Penyakit

Apa Penyebab Congek dan Bahayanya Jika Tidak Diobati?

Congek atau keluarnya cairan dari telingan adalah permasalahan kesehatan yang umum dihadapi oleh masyarakat. Dalam dunia medis penyakit ini disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).

Gejala saat menderita congek ini ditandai dengan keluarnya cairan dari telinga secara terus menerus selama lebih dari 2-6 minggu. Cairan ini keluar dari lubang yang terbentuk di gendang telinga. Akan tetapi, gejala ini tidak menyebabkan rasa sakit pada penderitanya, meskipun mengganggu kemampuan mendengar.

Penyebab Seseorang Menderita Congek

Congek umumnya komplikasi dari infeksi telinga bagian tengah akut yang terjadi berulang. Hal ini dikarenakan bengkaknya saluran eustachius sehingga cairan terperangkap di telinga bagian tengah.

Telinga bagian tengah saat mengalami pembengkakan atau tersumbat memang lebih mudah meradang atau terinfeksi. Salah satunya infeksi yang terjadi adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus.

Selain karena otitis media akut, congek juga mungkin disebabkan oleh adanya gangguan lain. Seperti cedera pada saluran eustachius atau gendang telinga.

Kondisi lain yang menyebabkan seseorang berpotensi terkena congek adalah karena beberapa hal berikut ini.

  • Mengalami kelainan bentuk tengkorak wajah, misalnya menderita bibir sumbing atau sindrom Down.
  • Usia anak-anak, sebab, saluran eustachius anak-anak lebih pendek dibanding orang dewasa
  • Mengalami infeksi pernapasan berulang, seperti radang amandel, rhinitis, atau bahkan faringitis
  • Kurangnya asupan nutrisi
  • Tinggal di daerah yang padat penduduk dan tidak bersih

Congek yang dialami akan semakin parah saat air masuk ke telinga ketika mandi atau berenang. Congek haruslah segera diobati karena dapat merusak telinga bagian tengah, seperti kematian jaringan hingga muncul tumor di area tersebut.

Bahaya Congek Jika Tidak Diobatoi

Pengobatan congek ini berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya. Secara umum, pengobatannya berupa pembersihan liang telinga secara rutin, diberi antibiotik, serta tindakan operasi timpanoplalsti. Akan tetapi jika kondisi congek sudah terlalu parah dan tidak segera mendapat tindakan medis, maka ada beberapa bahaya yang mungkon terjadi.

  • Gangguan Pendengaran

Akibat yang paling mungkin terjadi karena congek adalah gangguan pendengaran berupa ketulian. Hal ini karena rusaknya tulang-tulang pendengaran. Selain mengganggu pendengaran, otitis media supuratif kronik (OMSK) juga dapat mengganggu keseimbangan karena kemampuan tersebut juga berada di telinga.

  • Abses Otak

Abses otak atau kumpulan nanah bersarang di otak merupakan komplikasi paling parah dari congek. Abses akan membuat otak mengalami pembengkakan sehingga menyebabkan rasa sakit kepala yang parah, sulit bergerak, kejang, kesadaran menurun, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

  • Meningitis

Infeksi pada telinga akibat congekan akan membuat kuman masuk ke sistem saraf. Meningitis merupakan komplikasi yang terjadi di sistem saraf pusat yang biasanya terjadi pada anak-anak. Gejala meningitis akibat congekan cenderung sama, seperti demam tinggi, kesadaran menurun, kejang, hingga muntah menyembur.

Cara Mengobati Congek

Congek biasanya diobati dengan penanganan medis yang diberikan berdasarkan pada usia, riwayat kesehatan dan kondisi kesehatan penderita. Berikut penanganan umum pada penderita congekan.

  • Obat antibiotik tetes

Biasanya dokter akan meneteskan obat antibiotik ke dalam telinga sebanyak 2 kali sehari selama lebih kurang 2 minggu. Obat congek yang diresepkan dokter salah satunya adalah ciprofloxacin.

  • Operasi

Jika lubang telinga sudah cukup parah atau misalnya sudah terdapat tumor di dalam bagian telinga tengah, maka operasi dapat menjadi pilihan.

  • Pembersihan telinga bagian tengah

Jika ada serpihan jaringan yang menutup telinga bagian tengah, maka akan sulit meneteskan obat antibiotik. Sehingga akan dilakukan pembersihan telinga terlebih dahulu oleh dokter dengan menggunakan alat-alat yang khusus dan aman.

Penanganan penyakit congek ini cenderung relatif baik, namun potensi untuk kambuh lagi tetap ada. Sehingga ada baiknya untuk berkala melakukan konsultasi dengan dokter.