kesehatan mental

Tidak Ada Sisi Positif dari Percaya Diri Berlebihan

Ada pepatah mengatakan lakukanlah segalanya sesuai dengan porsinya, jangan kurang dan jangan pula lebih. Aturan ini perlu juga diterapkan pada rasa percaya diri. Kurang pede tentu tidak baik, sebagaimana percaya diri berlebihan akan menimbulkan masalah yang beragam.

Percaya diri berlebihan ini sungguh problematis. Bahkan, ada sederet tragedi atau peristiwa nahas terjadi karena sikap ini menguasai daya nalar seseorang, organisasi, lembaga, atau entitas-entitas lain. Katakanlah tenggelamnya kapal Titanic, meledaknya reaktor nuklir di Chernobyl, dan sebagainya.

Tragedi itu berskala besar dan rasanya menjadi kurang relevan jika digunakan sebagai bahan refleksi diri, kendati memang pada dasarnya sama saja. Namun, di artikel ini akan coba dibahas mengenai sisi negatif percaya diri berlebihan yang skalanya lebih kecil dan berkaitan dengan kemungkinan apa yang bakal terjadi untuk diri kita, di antaranya:

  • Membuat seseorang merasa paling benar

Rasa percaya diri berlebihan pada gilirannya akan membuat seseorang menjadi anti terhadap kritik. Yang ada di dalam pikirannya, semua yang dilakukan hanyalah benar belaka. Kesalahan selalu hadir dari apa-apa yang berada di luar dirinya.

Menurut mereka, saran, masukan, atau kritik yang datang tidak akan mereka gubris, alih-alih menjadikan itu semua sebagai bahan untuk berubah menjadi lebih baik.

Jika kondisi ini terus berlangsung, pada akhirnya orang ini akan mendapat masalah dalam kehidupan sosialnya. Mungkin perlahan teman atau relasi mereka akan pergi menjauh. Sebab tidak ada yang betah berurusan dengan orang model seperti ini.

  • Instrospeksi diri bakal hilang dari kamus mereka

Masih berkaitan dengan sebelumnya, seseorang yang memiliki rasa percaya diri berlebihan cenderung tidak pernah menengok ke dalam untuk melakukan instrospeksi. 

Di mana kondisi ini akan membawa seseorang menjadi arogan merasa benar sendiri. Tentu saja ketika seseorang tak lagi dapat berintrospeksi, mereka akan kesulitan dalam bersosialisasi. Sebab orang-orang seperti ini cenderung menyalahgunakan kekuatan mereka untuk bertindak abusive.

  • Mudah melakukan kesalahan

Menyedihkannya, justru orang-orang dengan rasa percaya diri berlebihan paling sering berbuat kesalahan. Pasalnya rasa percaya diri yang membuncah membuat mereka menjadi kurang waspada dan berhati-hati. Dia pikir semuanya sudah berada di dalam jangkauannya. Dia pikir semua mampu diatasinya. Padahal dia lupa bahwa manusia tak pernah bisa terhindar dari luput dan salah.

  • Mereka tidak akan ke mana-mana

Rasa percaya diri berlebihan berpotensi besar membuat seseorang stuck di satu titik sampai mereka menyadarinya. Mereka tidak bisa berkembang, sebab rasa percaya diri berlebihan membuat mereka merasa puas dengan apa yang dimiliki sekarang.

Mereka jadi tidak mau belajar dalam segi apa pun. Belum lagi dengan kenyataan bahwa mereka cenderung denial terhadap kenyataan, termasuk saran, masukan, atau kritik yang datang kepadanya. 

Padahal, sepintar dan seahli apa pun seseorang dalam melakukan sesuatu, pasti akan ada kurang atau salah. Seseorang butuh perbaikan untuk maju dan berkembang. Jika tidak berubah, mereka tidak akan ke mana-mana.

  • Tentu saja mereka menjadi orang yang sombong

Terlampau percaya diri akan membuat seseorang mengalami fenomena narsistik yang salah satu tandanya adalah sikap sombong. Kondisi ini bukan hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi juga orang di sekitar. Jangan heran kalau banyak orang memilih menjauh darinya karena sifat dan kebiasaan buruk ini.

Tidak ada yang bisa dibenarkan dari sifat rasa percaya diri berlebih. Seseorang harus dapat mengenali batasnya. Pertanyannya adalah, apa yang dapat dijadikan sebagai batasan rasa percaya diri yang dimiliki berlebihan atau tidak? Untuk menjawabnya, tentu seseorang membutuhkan bantuan orang lain. Coba buka diri Anda dan tanyakan soal itu kepada orang yang dipercaya atau jika perlu menghubungi tenaga profesional.

Proyeksi Psikologi dan 6 Macam Mekanisme Pertahanan Lainnya
Hidup Sehat

Proyeksi Psikologi dan 6 Macam Mekanisme Pertahanan Lainnya

Pernahkan Anda tidak menyukai seseorang hanya untuk meyakini diri sendiri bahwa orang tersebut juga tidak menyukai atau ingin balas dendam dengan Anda? Ini adalah salah satu contoh umum dari proyeksi psikologi. Simak penjelasan berikut untuk memahami lebih dalam tentang proyeksi psikologi dan 6 macam mekanisme pertahanan manusia lainnya.

Apa itu proyeksi psikologi?

Proyeksi psikologi adalah mekanisme pertahanan yang digunakan seseorang secara “tidak sadar” untuk mengatasi perasaan atau emosinya yang sulit. Seseorang akan lebih memilih memproyeksikan perasaan atau emosi yang sama sekali tidak diinginkannya kepada orang lain, daripada mengakui atau menangani perasaannya tersebut. 

Teori proyeksi psikologi pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud, seorang psikolog asal Austria yang mendapat julukan sebagai “Bapak Psikoanalisis”. Ini juga yang membuat proyeksi psikologi kadang-kadang disebut sebagai proyeksi Freudian. Selama sesi dengan pasien, Freud kerap memperhatikan pasiennya kadang-kadang menuduh orang lain memiliki perasaan yang sama seperti yang mereka sendiri tunjukkan. Dengan cara ini pula, pasien lebih mampu menghadapi emosi yang dialaminya.

Berbagai contoh kasusnya

Mungkin Anda masih sulit memahami apa itu proyeksi psikologi, seperti ini contoh kasusnya: 

  • Seorang wanita yang tidak setia dengan suaminya, tetapi ia sendiri menuduh suaminya berselingkuh. 
  • Seseorang yang merasa terdorong untuk mencuri barang, lalu memproyeksikan perasaan tersebut kepada orang lain. Ini karena dia mungkin mulai takut kalau dompetnya akan dicuri atau kekurangan uang ketika ingin membeli sesuatu.

Proyeksi juga tidak selalu bersifat dramatis atau mudah dikenali. Misalnya saja, saat Anda menemukan seseorang yang tidak Anda sukai, tetapi terpaksa harus berinteraksi dengan orang tersebut dengan sopan. 

Contohnya, Ratna mulai membenci adik iparnya, Dara, karena sangat dekat dengan suaminya. Sementara, Ratna tahu bahwa ia harus bersikap baik pada Dara demi suaminya. Seiring berjalannya waktu, Ratna pun mulai melihat bahwa Dara juga tidak menyukainya. Setiap kali ada acara keluarga, Ratna menganggap Dara hanya bermalas-malasan saja, terlebih lagi saat suaminya sedang di kamar. Akhirnya, Dara berbicara ke suaminya bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga, tetapi dia tetap tidak bisa menyukai Dara dengan alasan Dara juga tidak menyukainya. Ratna telah memproyeksikan perasaan tidak suka dan kebenciannya pada Dara.

Alasan seseorang memproyeksikan dirinya

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, proyeksi psikologi digunakan sebagai mekanisme pertahanan manusia untuk mengatasi perasaan dan emosi yang sulit diungkapkan atau diterima.

Berangkat dari kasus Ratna dan Dara, Ratna sulit menerima kenyataan bahwa dia membenci adik iparnya sendiri. Ada rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya, karena telah cemburu dengan Dara yang menghabiskan banyak waktu dengan suaminya, atau mungkin khawatir perasaannya tersebut diperhatikan oleh anggota keluarga yang lain, dan berpikir keluarganya akan menganggapnya buruk. Tanpa sadar, Ratna pun memproyeksikan perasaannya ke Dara yang memberinya alasan untuk tidak menyukai Dara. Alih-alih harus menghadapi perasaan tidak sukanya ini sendirian, Ratna lebih mampu memproyeksikan perasaannya pada orang lain.

Mekanisme pertahanan manusia selain proyeksi psikologi

Proyeksi psikologi adalah satu dari sekian banyak mekanisme pertahanan yang dilakukan orang secara teratur. Beberapa mekanisme pertahanan lainnya, termasuk:

  1. Penyangkalan: menolak untuk mengakui sesuatu hal yang nyata, misalnya tidak mempercayai dokter ketika diberi tahu bahwa Anda terkena kanker.
  2. Distorsi: mengubah realitas sesuai dengan kebutuhan Anda, misalnya berpikir pasangan selingkuh karena ia takut untuk berkomitmen.
  3. Agresi pasif: secara tidak langsung bertindak atas agresi Anda, misalnya sengaja parkir di tempat parkir rekan kerja Anda untuk balas dendam terhadap perselisihan sebelumnya.
  4. Represi: menutupi perasaan atau emosi alih-alih menerimanya, misalnya tidak dapat mengingat detail kecelakaan mobil yang Anda alami dan otak Anda sengaja “kehilangan” ingatan ini untuk membantu Anda mengatasinya.
  5. Subliminasi: mengubah perasaan negatif menjadi tindakan positif, misalnya membersihkan rumah setiap kali Anda sedang marah.
  6. Disosiasi: mengubah kepribadian sementara waktu untuk menghindari emosi yang sedang dialami, misalnya mencoba tetap tegar di pemakaman demi  kepentingan bersama.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika manusia berusaha untuk melindungi diri dari perasaan dan hal-hal lainnya yang dapat menyakitkan atau bersifat negatif. Namun, ketika perlindungan ini berubah menjadi proyeksi psikologi, mungkin saatnya Anda untuk melihat alasan Anda melakukannya. Sebab, ini tidak hanya berdampak pada harga diri Anda sendiri, tetapi juga hubungan Anda dengan orang lain, termasuk rekan kerja, pasangan, atau teman dekat.