Proyeksi Psikologi dan 6 Macam Mekanisme Pertahanan Lainnya

Proyeksi Psikologi dan 6 Macam Mekanisme Pertahanan Lainnya

Pernahkan Anda tidak menyukai seseorang hanya untuk meyakini diri sendiri bahwa orang tersebut juga tidak menyukai atau ingin balas dendam dengan Anda? Ini adalah salah satu contoh umum dari proyeksi psikologi. Simak penjelasan berikut untuk memahami lebih dalam tentang proyeksi psikologi dan 6 macam mekanisme pertahanan manusia lainnya.

Apa itu proyeksi psikologi?

Proyeksi psikologi adalah mekanisme pertahanan yang digunakan seseorang secara “tidak sadar” untuk mengatasi perasaan atau emosinya yang sulit. Seseorang akan lebih memilih memproyeksikan perasaan atau emosi yang sama sekali tidak diinginkannya kepada orang lain, daripada mengakui atau menangani perasaannya tersebut. 

Teori proyeksi psikologi pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud, seorang psikolog asal Austria yang mendapat julukan sebagai “Bapak Psikoanalisis”. Ini juga yang membuat proyeksi psikologi kadang-kadang disebut sebagai proyeksi Freudian. Selama sesi dengan pasien, Freud kerap memperhatikan pasiennya kadang-kadang menuduh orang lain memiliki perasaan yang sama seperti yang mereka sendiri tunjukkan. Dengan cara ini pula, pasien lebih mampu menghadapi emosi yang dialaminya.

Berbagai contoh kasusnya

Mungkin Anda masih sulit memahami apa itu proyeksi psikologi, seperti ini contoh kasusnya: 

  • Seorang wanita yang tidak setia dengan suaminya, tetapi ia sendiri menuduh suaminya berselingkuh. 
  • Seseorang yang merasa terdorong untuk mencuri barang, lalu memproyeksikan perasaan tersebut kepada orang lain. Ini karena dia mungkin mulai takut kalau dompetnya akan dicuri atau kekurangan uang ketika ingin membeli sesuatu.

Proyeksi juga tidak selalu bersifat dramatis atau mudah dikenali. Misalnya saja, saat Anda menemukan seseorang yang tidak Anda sukai, tetapi terpaksa harus berinteraksi dengan orang tersebut dengan sopan. 

Contohnya, Ratna mulai membenci adik iparnya, Dara, karena sangat dekat dengan suaminya. Sementara, Ratna tahu bahwa ia harus bersikap baik pada Dara demi suaminya. Seiring berjalannya waktu, Ratna pun mulai melihat bahwa Dara juga tidak menyukainya. Setiap kali ada acara keluarga, Ratna menganggap Dara hanya bermalas-malasan saja, terlebih lagi saat suaminya sedang di kamar. Akhirnya, Dara berbicara ke suaminya bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga, tetapi dia tetap tidak bisa menyukai Dara dengan alasan Dara juga tidak menyukainya. Ratna telah memproyeksikan perasaan tidak suka dan kebenciannya pada Dara.

Alasan seseorang memproyeksikan dirinya

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, proyeksi psikologi digunakan sebagai mekanisme pertahanan manusia untuk mengatasi perasaan dan emosi yang sulit diungkapkan atau diterima.

Berangkat dari kasus Ratna dan Dara, Ratna sulit menerima kenyataan bahwa dia membenci adik iparnya sendiri. Ada rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya, karena telah cemburu dengan Dara yang menghabiskan banyak waktu dengan suaminya, atau mungkin khawatir perasaannya tersebut diperhatikan oleh anggota keluarga yang lain, dan berpikir keluarganya akan menganggapnya buruk. Tanpa sadar, Ratna pun memproyeksikan perasaannya ke Dara yang memberinya alasan untuk tidak menyukai Dara. Alih-alih harus menghadapi perasaan tidak sukanya ini sendirian, Ratna lebih mampu memproyeksikan perasaannya pada orang lain.

Mekanisme pertahanan manusia selain proyeksi psikologi

Proyeksi psikologi adalah satu dari sekian banyak mekanisme pertahanan yang dilakukan orang secara teratur. Beberapa mekanisme pertahanan lainnya, termasuk:

  1. Penyangkalan: menolak untuk mengakui sesuatu hal yang nyata, misalnya tidak mempercayai dokter ketika diberi tahu bahwa Anda terkena kanker.
  2. Distorsi: mengubah realitas sesuai dengan kebutuhan Anda, misalnya berpikir pasangan selingkuh karena ia takut untuk berkomitmen.
  3. Agresi pasif: secara tidak langsung bertindak atas agresi Anda, misalnya sengaja parkir di tempat parkir rekan kerja Anda untuk balas dendam terhadap perselisihan sebelumnya.
  4. Represi: menutupi perasaan atau emosi alih-alih menerimanya, misalnya tidak dapat mengingat detail kecelakaan mobil yang Anda alami dan otak Anda sengaja “kehilangan” ingatan ini untuk membantu Anda mengatasinya.
  5. Subliminasi: mengubah perasaan negatif menjadi tindakan positif, misalnya membersihkan rumah setiap kali Anda sedang marah.
  6. Disosiasi: mengubah kepribadian sementara waktu untuk menghindari emosi yang sedang dialami, misalnya mencoba tetap tegar di pemakaman demi  kepentingan bersama.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika manusia berusaha untuk melindungi diri dari perasaan dan hal-hal lainnya yang dapat menyakitkan atau bersifat negatif. Namun, ketika perlindungan ini berubah menjadi proyeksi psikologi, mungkin saatnya Anda untuk melihat alasan Anda melakukannya. Sebab, ini tidak hanya berdampak pada harga diri Anda sendiri, tetapi juga hubungan Anda dengan orang lain, termasuk rekan kerja, pasangan, atau teman dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *