Kesehatan Wanita

Transplantasi Rahim, Prosedur Kehamilan yang Kontroversial

Pernahkah Anda mendengar istilah transplantasi rahim? Transplantasi rahim merupakan metode pemindahan rahim dari satu wanita ke wanita lainnya yang memiliki masa infertilitas. Transplantasi ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Prosedur transplantasi rahim tergolong baru dan belum banyak dilakukan di belaha dunia mana pun. Bahkan, metode ini menuai cukup banyak kontroversi dari berbagai pihak.  

Transplantasi rahim, etis atau tidak?

Dalam dunia kesehatan, transplantasi umumnya dilakukan sebagai upaya penyembuhan pada kondisi-kondisi yang mengancam jiwa. Akan tetapi, transplantasi rahim tidak dilakukan untuk tujuan itu. Hal ini menjadi kontroversi di antara berbagai kalangan.

Selain itu, transplantasi ini hanya bersifat sementara. Rahim yang telah didonorkan biasanya akan diangkat kembali setelah sang wanita melahirkan.

Banyak ilmuwan yang menganggap bahwa prosedur ini bukanlah hal yang etis. Dengan adanya prosedur ini, banyak wanita yang bisa dengan mudah mengangkat rahim mereka apabila mereka tidak ingin memiliki anak. Kemudian, rahim itu akan didonorkan ke wanita-wanita lain yang memiliki masalah infertilitas.

Akan tetapi, banyak juga kaum profesional dalam bidang medis yang mendukung prosedur ini. Dengan adanya transplantasi, wanita yang tidak bisa mengandung karena memiliki masalah pada rahim bisa kembali mendapatkan kesempatan untuk memiliki bayi. Hal ini memberikan harapan baru bagi banyak wanita yang mengalami kondisi infertilitas.

Bagaimana prosedur transplantasi rahim?

Transplantasi rahim dilakukan kepada wanita yang mengalami sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser. Sindrom ini merupakan kondisi saat seorang wanita dilahirkan tanpa rahim. Selain itu, prosedur ini juga bisa dijalankan pada wanita yang pernah mengalami penyakit yang berdampak pada rahim, seperti kanker serviks.

Pada beberapa percobaan pertama, donor rahim diberikan oleh pasien wanita yang telah meninggal dunia akibat suatu penyakit tertentu. Meski begitu, hingga kini, donor rahim lebih banyak berasal dari wanita yang masih dalam kondisi sehat.

Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan proses transplantasi. Anda mungkin akan diminta untuk menjalankan serangkaian tes selama kurang lebih 4 bulan. Setelahnya, barulah Anda bisa menjalankan operasi transplantasi.

Layaknya prosedur transplantasi lainnya, transplantasi rahim dilakukan melalui operasi di rumah sakit. Biayanya pun tergolong cukup mahal. Karena dilaksanakan dengan metode operasi, penerima donor rentan mengalami resiko pasca operasi.

Waktu operasi juga memakan waktu yang cukup panjang. Umumnya, operasi transplantasi ini akan memakan waktu selama lebih dari 10 jam. Lamanya waktu operasi dipengaruhi oleh upaya dokter untuk menyambungkan rahim dengan pembuluh darah, ligamen, serta saluran vagina penerima donor.

Siapa saja yang bisa menerima transplantasi rahim?

Tidak semua wanita memiliki peluang yang sama untuk menjalankan prosedur transplantasi rahim. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan sebelum mendaftar sebagai penerima donor rahim. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  • Wanita dengan kondisi infertilitas akibat faktor rahim
  • Berada pada rentang usia 20-35 tahun dengan ovarium yang masih berfungsi
  • BMI kurang dari 30
  • Bebas dari kanker selama minimal 5 tahun sebelum menerima donor
  • Tidak merokok
  • Tidak memiliki riwayat penyakit diabetes
  • Terbukti negatif penyakit HIV, penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C, klamidia, gonore, serta herpes

Tidak hanya itu, donor rahim juga tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Pendonor harus memenuhi persyarata untuk bisa melakukan donor rahim. Persyarat berupa:

  • Berusia 30-50 tahun
  • Bebas kanker selama lima tahun terakhir
  • BMI kurang dari 30
  • Terbukti negatif penyakit HIV, hepatitis, gonore, klamidia, dan herpes
  • Tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes

Tidak semua rumah sakit dan klinik melayani prosedur transplantasi rahim. Karena metodenya yang kontroversial dan masih dalam tahap percobaan, prosedur transplantasi rahim tidak bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia.