Mengenal Ragam Cara Memerah ASI dengan Tangan yang Baik dan Benar, Seperti Apa?
Bayi & Menyusui

Mengenal Ragam Cara Memerah ASI dengan Tangan yang Baik dan Benar, Seperti Apa?

Bagi ibu yang menyusui, penting untuk memastikan ASI bisa dikeluarkan dan tersalurkan dengan baik pada bayi. Terkadang, Anda perlu memompa payudara Anda agar ASI bisa dikeluarkan sepenuhnya. Tapi, supaya tidak menimbulkan efek negatif, Anda harus tahu cara memerah ASI dengan tangan yang benar.

Memerah ASI tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Apabila Anda tidak memperhatikan teknik yang digunakan, maka ASI bisa saja menjadi kurang sehat untuk bayi Anda. 

Bagaimana cara memerah ASI dengan tangan?

Memompa ASI dengan tangan adalah salah satu cara yang paling sering dilakukan. Anda bisa memerah ASI dengan tangan Anda melalui cara-cara berikut: 

  • Membersihkan tangan dan payudara

Pertama-tama, sebelum mulai memerah ASI, pastikan kondisi kulit tangan dan sekitar payudara Anda sudah bersih. Cuci tangan dan payudara dengan air bersih menggunakan sabun.

Hal ini dilakukan guna mengangkat kotoran, kuman, dan bakteri yang menempel di kulit Anda. Apabila tidak dibersihkan, bisa-bisa ASI terkontaminasi dengan kuman dan bakteri di kulit tangan atau payudara Anda.

Oleh sebab itu, langkah pertama dalam cara memerah ASI dengan tangan adalah memastikan tangan Anda dalam keadaan bersih. 

  • Pijat payudara

Sebelum memerah, cobalah untuk memijat payudara Anda terlebih dahulu. Gerakan pijat bisa dilakukan dengan gerakan memutar, seolah-olah sedang membentuk lingkarang di sekitar payudara Anda. 

Usap payudara dari tepi paling luar ke arah puting. Pastikan sentuhan ketika memijat cukup ringan agar tubuh Anda menjadi rileks. 

Sambil memijat, coba bayangkan susu yang  mengalir atau melihat foto bayi Anda. Ini bisa membantu menstimulasi keluarnya ASI ketika diperah. 

  • Memerah kedua payudara

Sebaiknya, jangan memerah hanya satu payudara saja. Cara memerah ASI dengan tangan yang baik adalah berfokus pada keseimbangan produksi ASI di kedua payudara. 

Pegang payudara dengan jari tangan yang membentuk huruf ‘C’. Jari-jari tangan harus dekat ke area puting, tapi jangan sampai menyentuh areola, yaitu lingkaran di sekitar puting. 

Condongkan posisi tubuh Anda ke depan, kemudian biarkan payudara menjuntai ke bawah. Di bawah posisi payudara, letakkan wadah yang akan digunakan untuk menampung ASI. 

  • Menyimpan ASI di wadah yang tepat

Setelah Anda memerah ASI, langsung tempatkan ASI pada wadah. Pastikan wadah yang digunakan tidak menimbulkan efek berbahaya bagi bayi.

Apabila Anda menggunakan wadah botol berbahan plastik, pastikan wadah tersebut memiliki label BPA free. Anda juga bisa menggunakan wadah berbahan kaca jika ingin lebih aman.

Pastikan tutup botol wadah ASI baik dan kencang. Ini penting untuk menjaga kualitas ASI saat disimpan. Jangan gunakan tutup berbentuk dot untuk menyimpan ASI. 

Mengapa perlu memerah ASI dengan tangan?

Terkadang, adanya ASI pada payudara bisa membuat payudara sang ibu membengkak. Oleh sebab itu, ASI perlu dikeluarkan dan disimpan ke wadah khusus untuk kemudian diberikan kepada bayi di lain waktu. 

Ini juga membantu Anda agar bisa memberikan ASI pada bayi dalam jangka waktu yang lebih lama. Karena, ASI tidak akan terus menerus diproduksi oleh tubuh Anda di masa menyusui.

Dalam beberapa kasus, ASI bisa saja berhenti diproduksi hanya dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah bayi dilahirkan. Padahal, semakin lama bayi mendapatkan asupan ASI, akan semakin baik.

Oleh sebab itu, di sinilah pentingnya mengetahui cara memerah ASI dengan tangan yang baik. ASI yang diperah bisa disimpan agar bertahan lebih lama.

Folikulitis: Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi
Bayi & Menyusui

Folikulitis: Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi

Bintik merah pada kulit bayi merupakan masalah yang kerap terjadi. Pada umumnya, bintik merah pada kulit bayi sebetulnya tidak berbahaya. Tetapi ada beberapa kasus bintik merah pada kulit bayi dapat menjadi penanda terjadinya penyakit serius seperti campak dan meningitis. Ada banyak penyebab bintik merah pada kulit bayi, salah satunya adalah folikulitis.

Pengertian Folikulitis

Folikulitis adalah suatu kondisi kulit di mana folikel rambut (kantong kecil yang merupakan tempat tumbuhnya rambut) meradang. Folikulitis dapat menimbulkan gatal atau nyeri dan bisa disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. 

Folikulitis paling sering terjadi pada bagian tubuh yang mengalami gesekan, seperti kulit wajah, kulit kepala, punggung, dan paha. Gesekan pada kulit bayi yang disebabkan oleh pakaian, pencukuran, dan zat seperti keringat, minyak, dan kosmetik dapat menghalangi dan mengiritasi folikel, sehingga bakteri yang biasanya berada di kulit, seperti Staphylococcus, dapat masuk ke dalam folikel rambut dan menyebabkan infeksi. Setelah terinfeksi, folikel tampak seperti jerawat merah dengan rambut di tengahnya.

Risiko Terkena Folikulitis

Bayi bisa terkena risiko folikulitis jika:

  • Mengenakan pakaian yang ketat atau terlalu ketat
  • Sedang mengonsumsi atau menggunakan antibiotik atau obat steroid untuk jangka waktu yang lama
  • Memiliki ketahanan tubuh atau sistem imunitas yang lemah karena penyakit seperti AIDS, leukimia, diabetes atau kondisi kesehatan lainnya
  • Memiliki luka yang sudah terinfeksi atau mengalami sayatan karena tindakan pembedahan.
  • Memiliki kondisi kulit tertentu seperti eksim atau jerawat.

Tanda dan Gejala Folikulitis

Folikulitis yang menyebabkan bintik merah pada kulit bayi biasanya terjadi pada kepala, wajah, pantat, tangan dan kaki.

Folikulitis berbentuk benjolan berisi nanah (pustula) yang berpusat pada folikel rambut. Pustula ini bisa ditembus oleh rambut yang tumbuh, dan seringkali dikelilingi oleh kulit yang meradang berwarna merah jambu hingga merah. 

Folikulitis yang ringan dan sedang biasanya nyeri saat ditekan atau terasa gatal. Sedangkan folikulitis yang parah dapat memengaruhi seluruh folikel rambut sehingga efeknya lebih menyakitkan.

Folikulitis ringan dan sedang bisa hilang secara cepat dengan pengobatan dan tidak meninggalkan bekas luka. Tapi, folikulitis yang parah akan menyebabkan komplikasi yang lebih seriys seperti infeksi pada jaringan kulit yang lebih dalam (selulitis), jaringan parut dan rambut menjadi rontok permanen.

Cara Mencegah dan Mengobati Folikulitis Penyebab Bintik Merah pada Kulit Bayi

Untuk mencegah folikulitis pada kulit bayi, Anda bisa membantu anak dengan melakukan hal berikut ini:

  • Menghindari pakaian ketat, terutama ketika sedang berolahraga.
  • Segera mencuci pakaian yang digunakan setelah berolahraga.

Untuk mencoba menghilangkan folikulitis ringan, Anda bisa melakukan hal sebagai berikut:

  • Menggunakan sabun antibakteri.
  • Mengoleskan kompres panas dan lembap ke area yang terkena.
  • Cobalah untuk menggunakan losion kortikosteroid (kortison) yang dijual bebas untuk membantu menenangkan kulit yang teriritasi atau gatal.
  • Segera cuci handuk, waslap, dan seprai dan sesering mungkin.
  • Biasakan untuk mengenakan pakaian yang longgar kepada bayi.

Kapan Mencari Perawatan Medis

Anda harus segera berkonsultasi kepada dokter ketika anak Anda tidak segera sembuh dari gejala bintik merah pada kulit bayi dalam waktu 2-3 hari. Jika gejala terus kembali atau jika infeksi menyebar ke area yang lebih luas di tempat lain di tubuh bayi, Anda juga harus melaporkan ke dokter agar bayi Anda segera mendapatkan pengobatan dan penanganan yang cepat dan tepat.

Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?
Bayi & Menyusui

Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi, Apa Harus Khawatir?

Sebagian besar bayi sudah menumbuhkan gigi pertama mereka di usia 4 bulan. Namun, bagaimana jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi?

Perkembangan setiap bayi berbeda-beda. Bayi dalam perkembangan lambat mungkin baru menumbuhkan gigi pertama di usia 7 bulan.

Bahkan ada beberapa kasus bayi belum tumbuh gigi hingga usia 8 bulan, padahal perkembangan lainnya tampak signifikan.

Wajar jika Anda merasa khawatir sebagai orang tua, tapi sebenarnya kondisi bayi 8 bulan belum tumbuh gigi ini tidak terlalu serius.

Tidak ada gigi di usia 8 bulan, haruskah khawatir?

Singkatnya, Anda tidak perlu khawatir. Usia bayi menumbuhkan gigi pertamanya begitu beragam, setiap kasus berbeda-beda.

Seperti yang disebutkan di atas, mayoritas bayi menumbuhkan gigi pertamanya di rentang usia 4-7 bulan. Namun, tetap ada kondisi ekstrem yang harus Anda perhatikan.

Contohnya, ada bayi yang langsung memiliki gigi ketika terlahir. Ada pula yang belum juga menumbuhkan gigi sampai ulang tahun pertama.

Jika bayi Anda belum tumbuh gigi di usia 8 bulan, kemungkinan besar pertumbuhan mereka sedikit terlambat.

Meski begitu, pada akhirnya gigi tersebut akan tumbuh. Jadi Anda tidak perlu khawatir.

Kapan harus mulai khawatir?

Anda tidak perlu khawatir jika gigi si kecil belum juga tumbuh di usia 8 bulan. Namun, ada batasan tertentu yang harus Anda perhatikan.

Segera temui dokter jika gigi si kecil belum tumbuh hingga usia 18 bulan. Memang setiap bayi berbeda-beda, bahkan ada yang baru menumbuhkan gigi pertama di usia 15 bulan. 

Namun, lebih dari itu bisa dianggap abnormal. Sebagian besar bayi sudah memiliki minimal 4 gigi di usia 11 bulan dan mencapai 12 gigi di usia 19 bulan.

Tanda-tanda dan gejala tumbuh gigi

Tanda-tanda yang ditunjukkan setiap bayi berbeda-beda. Namun, secara umum ada beberapa gejala dan pertanda tumbuh gigi seperti:

  • Gusi bengkak dan melunak
  • Rewel dan menangis
  • Suhu badan sedikit meningkat
  • Ingin mengunyah benda-benda alot
  • Air liur melimpah
  • Batu-batuk
  • Menggosok pipi dan menarik telinga
  • Mendekatkan tangan ke mulut
  • Perubahan pola makan atau tidur

Tumbuh gigi bisa menyakitkan, tapi umumnya si bayi tidak sampai sakit parah. Segera hubungi dokter jika muncul penyakit lain seperti diare, muntah-muntah, ruam, demam tinggi, atau batuk.

Anda juga harus segera menemui dokter jika melihat gusi bayi berdarah atau ada pembengkakan wajah berlebihan.

Urutan tumbuh gigi

Urutan dan waktu tumbuh gigi setiap bayi berbeda dan mungkin dipengaruhi oleh riwayat keluarga. Namun, pada umumnya dua gigi seri bagian bawah tumbuh terlebih dahulu, diikuti oleh dua gigi seri bagian atas.

Setelahnya diikuti oleh gigi seri lainnya, gigi taring, baru gigi geraham depan. Geraham belakang adalah gigi yang terakhir tumbuh.

Pada akhirnya, bayi akan memiliki 20 gigi susu, biasanya di usia 3 tahun.

Catatan

Demikian informasi mengenai proses pertumbuhan gigi bayi delapan bulan. Perlu diingat, kecepatan perkembangan setiap bayi berbeda-beda.

Anda tidak perlu khawatir jika bayi 8 bulan belum tumbuh gigi. Tentu, ada beberapa batasan yang juga perlu Anda perhatikan.

Penyakit

Progeria, Kelainan Genetik yang Membuat Anak Tampak Lebih Tua

Salah satu kondisi genetik langka yang membuat anak tampak lebih tua dari usianya adalah progeria. Kelainan genetik ini juga disebut sindrom Hutchinson-Gilford (HGPS) terjadi dengan perbandingan satu dari empat juta kelahiran di seluruh dunia.

Apa Itu Progeria?

Progeria adalah kelainan genetik yang menyebabkan tubuh anak mengalami penuaan dengan cepat. Anak dengan kelainan progeria umumnya terlihat normal saat lahir dan kondisi ini dimulai pada dua tahun pertama setelah lahir.

Bagi sebagian besar anak dengan progeria, akan bertahan hidup hingga usia 13 tahun. Namun ada beberapa diantaranya yang bertahan hidup lebih lama hingga 20 tahun keatas atau bahkan ada juga yang meninggal sebelum usia 13 tahun.

Kondisi progeria disebabkan karena adanya mutasi gen yang disebut Lamin A (LMNA). Saat gen LMNA bermutasi, ia akan menghasilkan progerin yang merupakan bentuk sel protein yang tidak normal. Progerin di tubuh anak dengan progeria akan lebih mudah terurai sehingga membuat penderita mengalami penuaan lebih cepat. Progeria bukanlah suatu kondisi yang diwariskan atau diturunkan oleh orang tua dan keluarga.

Tanda dan Gejala Progeria

Tanda dan gejala anak mengidap progeria umumnya tidak terdeteksi pada awal kelahiran. Kondisi ini akan menunjukkan gejala setelah 1 atau 2 tahun sejak kelahiran. Pertumbuhan dan pertambahan berat anak dengan progeria tidak sama dengan anak dengan kondisi normal. Berikut beberapa tanda fisik yang tampak pada anak dengan progeria:

  • Kepala lebih besar dari ukuran normal
  • Mata besar, bibir tipis, dan hidung runcing
  • Rahang bawah kecil
  • Urat nadi mudah terlihat
  • Pertumbuhan gigi lambat
  • Suara tinggi
  • Lemak dan otot tubuh hilang
  • Kerontokan rambut di badan, termasuk bulu mata dan alis

Selain kelainan fisik, saat bertambah umur anak dengan progeria juga akan menderita penyakit yang umumnya diderita oleh lansia. Beberapa penyakit yang dapat diderita oleh anak dengan progeria adalah:

  • Penyakit jantung
  • Keropos tulang
  • Stroke
  • Pengerasan pembuluh darah
  • Penurunan kemampuan pendengaran
  • Kekakuan pada sendi

Cara Mengobati Progeria

Hingga saat ini, belum ada obat tertentu untuk menyembuhkan progeria. Namun, melalui perawatan yang tepat dapat membantu meringankan gejala progeria. Beberapa perawatan yang dapat dilakukan pada anak dengan progeria adalah sebagai berikut:

  1. Terapi fisik

Saat mengalami sendi kaku atau masalah pada pinggul, anak dengan progeria dapat melakukan terapi fisik. Terapi fisik ini diharapkan dapat membantu anak untuk bergerak dengan nyaman.

  1. Operasi

Jika anak memiliki masalah jantung maka dokter akan menyarankan untuk menjalani operasi bypass koroner atau angioplasti. Operasi ini diharapkan dapat memperlambat perkembangan penyakit jantung pada anak dengan progeria.

  1. Perawatan di Rumah

Anak dengan progeria tentunya membutuhkan penanganan yang berbeda dengan anak dengan kondisi normal. Beberapa gaya hidup di rumah perlu diterapkan untuk membantu penderita beraktivitas dengan baik. Beberapa hal yang dapat membantu perawatan anak dengan progeria adalah seperti:

  • Mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang
  • Gunakan bantalan untuk kaki agar anak dengan progeria merasa lebih nyaman
  • Perhatikan kelembaban kulit anak dengan menggunakan tabir surya saat keluar rumah

Tiap anak dengan progeria belum tentu memiliki kondisi yang sama. Beberapa jenis obat yang sesuai dengan kondisi penderita juga dapat digunakan untuk meringankan gejala yang dialami. Beberapa contoh obat yang diberikan bagi penderita progeria adalah:

  • Aspirin dengan dosis rendah untuk mencegah serangan jantung dan stroke
  • Obat untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah
  • Obat untuk mencegah penggumpalan darah
  • Obat yang dapat menangani sakit kepala atau kejang 

Jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda atau gejala progeria, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anak dan dokter spesialis genetika medis serta menjalani tes darah. Hal ini untuk memastikan kondisi dan hasil pemeriksaan dari kondisi anak Anda.