Kapan Sebaiknya Harus Konsumsi Pil KB Laktasi?

Kapan Sebaiknya Harus Konsumsi Pil KB Laktasi?

Mencegah kehamilan tidak perlu menunggu setelah masa menyusui dan anak mencapai usia yang cukup, namun bisa dilakukan beberapa minggu setelah Anda melahirkan. Anda bisa mengonsumsi pil KB laktasi atau metode lainnya.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya? Tergantung dari kondisi Anda dan usia bayi, ada beberapa metode yang tepat dilakukan di waktu-waktu tertentu.

Amankah menggunakan pil KB Laktasi?

Banyak pasangan yang bisa kembali melakukan hubungan seksual pada kurun waktu 6 minggu setelah melahirkan dan perempuan juga masih bisa hamil sewaktu menyusui. 

Oleh karena itu, jika memang Anda tidak berencana memiliki anak dalam jumlah banyak, dokter akan merekomendasikan penggunaan pil KB ataupun metode kontrasepsi lainnya pada waktu 6 minggu setelah melahirkan. 

Meskipun banyak yang meragukan keamanannya, namun mengonsumsi pil KB laktasi dan menggunakan metode kontrasepsi lainnya saat menyusui terbukti aman. Banyak pilihan yang bisa Anda pilih, termasuk jika Anda tidak ingin metode tersebut berpengaruh terhadap produksi ASI. 

Waktu terbaik menggunakan pil KB Laktasi

Hampir semua metode efektif dalam mencegah kehamilan bila digunakan dengan benar, mulai kontrasepsi implan, kontrasepsi suntik, pil KB mini (mini pill), kondom pria, cincin vagina, ataupun intrauterine device (IUD) yang dimasukkan dalam rentang 48 jam setelah melahirkan. 

Berikut waktu yang tepat untuk mengonsumsi pil KB laktasi ataupun menggunakan metode lainnya:

1. 3 Minggu setelah melahirkan

Pada saat tiga minggu setelah melahirkan Anda tidak menyusui karena berbagai faktor, dan Anda tidak memiliki faktor risiko medis mengalami penyumbatan darah, Anda bisa menggunakan metode berikut ini:

  • pil KB kombinasi
  • cincin vagina
  • patch atau kontrasepsi koyo

Akan tetapi jika Anda menyusui, memiliki risiko penyumbatan darah, ataupun kondisi medis lainnya, Anda umumnya akan disarankan menunda menggunakan metode-metode di atas setidaknya 6 minggu setelah melahirkan.

2. 4 Minggu setelah melahirkan

Pada waktu empat minggu setelah melahirkan Anda tidak menggunakan IUD maupun IUS yang perlu dimasukkan dalam waktu 48 jam usai persalinan, Anda bisa menggunakannya pada waktu ini.

3. 6 Minggu setelah melahirkan

Jika Anda menyusui atau mengalami kondisi medis selama hamil atau melahirkan, Anda harus menunggu setidaknya 6 minggu sebelum bisa menggunakan metode kontrasepsi maupun mengonsumsi pil KB laktasi.

Beberapa metode yang bisa Anda gunakan antara lain:

  • pil KB kombinasi
  • pil KB mini (mini pill)
  • cincin vagina
  • diafragma
  • patch atau kontrasepsi koyo

Hal yang perlu diperhatikan sebelum pakai pil KB laktasi

Tidak semua ibu menyusui bisa menggunakan kontrasepsi maupun mengonsumsi pil KB. Terutama jika Anda memiliki riwayat merokok dan berusia 35 tahun dan di atasnya, sebaiknya tidak mengonsumsi pil KB hormonal.

Sebab, rokok dan pil KB bisa menaikkan risiko penyumbatan darah dan tekanan darah tinggi serta menjadi faktor risiko stroke maupun serangan jantung.

Secara umum, semua metode dan pil KB untuk kontrasepsi aman dikonsumsi para ibu menyusui. Kini dengan kemajuan teknologi, pil KB memiliki dosis hormon progesteron dan estrogen yang lebih rendah sehingga menurunkan risiko efek samping dan masalah kesehatan serius. 

Bahkan, beberapa di antaranya juga memiliki manfaat kesehatan bagi para perempuan. Contohnya seperti menurunkan risiko beberapa jenis kanker.

Meskipun di sisi lain, pil KB dan alat kontrasepsi juga tetap dapat menimbulkan efek samping tertentu. Misalnya sakit kepala, bercak darah saat penggunaan, atau menstruasi terhenti untuk sementara.

Jika Anda ibu menyusui yang ingin mengonsumsi pil KB atau menggunakan alat kontrasepsi, sebaiknya pilih yang tidak mengandung hormon estrogen jika ingin menunda kehamilan. Sebab hormon ini bisa menurunkan produksi ASI.

Oleh sebab itu, sebaiknya konsultasikan kepada dokter terkait rencana kehamilan Anda dan juga jenis pil KB laktasi dan alat kontrasepsi mana yang cocok untuk kondisi tubuh, usia, dan faktor risiko Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *