiliki kemungkinan disertai dengan kerusakan pembuluh darah di sekitar area cedera.

Oleh karena itu, tanpa perawatan medis mungkin saja kerusakan pembuluh darah tidak tertangani sehingga mengganggu suplai darah ke tulang dan menyebabkan nekrosis. Penyebab loan dari nekrosis tulang adalah penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang atau dengan dosis yang tinggi, konsumsi alkohol yang berlebihan, kondisi medis tertentu seperti mengidap penyakit anemia sel sabit, dan pengobatan medis misalnya kemoterapi dan radiasi. Gejala-gejala nekrosis tulang yang biasa terjadi adalah rasa sakit di tulang atau sendi.

Awalnya rasa sakit akan muncul saat ada tekanan pada tulang, lama kelamaan rasa sakit akan semakin parah dan muncul secara konstan sehingga mengganggu kemampuan gerak. Penanganan avaskular nekrosis juga ditentukan oleh dokter berdasarkan usia penderita, kondisi kesehatannya secara umum dan riwayat kesehatannya. Tingkat keparahan penyakit serta lokasi dan jumlah tulang yang terkena nekrosis juga menjadi pertimbangan dalam menentukan pengobatan nekrosis tulang. Tujuan pengobatan nekrosis tulang adalah untuk mencegah kerusakan yang lebih jauh pada tulang dan sendi.

Kesehatan Pria

Seperti Apa Hipospadia, Alasan dari Ketidaksuburan Pria Sebenarnya?

Jika Anda mengetahui seorang pria yang membuang air kecil dengan cara duduk atau bahkan diri Anda sendiri melakukan itu, alasan utamanya adalah hipospadia. Hipospadia merupakan kelainan atau cacat yang dibawa sejak lahir. Kondisi ini hanya dapat dialami oleh kaum pria. Pasalnya, kelainan ini berkaitan dengan uretra atau saluran buang air kecil yang juga menjadi saluran tempat dikeluarkannya air mani pria.

Pada kondisi normal, uretra pria berada di bagian ujung alat kemanin. Namun, bagi penderita hipospadia, lokasi uretra ini berada di bagian bawah kelamin atau bahkan pada bagian buah pelir. Jika kondisi ini tidak diatasi dengan tepat, maka ia akan berdampak pada kebiasaan buang air kecil pria, yang umumnya dilakukan secara berdiri, diharuskan untuk dilakukan dengan duduk. Dampak lain dari hipospadia dengan tingkat keparahan yang serius adalah risiko yang berujung pada ketidaksuburan pria. Walaupun begitu, kondisi ini ternyata umum dialami oleh kaum pria.

Bagaimana menangani hipospadia pada anak?

Beberapa kasus hipospadia tidak memerlukan cara penanganan atau prosedur medis tertentu. Namun, kasus lainnya perlu ditangani dengan melakukan tindakan operasi.

Kelainan ini dapat dideteksi seketika setelah bayi dilahirkan. Jika berdasar pada berbagai pertimbangan, umumnya dokter akan melakukan proses koreksi untuk mengatasi kondisi ini ketika bayi telah berusia 6-12 bulan, yang mana usia tersebut dapat dikatakan aman bagi bayi untuk mendapatkan tindakan operasi.

Sebagai catatan, jika anak Anda mengalami kondisi hipospadia, maka sebaiknya jangan melakukan sunat. Alasannya karena tidak akan ada lagi kulit tambahan yang dapat mereparasi uretra saat tindakan operasi dilakukan.

Setelah melakukan tindakan operasi, proses pemulihan umumnya dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Selama masa pemulihan, Anda perlu menjaga anak Anda dari berbagai aktivitas yang memerlukan kegiatan menunggangi sesuatu, seperti menggunakan walkers.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat terjadi setelah prosedur operasi, antara lain:

  • demam tinggi
  • mengalami kesulitan buang air kecil
  • adanya tanda kebiruan atau keunguan pada bagian ujung alat kelamin
  • perdarahan pasca operasi.

Jika hal yang disebutkan di atas terjadi pada anak Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.

Penyakit

Waspadai Gejala Hepatitis Tak Terdeteksi pada Anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Hari Hepatitis Sedunia pada setiap 28 Juli tiap tahunnya. Tujuannya tidak lain untuk memberikan peringatan pada dunia bahwa penyakit hepatitis telah menyerang 240 juta orang di seluruh dunia. Khususnya hepatitis B yang dapat sangat berbahaya ketika telah menginfeksi organ hati manusia. Namun, gejala hepatitis B ini sayangnya tidak banyak disadari oleh penderita.

Hepatitis B adalah kondisi peradangan pada organ hati yang diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B. Virus tersebut dapat menyebar menular melalui darah maupun cairan tubuh lain. Mayoritas kasus hepatitis B ditularkan oleh ibu pada sang anak ketika proses persalinan.

Tindakan lain yang juga turut meningkatkan risiko tertularnya hepatitis B adalah menggunakan jarum suntik secara berulang dan bersamaan. Hal ini umumnya dilakukan oleh para pecandu narkotika. Ada juga kemungkinan lain penyakit ini dapat ditularkan, seperti penularan melalui jarum tato atau tindik tubuh. Risiko tertular juga terbilang tinggi ketika melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan. Kegiatan yang melibatkan produksi cairan tubuh dapat meningkatkan risiko tertular penyakit hepatitis B.

Dalam kasus tertentu, infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B dapat menyebabkan infeksi kronis dan dapat memicu kanker hati. Faktor umur sangat berperan dalam kondisi ini. Pasalnya, sekitar 90% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B menderita infeksi kronis ketika dewasa yang kemudian berkembang menjadi kanker hati. Sementara itu, risiko terjadinya infeksi kronis pada orang dewasa yang menderita hepatitis B hanya sebesar 5%.

Gejala hepatitis B cukup beragam dan dapat berbeda antarsatu dengan lainnya. Gejala tersebut baru dapat muncul setelah satu hingga empat bulan seseorang tertular virus. Perlu menjadi catatan, bahwa gejala hepatitis B pada anak sulit untuk dideteksi.

Ada pun beberapa gejala hepatitis B yang telah diketahui, yaitu merasakan sakit pada bagian perut, urin berubah menjadi warna yang lebih gelap, demam, sakit pada persendian, hilangnya nafsu makan dapat disertai mual dan muntah, rentan merasa lelah, serta adanya perubahan warna menjadi kekuningan pada kulit dan mata.

Hingga saat ini belum diketahui pengobatan yang secara efektif dapat mengatasi penyakit ini. Walaupun begitu, menerapkan hidup sehat dengan mengonsumsi asupan dengan gizi yang seimbang dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dapat memperlambat perkembangan penyakit menjadi kanker.

Di Indonesia, vaksin hepatitis B telah termasuk dalam imunisasi dasar wajib yang dapat diakses di puskesmas dan posyandu terdekat secara gratis. Mengingat bahwa banyak kasus gejala hepatitis B tidak terdeteksi pada anak, akan lebih baik untuk melakukan pencegahan dan memberikan vaksin sejak dini.